
Hari-hari terberat dirasakan Holy dan keluarganya. Ibu tidak bisa membuka warung mi ayam sendirian tanpa ayah. Sesy yang sangat dekat dengan ayah lebih sering menyendiri di kamar. Holy pun sering melamun saat di rumah ataupun di kampus.
Holy masih sering mengingat kebiasaan ayahnya, yang setiap hari selalu semangat membuka warung mi ayam dan setiap malam selalu mengajak anak-anaknya untuk makan bersama. Makan bersama di meja makan sudah menjadi tradisi di keluarga mereka.
Dia bersyukur keluarga besar mereka banyak membantu untuk mendukung ekonomi keluarga mereka yang terpuruk karena belum bisa membuka warung. Heidy yang sudah bekerja juga tidak bisa membantu banyak untuk ibu dan adik-adiknya, karena dia yang sedang mempersiapkan persalinannya.
Holy kadang ingin berhenti kuliah dan membantu ibunya di rumah untuk melanjutkan usaha warung mi ayam mereka, tapi ibunya selalu melarang dan berharap Holy dapat segera menyelesaikan kuliahnya.
Masih butuh dua tahun lagi untuk dia menyelesaikan kuliahnya. Rere sebagai sahabatnya semakin dekat dengan Holy dia tidak ingin sahabatnya putus asa dan memilih berhenti kuliah. Rere menyemangati Holy untuk mengikuti lomba-lomba dan event yang bisa menambah uang jajannya dan mungkin saja bisa membantunya membayar kuliah.
Rere jadi lebih sering berkunjung ke rumah Holy, kadang jika Holy mengizinkan Rere akan tidur dan menginap di kamar Holy. Kedatangan Rere membawa keceriaan di keluarga Holy, karena sikap Rere yang supel dan gampang bergaul membuat dia sangat dekat dengan ibu dan Sesy.
Perlahan Ibu, Holy, dan Sesy menjadi lebih ceria di rumah dan lebih menikmati hari-hari, kerena mereka sudah mengiklaskan kepergian ayahnya.
Artyo yang berjanji akan selalu ada, juga menjadi salah satu sumber semangat Holy. Artyo tidak pernah absen untuk menyemangati Holy dan tidak pernah bosan untuk mengirimkan kata-kata yang menyejukkan hati.
Terkadang Holy mendapatkan paket yang dari Ibu Artyo yang ternyata adalah hadiah dari Artyo. Artyo yang belum bisa pulang ke Indonesia, hanya sering mengirimkan paket untuk keluarganya dan juga untuk Holy. Artyo pernah memberikan cokelat, sepatu, dan dress yang cantik untuk Holy.
***
Holy beberapa kali memenangkan lomba desain, tanpa meninggalkan tugas-tugas kuliahnya dia bisa tetap aktif di komunitasnya. Sampai tahun terakhir kuliahnya saat dia harus menyusun skripsi, dia masih sering mewakili komunitasnya untuk mengikuti lomba dan event fashion show.
Desain Holy mulai dikenal oleh banyak kalangan pecinta fashion, dan dengan bermodalkan desain serta mesin jahit yang diberikan tantenya Holy menerima beberapa pesanan jahitan. Desain yang original dan jahitan yang rapi serta autentik membuat hasil jahitan Holy dibayar cukup mahal.
Dari situlah muncul kepercayaan dirinya, yang ingin membuka butik untuk menjual hasil karya-karyanya. Dia bertekad untuk segera menyelesaikan kuliahnya dan membuka butik impiannya.
***
__ADS_1
"Holy kamu udah tahu belum kalau ada event fashion show terbesar bulan depan? Yang ngadain perusahaan fashion ternama dari Belanda loh. Pokoknya kamu dan aku harus ikut." Rere menunjukkan HP-nya.
"Coba aku baca dulu," kata Holy sambil memperhatikan syarat-syarat dan hadiah yang terpampang di sebuah gambar postingan di Instagram.
"Juara utama akan mendapatkan dua tiket liburan ke Belanda dan hasil desain akan diproduksi massal oleh perusahan ternama bernama Zare."
"Gimana gimana mantap banget kan hadiahnya?" kata Rere dengan sangat bersemangat.
"Luar biasaa banget hadiahnyaa, Re..." Holy tiba-tiba terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Tapi, bagaimana dengan skripsiku? Bulan depan adalah bulan terakhir pengumpulan data-data untuk skripsi."
"Tenang kita masih punya waktu kok, Ly. Kuliah nggak harus empat tahun, karena empat tahun setengah juga masih bisa lulus dengan nilai bagus," kata Rere yang berusaha menghasut Holy untuk ikut lomba itu.
"Oiya dan kamu masih punya aku yang akan nemenin ngejain skripsi. Aku yakin kita bisa lulus bareng tahun depan. Okey?" lanjut Rere lagi.
"Sahabat terbaik setelah Artyooo," goda Rere.
"Hahaha kalian sama baiknya kok," balas Holy yang tidak melepaskan senyumnya.
***
Tibalah di saat yang ditunggu-tunggu, Holy yang dibantu oleh Rere akhirnya menyelesaikan desain mereka tepat waktu. Dengan mengangkat tema batik yang bisa dipakai di acara formal ataupun santai namun tetap elegan, mereka sangat percaya diri dengan hasilnya.
Karya mereka memukau para juri dan para penonton yang ada di tempat itu. Blitz kamera tidak henti-hentinya mengikuti model yang sedang berlenggak-lenggok di atas panggung.
__ADS_1
Holy dan Rere sangat senang, karena mereka sangat berjuang dalam menciptakan desain itu. Sampai mereka sering begadang dan rela mengabaikan skripsi mereka.
Sesuai dengan harapan mereka, Holy dan Rere pun memenangkan lomba itu. Mereka mendapatkan hadiah uang sebesar sepuluh juta dan berhak mendapatkan hadiah utama yaitu berlibur ke Belanda dan mendapatkan keuntungan dari hasil produksi desain mereka.
***
"Artyooo, aku punya kabar gembira!" seru Holy yang berteriak di depan HP-nya.
Dia sedang menelepon Artyo melalui video call, saat Artyo baru bangun pagi.
Dengan wajah yang masih bingung dan mata yang belum terbuka lebar, Artyo cukup terkecut mendengar suara Holy yang menggelegar.
"Wah ada apa ini? Pagi-pagi udah bangunin aku sambil teriak-teriak," ucap Artyo sambil merapikan rambutnya yang berantakkan menggunakan jari-jarinya.
Rambut Artyo masih panjang, sepertinya dia sudah nyaman dengan rambut seperti itu. Mungkin karena dia merasa wajahnya mirip artis Korea jadi dia tidak ingin memotong cepak lagi seperti saat di SMA. Dia hanya memotong rambut saat rambutnya sudah menutupi telinganya bahkan ketika kuliah praktik di rumah sakit dia hanya menggunakan gel rambut agar terlihat rapi.
"Uwuw rambutmu mengalihkan duniaku," gumam Holy yang menatap lekat ke wajah Artyo yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.
"Hei hei fokus Ly, ada kabar gembira apa? Aku penasaran."
"Oiya! Jadi aku dan Rere memenangkan lomba desain di fashion show yang diadakan oleh perusahaan dari Belanda. Dan kami mendapatkan hadiah untuk liburan ke Belanda selama lima hari... Wuhuu..." Holy berbicara dengan perlahan tapi jelas sehingga Artyo yang mendengarkan dapat menangkap maksud Holy.
"Yeay selamat sayangku, kamu sangaat hebat! Aku sangat bangga."
"Trima kasih sayang! Kita harus bertemu ya di Belanda, karena aku tahu Jerman ke Belanda tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dalam beberapa jam."
"Iya sayang tenang aja aku akan mengosongkan semua jadwalku dan akan selalu menemanimu selama berada Belanda. Aku tunggu kedatanganmu sayang," ucap Artyo dengan sangat manis, membuat Holy semakin tidak sabar untuk berangkat.
__ADS_1
Mereka berdua pun merajut rindu agar pertemuan mereka menjadi lebih berarti.