
Setelah diem-dieman beberapa menit akhirnya Holy yang sudah kelaparan mengajak Natan untuk ke kantin.
Sesampainya di kantin mereka berdua makan dengan lahap, ternyata bukan hanya Holy yang kelaparan tetapi Natan juga. Sejak tadi perut mereka berdua sudah menangis minta diisi.
"Natan kamu nggak boleh cemburu sama Artyo karena dia sahabatku dari TK. Aku juga sering minta bantuan dia," kata Holy yang telah menghabiskan makanannya.
"Iya aku tau dia sahabat kamu, tapi aku sebagai pacarmu merasa kalau Artyo itu suka sama kamu," kata Natan pelan sambil mengisap rokok yang baru saja dia nyalakan.
Holy menatap Natan dengan tatapan heran, "Apa sih yang dipikirkan Natan? Mana ada Artyo suka sama aku, yang ada aku yang suka sama dia. Tapi karena aku sadar perlakuan Artyo selalu sama dari dulu hingga sekarang maka aku mengambil kesimpulan bahwa sahabatan sama Artyo sudah cukup menyenangkan."
"Ehem, ditanggapi dong malah diem aja," Natan mengagetkan lamunan Holy.
"Eh iya aku pikir aku sudah ngomong, hehehe" jawab Holy mencari alasan. "Jadi gini Natan, kamu nggak perlu cemburu sama Artyo. Aku kan sayangnya sama kamu dan Artyo hanya aku anggap sahabat. Toh selama ini aku udah jarang ketemu Artyo, karena aku selalu ke mana-mana sama kamu."
"Baiklah sayang aku percaya. Dan aku nggak bakal ngelarang kamu buat ketemu sama Artyo, asal aku ikut," ucap Natan diikuti dengan tertawanya yang ngebass.
"Huuu ada-ada aja," sahut Holy.
Natan merangkul Holy dengan gemas. Holy hanya tersenyum sambil menahan diri untuk tidak berkomentar tentang bau rokok Natan. Dia sudah terlalu sering berkomentar, tetapi Natan tetap saja tidak bisa mengontrol untuk tidak merokok di sampingnya.
***
Artyo menghela napas panjang, menatap buku-buku yang berserakan di hadapannya dan sebuah HP yang tidak lepas dari pandangannya. Dia berharap sebuah pesan muncul di HP-nya.
Hari ini Artyo memberanikan diri untuk mengajak Holy ke Kedai Ice Cream kesukaan mereka. Ada hal yang ingin sekali dia katakan ke Holy. Dia sudah tidak sabar melihat reaksi Holy ketika dia mengatakannya nanti. Dan Artyo sudah cukup mempersiapkan mentalnya untuk mengatakan itu kepada Holy.
Selama hampir lima bulan dia hanya menyibukkan diri dengan kegiatan kampus dan tugas-tugas kuliahnya. Dia berusaha untuk tidak menggangu Holy, karena dulu waktu awal-awal hubungan Holy dan Natan dia pernah mengajak Holy untuk nonton di bioskop. Tapi bukannya mengiyakan, Holy malah memberi saran Artyo untuk mengajak Luna, karena dia sudah ada janji sama Natan.
Saat itu Artyo merasa mulai terabaikan sebagai sahabat, tapi dia tidak menyerah. Dia kemudian berkunjung ke rumah Holy untuk melepas kepenatan dan sekadar ingin mengobrol. Tapi yang dilakukan Holy malah meninggalkannya dan pergi bersama Natan yang sudah menjemputnya menggunakan mobil keren. Akhirnya dia hanya bisa ngobrol sama ayah ibu Holy dan juga Sesy.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Artyo menjadi lebih sering menunggu pesan dari Holy daripada menghubunginya duluan. Pesan yang hanya dia dapati ketika Holy sedang butuh bantuan untuk menjawab tugas-tugas berbahasa Inggris-nya.
- Holy kamu yakin nggak mau pergi sama aku hari ini?
Artyo kembali mengirim pesan karena belum ada tanggapan juga dari Holy.
- Maaf Artyo, hari ini aku harus nemenin Natan.
Jawaban Holy yang singkat membuat Artyo menjadi kesal.
- Holy kamu masih nganggep aku sahabat nggak sih?
- Kanapa nanya seperti itu Artyo? Kamu masih jadi sahabat terbaikku.
- Kalau kamu masih menganggap aku sahabat terbaikmu, bisa nggak kamu beri sedikit waktu terbaikmu untuk bertemu denganku? Kamu sadar nggak sih semenjak kamu pacaran dengan kakak tingkat yang katamu ganteng itu kita udah nggak pernah punya waktu berdua lagi? Kamu inget aku ketika butuh bantuan doang.
Artyo berusaha menyadarkan Holy.
- Sesibuk-sibuknya aku, aku selalu menyediakan waktu untuk kita berdua bertemu, Ly. Dan kamu nggak usah lagi bawa-bawa nama Luna untuk menghindar ya, dia nggak mungkin jadi alasanku untuk nggak ketemu kamu.
Saat membaca pesan itu, mata Holy menjadi panas dan pipinya mulai terasa hangat. Air matanya tiba-tiba saja menetes. Kata-kata Artyo menyadarkannya bahwa selama ini dia memang terlalu sibuk dengan Natan dan kuliahnya. Sehingga dia melupakan sahabatnya.
- Artyo aku sangat sangat menyesal, baiklah aku akan batalin janjiku sama Natan. Dan nanti aku yang datang ke rumahmu sebagai permintaan maafku.
- Okey Holy aku tunggu kedatanganmu.
***
Holy sedang memikirkan alasan yang tepat untuk membatalkan janjinya dengan Natan. Dia takut jika harus jujur mengatakan kalau dia ingin bertemu Artyo. Akhirnya Holy menemukan alasan yaitu dia akan mengatakan kalau Sesy sedang sakit sehingga harus diperiksa di rumah sakit.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang dia akan mengirimkan pesan itu, tapi tiba-tiba Natan malah lebih dulu membatalkan janji mereka.
- Sayang malam ini kita nggak ketemu dulu ya, soalnya aku harus rapat bareng temen-temen untuk membahas tentang konser sefakultas. Nggakpapa kan?
Membaca pesan itu Holy pun menjadi senang karena dia nggak perlu berbohong.
- Oke sayang nggakpapa, semangat ya rapatnya. (pake emot love biar manis)
Holy pun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah Artyo. Karena semakin cepat dia bersiap maka semakin cepat juga dia melihat wajah Artyo.
Setelah mandi dan sedikit berdandan Holy pun segera berangkat ke rumah Artyo dengan berjalan kaki.
"Halo tante apa kabar?" sapa Holy kepada Ibu Artyo.
"Eh Holy tumben lagi muncul di rumah tante, kirain udah lupa jalan ke sini," kata ibu Artyo berbasa basi.
"Tante bisa aja, aku nggak mungkin lupa jalan ke sini sambil tutup mata pun aku masih bisa sampai, hahaha. Hanya akhir-akhir ini terlalu disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, Tante. Makanya jarang main ke sini. Oiya Artyo di mana Tante?"
"Ada tuh di kamar, masuk aja!" ibu Artyo mempersilakan masuk.
"Bisa dipanggilin nggak tante? Aku nunggu di teras aja."
"Waduh kayak orang asing aja, sana masuk."
Holy pun masuk ke rumah Artyo dan mengetuk pintu kamarnya perlahan. Cukup lama Holy mengetuk tapi tidak dibukakan juga. Akhirnya dia pun menyerah dan langsung membuka pintu kamar Artyo.
Holy terkejut ketika melihat kamar Artyo yang berantakan, dengan buku-buku tebal di mana-mana. Ternyata Artyo sedang tidur. Holy pun berniat merapikan sedikit buku-buku yang berserakan agar dia punya tempat untuk duduk.
Holy tidak ingin membangunkan Artyo yang terlihat sedang tertidur pulas. Dia hanya memperhatikan foto yang dipajang di kamar itu, foto dia dan Artyo saat sedang berada di tempat wisata. "Sepertinya baru kemarin dia menemaniku survei untuk menentukan jurusan," pikir Holy ketika melihat foto itu.
__ADS_1
Saat sedang asik memperhatikan kamar Artyo, Holy dibuat penasaran dengan selembar kertas di atas tempat tidur Artyo yang terlihat seperti surat.