
Hari ini Artyo bangun pagi dengan tidak begitu segar karena tidak seperti biasa dia tidur pukul sebelas malam. Dia sebenarnya masih ingin tidur lebih lama, tapi dia teringat punya janji bersama Holy. Karena mengingat itu, akhirnya dia pun bangun dan segera mandi.
Setelah mandi dia berkaca, kemuadian memakai kaos polos warna hijau army kesukaannya dan celana selutut, serta tidak lupa menyemprotkan minyak wangi andalannya. Rencananya dia dan Holy akan melanjutkan misi mereka ke pantai.
Saat Artyo sedang akan menyiapkan mobilnya, ibunya menghampirinya.
"Nak, HP-mu di mana?" tanya ibunya tiba-tiba.
"Ada di kamar, ada apa Bu?" tanya Artyo lagi dengan bingung.
"Ibu dapat pesan dari mamanya Luna, katanya Luna mengirim pesan ke kamu tapi nggak kamu baca-baca," jawab ibunya.
"Emangnya dia ngirim pesan apa?"
"Katanya Luna minta ditemani buat nyari apartemen. Coba kamu cek sendiri di HP-mu," kata Ibu Artyo yang mulai gemas karena anaknya terlihat biasa saja, bukannya langsung mencari HP-nya.
"Ah gamau Bu, aku masih ada janji sama Holy kemarin udah nggak jadi," keluh Artyo.
"Kasian lho Luna besok dia udah mau ditinggal sama papa mamanya, dan dia harus segera nyari apartemen hari ini."
Artyo bingung, masa dia harus membatalkan janjinya lagi sama Holy. Tapi dia juga kasian kepada Luna yang akan ditinggalkan papa mamanya.
"Tapi ini terakhir kalinya ya Bu aku nemenin Luna, karena janji sama Holy juga penting," kata Artyo dengan nada yang sedikit tegas.
"Iya, kalau Luna sudah nemu apartemen pasti sudah aman," kata ibunya meyakinkan Artyo.
"Baiklah Bu, tolong kabarin ke mamanya Luna kalau aku akan menjemput Luna sekarang," kata Artyo lalu menuju ke kamarnya untuk mengambil HP dan dompetnya. Kemudian dia segera berangkat mengendarai mobilnya menuju hotel.
__ADS_1
***
Luna dengan baju bunga-bunga tidak mempan menarik perhatian Artyo. Artyo masih saja terlihat cuek kepadanya.
"Artyo aku pengen punya apartemen yang deket sama rumah kamu, biar aku gampang minta bantuan sama kamu, boleh ya?" kata Luna dengan menghadapakan wajahnya yang sedikit memelas.
"Ya boleh-boleh aja sih, tapi jangan keseringan minta bantuannya. Aku juga punya kesibukan sendiri," jawab Artyo tanpa sedikitpun melirik Luna, dia fokus ke jalan.
"Iya nggak bakal sering-sering kok," ucap Luna lalu dia diam sejenak. "Emang kesibukan kamu apa? Kamu udah kerja ya? Atau kamu ikut les-les gitu?" tanya Luna bertubi-tubi.
"Ada deh, kamu nggak perlu tau. Oiya aku punya saran apartemen yang bagus, lumayan deket sama rumah. Nanti kamu liat dulu cocok apa enggaknya," jawab Artyo dan mengalihkan pembicaraan mereka.
Ternyata apartemen yang disarankan Artyo sudah penuh. Mereka pun menuju tempat kedua, yang ternyata arahnya melewati rumah Holy. Artyo penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Holy, dia pun memperlambat mobilnya dan menengokkan kepalanya. Ternyata Holy sedang menjaga kasir, dengan baju Hello Kitty dan wajah yang cemberut membuat Artyo senyum-senyum sendiri.
Walaupun dia bahagia bisa melihat Holy, tapi hatinya merasa bersalah karena sudah membatalkan janji mereka untuk kedua kalinya. Luna yang melihat Artyo senyum-senyum sendiri merasa heran karena itu pertama kalinya dia melihat Artyo tersenyum dengan sangat lebar. "Dia terlihat semakin tampan," kata Luna dalam hati.
***
Luna pun segera mengambil apartemen itu karena merasa sudah sangat cocok. Setelah mengurus persyaratan-persyaratan yang diperlukan Luna pun mendapatkan kunci kamarnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan Luna akan memberitahu papa mamanya.
Di perjalanan pulang Artyo mengajak Luna untuk makan dulu di warung mi ayam "Yumyum" milik keluarga Holy. Luna pun mengiyakan karena dia juga suka makan mi, tetapi setelah sampai di warungnya dia terkejut karena dia pikir tempatnya akan seperti restoran.
"Yakin ini tempatnya?" tanya Luna dengan wajah ragu.
"Iya ini warung mi ayamnya, enak kok tenang aja. Aku sering makan di sini dan aku kenal sama yang punya warung," kata Artyo sambil turun dari mobil dan Luna pun mau tidak mau harus ikut turun.
Holy sangat senang melihat mobil Artyo parkir di depan warungnya. Dia melihat Artyo keluar dari mobil, tapi seketika hatinya terasa hancur berkeping-keping saat melihat seorang wanita cantik juga keluar dari mobil itu. Holy yang awalnya ingin menyambut Artyo dengan ceria berubah menjadi ingin mengusirnya.
__ADS_1
"Oh jadi ini anaknya temen ayahmu?" kata Holy saat Artyo datang mendekatinya.
"Iya Ly, ini kenalin namanya Luna, Luna ini temenku namanya Holy," kata Artyo dan mereka berdua pun bersalaman dengan senyum seadanya.
"Oh iya silahkan duduk," kata Holy dengan mencoba ramah, bagaimanapun mereka adalah pelanggan. Dan pelanggan adalah raja.
"Duduk di sana Lun," suruh Artyo tetapi dia masih berdiri di depan Holy. "Maaf ya Ly, harusnya hari ini kita pergi ke pantai untuk menjalankan misi kita, tapi mau gimana lagi aku nggak bisa menolak dan aku harus menemani Luna mencari apartemen," kata Artyo menjelaskan.
"Hm gapapa, dia juga cantik kok pasti kamu lebih betah sama dia," kata Holy yang tidak bisa menahan rasa kecawanya dan rasa irinya melihat Artyo bersama wanita lain.
"Hahaha... ini nggak ada hubungannya dengan dia cantik atau enggak. Yang pasti besok kita harus pergi ya karena tinggal dua hari lagi." kata Artyo dan dia langsung pergi ke meja makan karena mi ayamnya sudah datang.
"Makasih ya Bu," ucapnya kepada Ibu Holy yang membawakan mi ayamnya.
Holy hanya terdiam dan menahan sakit hatinya, nampaknya Artyo tidak peka terhadap perasaannya. Nampaknya dia sama Artyo memang tidak bisa menjadi lebih dari teman, seperti khayalan yang kadang muncul dalam pikiran Holy. Holy hanya bisa menatap ke arah Artyo dan Luna yang sedang makan. "Mereka terlihat cocok," pikir Holy.
"Enggak enggak dia jelek kok mana cocok sama wanita cantik itu," kata Holy untuk mengelak pikirannya sendiri.
"Ada apa nak? Tiba-tiba ngomong sendiri?" tanya ayahnya.
"Eh hehehe, nggak ada apa-apa yah. Hanya belajar acting," jawab Holy mencari alasan.
"Anak ayah ini ada-ada saja, itu lho di depanmu ada yang mau bayar dari tadi, kamu malah ngelamun dan ngomong sendiri!"
"Iya nih dari tadi saya panggil-panggil tapi nggak denger," kata pelanggan wanita yang sudah dari tadi berdiri di depan Holy.
"Waduh maaf, saya nggak dengar atau mungkin suara kakaknya yang kekecilan," kata Holy membela diri.
__ADS_1
Setelah menerima uangnya Holy kembali melamun...