Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 19 Sebelum Berpisah


__ADS_3

"Huaa capek juga ya muter-muter sambil bawa banyak belanjaan," keluh Holy yang sedang membawa dua plastik berisi jaket dan baju tebal serta beberapa perlengkapan yang mungkin diperlukan Artyo.


"Ayo dong semangat Ly, kan kamu yang nawarin diri buat bantuin," kata Artyo yang tetap berjalan di depan Holy sambil membawa satu tas berisi sepatu.


"Ih parah jahat banget," Holy masih berjalan di belakang Artyo, tapi akhirnya dia tidak kuat lagi dan memilih untuk duduk di salah satu bangku yang memang disediakan untuk beristirahat.


"Loh kok malah duduk?" tanya Artyo sambil menoleh ke belakang.


"Aku angkat tangan Tyo. Udah capek banget nih."


"Oke kamu tunggu situ ya, aku tinggal nyari beberapa barang lagi," ucap Artyo dan kembali berjalan.


Holy menunggu sambil memainkan HP-nya. Hari ini dia sengaja bolos jam terakhir kuliah untuk menemani Artyo belanja. Dia tidak sempat memberi kabar ke Natan sehingga saat dia membuka HP-nya, pesan Natan menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan keberadaannya.


Holy cukup lama memikirkan alasan apa yang harus dia katakan ke Natan, sampai akhirnya HP-nya berdering.


"Halo?" jawab Holy ragu.


"Kenapa lama banget balas pesenku? Kamu lagi di mana sih? Tadi aku nyariin di kampus kok nggak ada?" suara bass Natan memburu Holy dengan banyak pertanyaan.


"Emm, maaf sayang aku lagi... Emm, aku lagi..." Holy sangat bingung mencari alasan, dia takut berbohong tapi juga takut kalau harus jujur.


"Lagi apa? Bisa ngomong yang jelas nggak?"


"Iya ini aku lagi nemenin Artyo belanja." Akhirnya Holy memilih untuk jujur.


"Nemenin belanja di mana?"


"Di mal sayang..."


"Aku nyusul ke sana ya," kata Natan yang membuat Holy deg-degan.


"Ngapain? Ini udah mau pulang kok. Udah dulu ya ini Artyo udah ngajakin pulang. Nanti sampai rumah aku kabarin. Dah."


Holy mematikan teleponnya dan menarik napas panjang. Artyo pun akhirnya datang menghampiri Holy dengan membawakan segelas boba tea kesukaan Holy.

__ADS_1


"Nih minum dulu biar semangat," kata Artyo dan duduk di sebelah Holy.


"Kamsahamnida," kata Holy menirukan film Korea yang baru dia tonton.


Artyo hanya tersenyum simpul.


"Udah selesai belanjanya?" tanya Holy sambil menikmati minumannya.


"Udah nih."


"Yaudah kita pulang sekarang aja yuk."


"Kenapa buru-buru?"


"Tadi aku ditelepon Natan dan aku bilang aku udah mau pulang."


"Bucin sih, yaudah ayok," Natan membawa semua tas belanjaannya.


***


Tinggal lima hari lagi dia bisa menghabiskan waktu bersama Artyo. Setiap malam Holy menyempatkan dirinya untuk datang ke rumah Artyo. Walau cuma sekadar membantu packing.


Selama di tempat Artyo, Holy memperhatikan ada sesuatu yang aneh. Luna tidak pernah lagi terlihat datang ke rumah Artyo. Karena penasaran Holy pun bertanya, dan Artyo hanya menjawab dengan santai kalau dia sudah tidak mau lagi melihat wajah Luna.


"Kenapa begitu?" tanya Holy yang semakin penasaran.


"Dia wanita licik, Ly. Bisa-bisanya dia mau memaksa aku untuk tidur dengannya."


"Hah!!! Dia sudah gila apa?" kata Holy sampai-sampai biji matanya hampir loncat keluar.


"Sepertinya sih begitu. Dia maksa-maksa terus buat ngerjain tugas di apartemennya, sekali dua kali sih aku merasa nggak ada yang aneh. Tapi kok lama-lama dia makin berulah seperti ular. Dia ngerayu-rayu dengan memakai baju-baju seksi. Hingga satu hari dia memaksa buat aku minum sampai mabuk. Untungnya aku masih sadar dan aku langsung marahin dia dan pergi," jelas Artyo.


"Wah gila sih, padahal kalau dilihat dari wajahnya dia seperti wanita baik-baik. Tapi ternyata di dalamnya seperti iblis," Holy pun ikut kesal. "Yang penting sekarang kamu fokus sama masa depanmu dulu, aku yakin suatu saat kamu akan dapat wanita yang benar-benar baik. Wanita yang bisa menjagamu dan menemanimu selalu."


"Amin. Kamu juga, Ly. Jangan terlalu jadi bucin-nya Natan, tetap fokus kuliah ya. Dan jika kamu nggak keberatan, aku ingin kamu bisa jaga dirimu sendiri selama aku nggak di sini. Karena nanti saat aku balik, aku pastikan aku akan menjagamu."

__ADS_1


Holy yang sedikit lemot, sepertinya tidak menangkap penuh maksud terdalam dari kata-kata Artyo. Tapi kata-kata itu akan selalu diingat oleh Holy sebagai kata-kata perpisahan dan janji Artyo.


Dengan perlahan Holy mendekati Artyo dan memberikan pelukan perpisahan. Artyo pun membalas pelukan Holy dengan lembut. Suasana kamar Artyo menjadi hangat dan penuh haru.


***


Pagi-pagi sekali, Artyo yang ditemani Ayah Ibunya sudah sampai di bandara internasional. Mereka harus Check-In dua jam sebelum keberangkatan. Terlihat wajah Artyo yang sedikit cemas semenjak dalam perjalanan menuju bandara.


"Nak sini kita foto dulu sebelum berangkat," kata Ibunya sambil mengambil foto selfie bersama anak dan suaminya.


"Kamu masih nungguin Holy ya?" tanya Ayahnya yang sejak tadi memperhatikan wajah Artyo.


"Iya Yah katanya dia mau datang," kata Artyo sambil terus menengok orang-orang yang baru datang.


"Coba kamu telepon dulu, siapa tau dia kena macet atau kenapa-kenapa," saran Ayahnya.


"Santai dulu, kita masih punya waktu lima belas menit untuk bisa check-in," kata Ibu sambil masih mengambil foto-foto.


Akhirnya Holy mengangkat teleponnya, "Halo Holy, udah sampai mana?"


"Ini baru sampai parkiran, tunggu yaa aku akan lari ke sana," kata Holy tergesa, lalu mematikan teleponnya.


Butuh waktu hampir tiga menit dari parkiran menuju ruang tunggu. Holy berlari sekuat tenaga agar Artyo tidak menunggunya terlalu lama.


"Artyooo..." teriak Holy dan langsung mengahampiri Artyo yang sedang duduk bersama Ayah Ibunya.


Artyo pun segera berdiri dan menyambut Holy dengan pelukan, dia sangat senang melihat kedatangan Holy. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Holy mulai menangis lagi dalam pelukan Artyo.


"Holy aku punya sesuatu buatmu, dibuka di rumah ya," kata Artyo sambil memberikan sebuah hadiah yang dibungkus kotak kecil berwarna pink dan diikat pita merah.


"Aku juga punya sesuatu," Holy memberikan sebuh kotak kecil berwarna kuning. "Dijaga ya."


"Siap," Artyo menerima hadiah Holy dan segera menyimpannya dalam tas.


"Ayo sebelum Artyo berangkat kalian berdua tante foto dulu," kata Ibu Artyo yang membuat mereka berdua kembali tersenyum walaupun mata mereka sembab.

__ADS_1


Artyo pun berpamitan kepada orang tuanya dan juga Holy dengan senyum ikhlas agar mereka tidak sedih.


Dan waktu pun memaksa mereka untuk berpisah.


__ADS_2