Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 5 Penentuan


__ADS_3

"JANGAN DIGANGGU ORANG DI DALAM SEDANG MEDITASI"


Tulisan itu tertempel di depan kamar Holy. Tulisan yang ditulis dengan spidol warna merah di atas kertas kalender bekas yang dibalik. Entah apa yang akan dilakukan Holy di kamarnya. Heidy dan Sesy yang berniat masuk ke kamar Holy pun batal karena tulisan itu.


Dari sore sampai malam Holy berdiam diri di kamar, dia hanya keluar untuk ke kamar mandi dan mengambil makanan. Sampai akhirnya hari semakin malam.


Tok...tok...tok...


Sesy mengetuk pintu kamar Holy.


"Jangaan ganggu!!!" teriak Holy dari dalam kamar.


Tok...tok...tok...


Sesy masih mengetuk pintunya.


"Woy bisa baca nggak sih, aku lagi meditasi!!!" teriak Holy lagi dengan nada yang lebih tinggi.


"Woy Kak Holy aku mau ambil bantal!" teriak Sesy yang sudah emosi karena dari tadi dia mengetuk kamar dengan sabar tapi tidak dibukakan juga.


Sesy sebagai anak paling kecil di rumah itu memang sangat kasihan karena dia tidak mendapatkan kamar sendiri. Rumah mereka hanya memiliki tiga kamar yang mengakibatkan Sesy harus tidur di kamar Heidy atau Holy. Dan karena Sesy sering bertengkar dengan kakak pertamanya, maka Sesy lebih memilih tidur bersama Holy.


"Aku mau ambil bantal buat tidur di kamar Kak Heidy," teriaknya lagi.


Pintu kamar pun terbuka. Holy memberi bantal dan guling kepada Sesy.


"Hehe maaf ya Dek, aku pikir kamu mau gangguin aku. Ternyata aku lupa kalau kamu butuh tidur. Hehe," kata Holy dengan cengengesan.


"Huu... lagi mikirin cowok ya, sampai-sampai adeknya sendiri dilupain," kata Sesy dengan nada menyidik.


"Ee...ng...gak kok. Aku lagi mikirin masa depan yang menentukan hidup dan matiku." kata Holy dengan sedikit ragu. "Yaudah sana-sana, tidur yang nyenyak ya sama Kak Heidy," kata Holy lagi sambil menutup pintu dan menguncinya.


***

__ADS_1


Holy mengambil buku tulis dan pulpen. Dia ingin menuliskan apa yang dia pikirkan. Tapi, lima belas menit dia lewati tanpa menulis apa pun. Sampai akhirnya karena otaknya buntu dia pun mulai menggambar, dia menggambar pola-pola baju yang sedang trend. Nalurinya seperti menyuruh dia untuk menggambar itu.


Mulai dari menggambar dress, blazer, dan kemeja. Tidak butuh waktu lama untuk menggambar tiga pola itu. Walaupun masih kurang rapi, tapi dia senang karena dia merasa mempunyai kemampuan yang bisa dia lakukan.


Kini Holy menjatuhkan pilihannya untuk mengambil jurusan yang berkaitan dengan fashion. Dari usia 5 sampai 12 tahun dia memang suka menggambar dan ketika masuk SMP dan SMA dia sering membantu tantenya yang memiliki usaha jasa jahit.


Kadang kalau sudah memasuki semester baru dan mendekati hari raya Natal dan Lebaran, orderan yang harus dijahit akan sangat menumpuk. Maka tantenya akan meminta bantuan kepada keponakan-keponakannya, terutama keponakan yang cewek.


Dari mereka bertiga Holy lah yang paling bersemangat membantu jika tantenya meminta bantuan. Mulai dari mengukur dan menggunting kain, bahkan terkadang tantenya yang menyuruh dia untuk menjahit di mesin jahit, dengan pengawasan tentunya.


Holy meneguhkan hatinya agar percaya dengan apa yang akan dia pilih. Apa pun yang dia tentukan hari ini harus dia pertanggungjawabkan sampai akhir. Dia harus membuat bangga kedua orang tuanya. Dan Holy bertekat mencari beasiswa untuk meringankan beban orang tuanya.


***


Keesokan paginya Holy bangun dengan sangat bersemangat dia merasakan kesegaran yang tiada duanya. Beban pikirannya sudah teratasi. Dia memulai harinya dengan bersih-bersih rumah sampai ke warung.


"Ayah aku akan mengambil jurusan tata busana," kata Holy kepada ayahnya yang sedang memotong daun bawang dengan bersemangat.


"Akhirnya kamu bisa menentukan pilihan dengan baik anakku. Pokoknya Ayah akan selalu mendukungmu," kata ayah dengan mengacungkan jempolnya.


"Makasih Bu, makasih Yah. Berkat kalian aku bisa memilih," balas Holy dengan memeluk balik ibunya.


"Berkat Artyo juga kan?" goda ibu. "dua hari ini kaliankan selalu pergi berdua."


"Iya dong Artyo kan salah satu penolongku di saat kesusahan, hihi. Oiya hari ini aku izin pergi lagi ya Bu!"


"Mau ke mana lagi?" tanya Sesy yang tidak sengaja mendengar perbincangan Holy dan ibunya saat akan berangkat ke sekolah. "Jalan-jalannya berdua terus, aku nggak pernah diajakin," keluh Sesy.


"Anak sekolah ya kerjaannya sekolah, nggak boleh jalan-jalan. Blee," sindir Holy sambil menjulurkan lidahnya.


"Hati-hati ya kalau sering berdua nanti bisa jatuh cinta," kata anak perempuan yang sedang mengalami masa pebertas dan sudah mengerti artinya jatuh cinta.


Holy hanya mendengarkan kata-kata Sesy tanpa merespons. "Tahu apa anak itu tentang jatuh cinta. Aku aja yang lebih tua dari dia belum tahu apa-apa tentang jatuh cinta," pikir Holy.

__ADS_1


Tentu saja itu terjadi karena selama ini Holy hanya dekat dengan satu laki-laki yaitu Artyo. Beberapa lelaki yang mendekatinya tidak pernah dia ladeni. Tapi selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan apa-apa kepada Artyo. Hanya akhir-akhir ini saja muncul perasaan yang berbeda kepada Artyo.


"Apakah aku baru masuk masa pubertas?" pikir Holy lagi.


"Hayo, kamu mikirin apa?" kata ibu dengan sedikit mengagetkan. "Sana mandi, siap-siap katanya mau pergi."


"Eh, iya Bu. Oke aku mandi dulu ya," jawab Holy dan beranjak pergi.


***


Di rumah Artyo ternyata sedang kedatangan tamu. Tamu yang datang dari jauh, yang ternyata adalah teman lama ayahnya. Mereka datang untuk berkunjung sambil bersilaturahmi. Sudah hampir 20 tahun mereka tidak bertemu, tapi mereka masih sering memberi kabar satu sama lain.


Teman ayahnya yang bernama Tomo, datang bersama istri dan anak perempuannya. Sebelum datang bertamu ternyata mereka sudah berjalan-jalan di kota itu selama lima hari dan mereka tinggal di salah satu hotel bintang lima. Dua sahabat itu pun saling berbincang-bincang dengan sangat seru. Mengingat masa-masa nakal di zaman SMA dulu.


Ayah Artyo dan Om Tomo tersadar ternyata mereka punya kesamaan, yaitu sama-sama hanya memiliki satu anak. Mereka hanya tertawa mengetahui hal itu.


Anak perempuan Om Tomo berusia lebih tua satu tahun dari Artyo. Dia memiliki wajah yang cantik dengan rambut panjang sepinggang. Terlihat sopan dan ramah, karena selama di rumah Artyo dia lebih banyak diam dan memainkan smartphone-nya.


***


Artyo sedang bersiap-siap menjemput Holy, namun dicegah oleh ibunya.


"Nak jangan pergi dulu ya, nggak enak sama tamu Ayahmu yang datang jauh-jauh dari pulau seberang." kata ibu.


"Aku harus ngapain Bu, kalau ada tamunya Ayah?" tanya Artyo.


"Itu ada anaknya yang seumuran kamu, bisa kamu ajak ngobrol," kata ibu dengan suara sedikit berbisik.


Artyo pun menuruti kata ibunya. Dia segera memberitahu Holy kalau dia tidak bisa pergi hari ini karena ada tamu, melalui chat WA.


***


Ternyata teman ayahnya yang datang jauh-jauh dari pulau seberang memiliki maksud dan tujuan.

__ADS_1


Apakah itu?


__ADS_2