Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 11 Dunia Perkuliahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Holy, dia akan mengikuti orientasi study dan pengenalan kampus (ospek). Dia berpakaian rapi dengan kemeja putih dan bawahan hitam. Rambut harus dikuncir dengan rapi. Tidak lupa membawa tas yang berisi alat tulis menulis.


Holy berangkat pagi sekali dengan mengendarai motor. Sesampainya di kampus seluruh mahasiswa baru dikumpulkan. Mereka akan mengikuti pengenalan kampus di gedung yang cukup besar.


"Hei mahasiswa baru, kamu sepertinya melupakan sesuatu!" kata salah satu kakak panitia yang sedang duduk di depan pintu masuk gedung.


"Siapa? Saya?" tanya Holy bingung karena banyak mahasiswa baru juga yang sedang lewat.


"Iya kamu, sini dulu," jawab laki-laki itu.


Holy mendekat kepada laki-laki yang terlihat berantakan dengan kancing kemeja bagian atas yang sengaja dibuka. "Seperti preman aja," pikir Holy.


"Kamu lupa pake ini," memberi kartu tanda pengenal yang bertuliskan Panggil Aku Cantik.


"Kenapa aku harus pake itu?" tanya Holy lantang.


Membuat semua yang lewat menengok ke arahnya.


"Sebelum-sebelumnya juga pada pake tanda pengenal ini kok, ayo dipake," kata laki-laki itu dengan memaksa.


"Dia kenapa nggak dipakein?" tanya Holy lagi sambil menunjuk wanita yang lewat di sampingnya.


"Dia kan nggak cantik, kamu yang cantik harus pake ini."


"Aku nggak mau, tanda pengenal yang aneh," ucap Holy dan ingin melangkah pergi. Tapi tangannya ditarik oleh laki-laki itu. Holy serasa tidak bisa melawan lagi.


"Apa-apaan ini?"


Terdengar suara berat seorang laki-laki dari kejauhan.


"Lepaskan tanganmu dari mahasiswa baru itu," ucap laki-laki itu dengan tegas.


"Iyaiya maaf Natan, aku hanya bercanda."


Akhirnya tangan Holy dilepaskan. Laki-laki itu pun disuruh pergi oleh laki-laki yang bernama Natan itu. Tapi sebelum pergi Natan mengambil kartu kepanitiannya.

__ADS_1


Holy penasaran dengan laki-laki yang menolongnya, dia pun menengok ke belakang. Seorang laki-laki tinggi, berpakaian rapi dengan wajah yang menawan membuat Holy sedikit terperangah. "Em, makasi Kak udah bantuin saya," kata Holy salah tingkah.


"Iya sama-sama, maaf ya kalau sudah bikin kekacauan. Dia akan segera dikeluarkan dari kepanitian biar nggak bisa lagi gangguin anak baru," jelas laki-laki bernama Natan itu.


"Iya Kak, mentang-mentang panitia dia pikir dia bisa seenaknya ngatur-ngatur, apalagi menyuruh yang aneh-aneh" jawab Holy yang mengebu-gebu karena masih kesal dengan laki-laki tadi.


"Hahaha, kamu wanita yang cukup berani juga ya... Kalau boleh tau nama kamu siapa?" tanya Natan yang kagum dengan keberanian Holy.


"Nama saya Holy, dari jurusan tata busana, Kak."


"Oh oke, silahkan masuk acaranya sudah hampir mulai," kata Natan dan mempersilakan Holy masuk ke gedung.


***


Selama acara Holy terbayang-bayang wajah laki-laki yang membantunya tadi. Membuat dia kurang konsen mengikuti acara. Holy kebanyakan menunduk dan menggambar pola-pola baju di bukunya.


"Selamat siang semuanya! Masih semangat mengikuti acara pengenalan kampus?" kata MC yang memandu acara. "Sebelum acaranya dilanjutkan, kita akan mengenal panitia-panitia yang membuat acara ini berlangsung dengan baik."


Holy menjadi semangat mendengar kata-kata MC itu. Dia memperhatikan semuanya baik-baik dan mencari wajah laki-laki yang menolongnya tadi.


"Oh my God, ternyata dia ketua panitianya, pantas aja dia gampang banget ngeluarin si pengganggu tadi," kata Holy dalam hati...


"Ganteng ya ketua panitianya, udah punya pacar belum ya? hihi..." tanya wanita bernama Rere kepada Holy. Mereka berdua baru saja berkenalan karena duduk bersebelahan.


"Mana ku tau, coba aja tanya sendiri! Nanti kalau udah tau jawabannya jangan lupa kasih tau aku juga," kata Holy sambil cekikikan.


"Yah enak di kamunya dong, huu," gerutu Rere.


Holy hanya tertawa melihat Rere yang cemberut, tapi akhirnya Rere pun ikut tertawa. Dan mereka pun tertawa bersama.


Holy dan Rere menjadi dekat, mereka selalu pergi ke mana-mana berdua. Rere adalah mahasiswa yang merantau dari kota kecil dan tinggal ngekos untuk berkuliah di kota itu. Rere sangat senang berkenalan dengan Holy yang merupakan warga asli kota itu sehingga dia bisa bertanya-tanya tentang hal-hal yang dia belum tau.


***


Holy pulang ke rumah dengan wajah kelelahan. Dia mandi dan makan malam lalu langsung bersiap tidur. Dia tidak ingin terlambat besok dan harus bersiap lebih pagi untuk mengikuti hari terakhir ospek.

__ADS_1


Di hari terakhir ospek, panitia dan mahasiswa baru diberi waktu untuk saling bersalam-salaman dan berkenalan. Holy dan Rere menargetkan pandangan mereka ke ketua panitia. Mereka bersiap untuk menyapa dan bersalaman.


"Eh halo, Holy!" ternyata Natan yang terlebih dulu menyapa Holy. "Bagaimana pendapatmu tentang ospek ini? Apakah menyenangkan?"


"I...i...ya menyenangkan banget," kata Holy sedikit terbata.


"Halo Kak Natan aku Rere teman Holy, kami sama-sama jurusan tata busana," sapa Rere dan memperkenalkan diri.


"Halo Rere," sapa Natan balik dan mereka bersalaman.


"Kak Natan boleh minta nomer WA-nya nggak?" tanya Rere antusias.


Holy tercengang melihat temannya yang nggak ada malunya itu.


"Hah untuk apa?" tanya Natan kaget.


"Gini loh Kak, kami kan anak baru di sini jadi masih banyak yang belum kami tau. Mungkin kalau punya nomor Kakak kami bisa tanya-tanya. Kakak kan pasti banyak tau tentang kampus ini," jelas Rere yang bisa diterima oleh Natan.


"Oke nggakpapa, boleh pinjem HP-mu," kata Natan dan mengetik nomor WA-nya di HP Rere.


"Makasi Kak Natan," kata Rere senang.


"Sama-sama Rere, Holy juga kalau mau tanya-tanya juga boleh," kata Natan dan memberikan senyum manisnya ke kedua wanita itu.


Holy dan Rere seperti meleleh melihat senyum Natan yang manis itu.


Ternyata Rere tidak hanya meminta nomor WA dari Natan saja, tetapi juga beberapa panitia cowok yang menurutnya baik dan tampan. Holy yang selalu berada di sampingnya sangat bangga dengan keberanian temannya itu, walaupun dia juga harus bisa menahan malunya.


***


Dunia perkuliahan Holy dimulai dengan penuh semangat. Dia mengikuti dan menikmati proses belajar-mengajar di kelas. Dan saat di kelas dia selalu duduk berdekatan dengan Rere. Rere juga adalah wanita yang semangat sehingga mereka saling memberikan aura positif.


Holy semakin jatuh cinta dengan fashion dia semakin sering mencari referensi mode-mode pakaian masa kini. Dari majalah nasional sampai internasional. Dipermudah lagi dengan tantenya yang sering membantu mencarikan referensi mode yang sedang banyak diminati pelanggan.


Holy menjadi sedikit melupakan Artyo sahabatnya. Dia sudah jarang memberi kabar ke Artyo. Artyo pun sepertinya sibuk dengan perkuliahannya. Walaupun rumah mereka berdekatan tetapi mereka jarang berpapasan dan saling menghampiri.

__ADS_1


__ADS_2