
Artyo sedang beradaptasi dengan kebiasaan barunya sebagai mahasiswa kedokteran, banyak ilmu-ilmu baru yang harus dia pelajari dari nol. Banyak buku yang ingin dia baca untuk menambah pengetahuannya.
Setiap hari Artyo berangkat ke kampus bersama Luna. Luna sangat bergantung pada Artyo. Setiap hari dia selalu menghubungi Artyo untuk tidak lupa menjemputnya. Artyo yang baik itu selalu setia menjemputnya kerena kebetulan mereka satu kelas dan juga Luna yang belum berani membawa mobil sendiri.
Ayah Luna sudah berkali-kali menyuruh dia untuk sering berlatih bawa mobil sendiri, tetapi Luna sepertinya sudah keenakan pulang pergi kampus bareng Artyo sehingga dia tidak menghiraukan kata-kata ayahnya.
Setiap menjemput Luna, jalan yang dilewati Artyo adalah jalan depan rumah Holy. Dia selalu menyempatkan untuk sekadar melirik ke warung mi ayam "Yumyum" itu, dia berharap bisa melihat Holy walau hanya sebentar.
Artyo sudah cukup senang saat melihat Holy yang sedang bersiap berangkat kuliah dengan mengendarai motornya.
Pernah juga sekali waktu di jam istirahat, Artyo makan siang di warung mi ayam itu dengan harapan bisa bertemu dan mengobrol dengan Holy. Tapi sayangnya dia tidak bertemu Holy, akhirnya dia hanya menitip salam kepada Ibunya Holy.
***
"Artyo nanti malam kita ngerjain tugas bareng yuk di apartemenku!" ajak Luna saat mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju kampus.
"Di rumahku aja seperti biasa, kamu bisa makan masakan Ibuku juga. Daripada kamu masak sendiri," jawab Artyo.
"Bosan di rumahmu terus, sekali-sekali di apartemenku dong..."
"Ya nggak enak kalau cuma berdua."
"Nggak enak kenapa? Kan kita cuma ngerjain tugas, kalau tugas udah selesai kamu bisa langsung pulang."
"Nggak enak aja masa cewek cowok di apartemen cuma berdua," kata Artyo yang mulai bingung apakah Luna punya maksud yang enggak-enggak atau hanya pikirannya saja yang buruk.
"Apa kamu tega sama aku yang harus pulang malem terus dari rumahmu karena mengerjakan tugas?" ucap Luna dengan nada sedih.
"Tapi kan kamu sering aku anterin."
"Tapi kalau kamu capek, aku harus naik taksi online yang mungkin akan membahayakanku."
__ADS_1
"Hmm yaudah deh untuk malam ini kita ngerjain tugas di apartemenmu."
"Yeayy..." Luna senang akhirnya rayuannya berhasil.
"Tapi jangan lupa siapin makanan," kata Artyo yang nggak suka liat Luna terlalu senang.
"Huu iya tenang aja, aku akan masak nanti malam," jawab Luna yang tetap senang.
***
Malamnya Luna sudah menyiapkan makanan spesial untuk dia dan Artyo. Luna memasak ayam katsu dengan saos teriaki. Tidak begitu sulit membuat menu itu karena dulu waktu di rumah dia sering memasak itu untuk papa dan mamanya.
Artyo datang ke Apartemen Luna dengan memakai tas besar berisi macbook dan buku-buku kuliah yang lumayan tebal. Artyo mengambil posisi duduk bersila di depan meja ruang TV.
"Tyo yuk kita makan dulu sebelum ngerjain tugas," kata Luna sambil membawa dua piring berisi nasi dan ayam katsu saos teriyaki untuk dia dan Artyo.
"Aku masih kenyang sih," Artyo berpikir sejenak. "Tapi nggakpapa deh, biar nanti bisa fokus kerja tugas aja jadi cepat selesai." Artyo berencana untuk tidak berlama-lama di apartemen Luna.
"Betul biar nanti bisa fokus, selamat makan."
"Lun, mataku rasanya berat banget. Aku udah ngantuk banget. Aku ingin tidur dulu beberapa menit, nanti bangunin aku ya," ucap Artyo yang sudah memejamkan matanya.
"Iyaa sini tidur di pangkuanku aja," kata Luna sambil mengarahkan kepala Artyo ke pangkuannya.
Luna tersenyum senang melihat wajah Artyo dengan sangat dekat. Dia membelai rambutnya dengan lembut. Jari-jari Luna yang lentik juga memainkan pipi Artyo yang empuk kemudian menuju ke hidungnya yang mancung dan perlahan turun ke bibir.
"Artyo aku jatuh cinta sama kamu. Kamu kenapa selalu menganggap aku hanya teman? Padahal aku berharap kita bisa jadi lebih dari sekadar teman," kata Luna kepada Artyo yang sedang tertidur pulas.
Dengan masih membelai bibir Artyo, muncul keinginan dalam hati Luna untuk menciumnya. Mempertemukan bibirnya dengan bibir itu.
Dia tidak bisa lagi menahan dirinya, perlahan dia menundukkan kepalanya, dia mencium kening Artyo lalu dia turun sedikit ke bawah dan akhirnya bibir mereka bertemu. Walaupun hanya sebentar hati Luna terasa sangat senang.
__ADS_1
"Maaf Artyo aku terpaksa memberikan sedikit obat tidur ke makananmu, aku tidak tahan lagi dengan sikapmu, kamu terlalu menggemaskan untuk dibiarkan berlalu begitu saja."
***
"Luna?" Artyo terbangun dari tidurnya. Dia melihat wajah Luna berada di atasnya. "Kok aku bisa di pangkuanmu?" tanya Artyo yang masih setengah sadar.
"Tadi kamu udah ngantuk banget yaudah aku suruh tidur aja di sini," jawab Luna dengan senyum lebarnya.
"Yaampun maaf ya. Aku nggak tau kenapa bisa ngantuk banget seperti tadi."
"Nggakpapa Tyo, mungkin kamu emang lagi kecapekan."
"Iya Lun. Btw, sekarang udah pukul berapa?" tanya Artyo yang mulai panik.
"Udah pukul sembilan."
"Waduh lama juga ya tidurku. Tugas kita juga belum selesai. Gimana nih?"
"Yaudah kita selesaikan sebisa kita sampai pukul sepuluh. Kalau sampai pukul sepuluh belum selesai biar aku yang menyelesaikan sendiri," ucap Luna.
"Baiklah kalau begitu kita usahain pukul sepuluh selesai ya," kata Artyo dengan semangat dan mulai mengetik lagi. Dia tidak lupa minum air putih yang berada di sampingnya.
Dia tidak merasakan sesuatu yang aneh pada bibirnya setelah ciuman pertamanya diambil oleh Luna. Dan mungkin dia tidak akan pernah tau apa yang terjadi saat dia tertidur tadi.
***
Akhirnya tugas mereka selesai tepat pukul 10. Artyo lega bisa menyelesaikannya tepat waktu dan akhirnya dia bisa pulang. Setelah membereskan barang-barangnya Artyo pun pamit pulang. Artyo sedikit heran melihat senyum Luna yang tidak seperti biasanya. Tapi dia malas menanyakannya.
Sesampainya di rumah Artyo mencoba untuk tidur lagi, tapi dia tidak merasakan kantuk. Dia pun mengingat-ingat mimpinya saat dia tidur di pangkuan Luna.
"Tadi sepertinya aku bermimpi berciuman dengan Holy, tapi kok rasanya seperti benar-benar nyata. Duh... apa karena aku sudah terlalu kangen dan ingin ketemu Holy ya sampai bisa mimpi seperti itu," pikir Artyo sambil membayangkan wajah Holy.
__ADS_1
"Besok aku harus bertemu dengan Holy dan menanyakan kabarnya. Sudah hampir dua bulan tidak ketemu rasanya kangen juga," Artyo berbicara pada dirinya sendiri.
Dia sadar dia mulai melupakan Holy karena aktivitas kuliahnya yang padat setiap hari dan bahkan akhir pekannya lebih dia gunakan untuk mengerjakan tugas dan baca buku.