Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 4 Hanya Teman!


__ADS_3

Holy berusaha menutupi perasaannya. Dia sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ada hal yang berbeda dari Artyo. Semakin Holy memendam rasa penasarannya semakin dia merasa tidak nyaman. Dia tidak mau lagi seperti kemarin yang membuat mereka harus pulang cepat.


"Tyo kamu ngerasa ada yang berubah nggak dari dirimu?" tanya Holy dengan memberanikan dirinya.


"Berubah apanya?" tanya Artyo balik sambil masih memperhatikan tulisan-tulisan kecil yang menjelaskan kegunaan dan sejarah barang-barang di sana.


Holy meniru yang dilakukan Artyo dengan membaca tulisan kecil itu sambil menjawab; "Ya berubah, mungkin kamu ngerasa dulu kamu nggak suka makan wortel tapi sekarang jadi suka dan malah sering makan wortel gitu."


"Ckck... kamu tahu sendirikan kalau dari kecil aku emang paling suka makan wortel."


"Itu hanya perumpamaan, soalnya aku ngerasa matamu berubah," ucap Holy dengan sedikit ragu.


"Oh ya?" Artyo seketika langsung menatap Holy. "Berubah jadi apa, Ly? Mataku berubah jadi satu apa gimana?" kata Artyo berpura-pura kaget dan tidak bisa menahan tawanya.


Holy pun ikut tertawa karena dia juga merasa aneh dengan pertanyaannya. Mana mungkin mata Artyo berubah, yang ada perasaannyalah yang berubah.


"Hahaha... yaudah abaikan pertanyaanku, kita lanjutkan berkelilingnya," kata Holy dengan perasaan yang sedikit lega.


Mereka berkeliling sambil memperhatikan setiap orang yang beraktivitas di tempat itu dan tidak lupa juga mereka mengambil beberapa foto sendiri dan foto berdua menggunakan kamera depan. Tentu saja mencari spot-spot yang instagramable menjadi tujuan fotonya. Walaupun mereka sudah beberapa kali ke tempat wisata itu saat tour SD ataupun jalan-jalan bersama keluarga, tetap saja setiap ke tempat itu suasana yang diciptakan berbeda.


***


Jam menunjukkan pukul 12.00, mereka berdua merasakan perut yang mulai keroncongan. Tenaga dan bekal air minum mereka habis setelah berkeliling di tempat yang terkenal luas itu.


"Makan nasi padang sepertinya enak, Ly," seru Artyo yang terlihat sudah sangat lapar.


"Boleh juga idemu, aku langsung ngebayangin gulai ayam dan es teh di warung makan padang langganan kita," jawab Holy dengan muka pengen yang tidak terkendali.


Mereka berdua pun segera menuju parkiran motor. Namun, di perjalanan tiba-tiba Holy diganggu oleh seorang bapak-bapak dan seorang anak muda yang sedang duduk-duduk di persimpangan jalan. Mereka bersiul dan salah seorang berkata "Cewek yang baju merah senyum dulu dong."


Seketika itu Holy berhenti dan menatap satu per satu mata lelaki yang sedang merayunya. Holy yang berani itu sudah bersiap ingin melempar mereka berdua dengan batu.


"Holy tenang." Artyo menggenggam tangannya dan mengajaknya untuk mempercepat langkah menuju parkiran. Sesampainya di parkiran Artyo menyiapkan air kobokan yang dia minta dari penjual bakso dan memasukkannya dalam plastik.

__ADS_1


"Holy nanti kita akan melewati mereka lagi dan kamu harus melempar plastik air ini tepat di depan dua orang kurang kerjaan itu," kata Artyo dengan semangat.


"Wah aku nggak nyangka, kalau kamu sekreatif ini. Hahaha... kalau tadi aku jadi lempar batu mungkin kita dibalas dengan batu juga kali ya, tapi orang seperti mereka emang harus diberi pelajaran," kata Holy dengan tidak kalah semangat.


Bruuuk... Byuuur...


Lemparan Holy tepat sasaran, kedua orang itu pun basah kuyup. Holy dan Artyo tertawa puas melihat ekspresi kaget mereka.


"Rasain... makanya jangan sembarangan ngerayu," teriak Holy kepada kedua orang itu.


Artyo pun langsung tancap gas.


Mereka segera menuju ke rumah makan padang langganan mereka sejak SMA. Sekitar 3,5 kilometer perjalanan yang akan ditempuh dari tempat wisata menuju warung makan padang. Dengan matahari yang cukup menyengat membuat perjalanan mereka terasa semakin lama.


Holy merasa betisnya mulai terbakar karena panasnya matahari. Untungnya dia tidak pernah lupa untuk memakai sunblock, hanya saja panasnya membuatnya semakin tidak nyaman. Artyo yang menyadari ketidaknyamanan Holy segera menghentikan motornya di pinggir jalan.


"Holy kamu kepanasan ya?" tanya Artyo, dan tanpa menunggu jawaban Holy dia segera melepaskan jaketnya untuk menutupi kaki Holy.


"Kamu mau kakimu jadi kayak ikan kering karena kelamaan kena matahari?" seru Artyo dengan nada bicara yang tegas tapi dengan bahasa yang nyeleneh.


"Huhu nggaklah... yaudah sini aku pinjem jaketnya," kata Holy sambil menutup kakinya.


"Nah kalau nurut gitukan jadi tambah cantik," goda Artyo.


"Dih apaan sih, Yo," kata Holy dengan suara yang malu-malu.


***


Setelah makan dan kenyang, Holy dan Artyo berberes untuk melanjutkan perjalanan misi selanjutnya.


"Artyo kayaknya aku nggak bisa deh kalau kita ke sana sekarang, tempatnya terlalu jauh dan aku nggak mungkin pakai baju ini ke sena," keluh Holy.


"Iya...ya..." kata Artyo sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Kita lanjut besok aja."


"Baik, tapi ingat kita tinggal punya waktu empat hari lagi."


"Siap aku nggak akan lupa." kata Holy dengan lantang.


"Lebih cepat lebih baik. Segera tentukan agar kamu nggak berlarut-larut dalam kebingungan."


"Iya Artyo yang paling pinter, paling bijaksana, dan paling ganteng sejagat raya," jawab Holy gemas sambil mencubit pipi Artyo.


Holy terdiam, dia tidak menyangka wajah Artyo ternyata setampan itu. Teman bermain dan teman belajar semenjak TK sudah berubah menjadi laki-laki dewasa. Wajahnya mulai ditumbuhi kumis-kumis tipis yang menggemaskan. Mungkin ini yang membuat siswi-siswi di SMA-nya banyak mengidolakan dia. "Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya?" tanya Holy kepada dirinya sendiri dan dia mulai masuk ke dalam alam pikirannya.


"Woy ini pipi masih dipake jangan kelamaan nyubitnya," sergah Artyo.


"Eh maaf, habis pipi kamu kayak mochi sih," kata Holy sambil tertawa untuk menutupi rasa deg-degannya.


"Iya nggak apa-apa, tapi jangan sering-sering kalau keseringan pipiku bisa kendor," kata Artyo dengan nada ngambek.


Mereka berdua kemudian bersiap-siap untuk pulang. Dengan perut yang sudah terisi penuh mereka pun pulang dengan mood yang baik.


Di perjalanan, Holy dan Artyo membicarakan hal-hal yang mereka dapatkan dari tempat wisata tadi dan juga dari salon yang kemarin mereka datangi. Mereka berdua sangat bersemangat dan penuh keceriaan. Mereka bisa membahas hal-hal dari yang tidak penting hingga yang sangat penting.


Tapi tidak dengan hal penting yang ada di hati Holy, itu tidak mungkin dia bicarakan sekarang. Biarlah waktu yang akan memberi kesempatan Holy membahas hal penting itu bersama Artyo.


Tidak disangka karena keasikkan ngobrol, akhirnya mereka sampai juga di rumah Holy. Rumah yang sedang dipenuhi oleh anak-anak kuliahan yang sedang menikmati mi ayam.


Ayah sibuk menyiapkan mi, sedangkan ibunya sibuk melayani dan mengantar mi ayam ke meja pelanggan. Karena Sesy sudah pulang sekolah dialah yang membantu di meja kasir. Meja kasir yang bisa diisi oleh siapa saja; bisa Heidy, Holy, atau Sesy jika mereka sedang berada di rumah. Jika mereka tidak di rumah maka ayah ibunya harus bekerja ekstra untuk mengurus semuanya.


"Kamu mau mampir dulu nggak?" tanya Holy kepada Artyo.


"Nggak usah, Ly. Aku langsung pulang aja. Dhaa." jawab Artyo dan langsung pergi bersama motornya.


Holy melambaikan tangannya. Seperti ada rasa yang terbawa oleh Artyo. Ingin segera bertemu lagi...

__ADS_1


__ADS_2