Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 10 Mulai Terbiasa


__ADS_3

"Halo?" sapa Artyo dengan ragu. Dia bingung karena yang menelpon adalah nomor telepon baru.


"Halo Artyo, ini Luna. Kamu bisa jemput aku di mal Amplays sekarang?" kata Luna dengan suara yang bergetar.


"Ada apa Luna? Kenapa tiba-tiba? Dan kenapa pake nomor telepon? Mana Hp-mu?" tanya Artyo yang mulai khawatir.


Holy melihat kekhawatiran di wajah Artyo, dan dia mulai mendekatkan telinganya untuk menguping.


"Tas ku habis diambil orang dan aku nggak bisa ngapa-ngapain. Aku sedang di resepsionis mal. Aku tunggu." Luna menutup teleponnya.


"Holy, bagaimana ini tas Luna baru saja dirampok di mal. Kita harus segera jemput dia sekarang, dia pasti sedang syok," kata Artyo dan langsung memasukkan cone es krim yg tinggal sedikit di tangannya.


"Hah serius?" Holy pura-pura kaget padahal dia sudah menguping tadi. "Ayo deh, untung es krimnya tinggal dikit. Hap," dia pun malahap cone es krimnya.


***


Luna duduk terdiam di kursi samping resepsionis. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa tasnya hilang tanpa dia sadari. Walaupun uang yang hilang tidak begitu berdampak bagi hidupnya, tapi dia memikirkan kartu-kartu penting dan data-data dalam HP-nya.


"Lunaaa," teriak Artyo yang berjalan mendekati Luna diikuti Holy dari belakang.


Luna berlari mendekati Artyo dan memeluknya. Holy terkejut, ternyata Luna cukup agresif juga katanya dalam hati.


"Apa yang terjadi? Kenapa tasmu bisa hilang?" tanya Artyo dan melepaskan pelukan Luna perlahan.


"Tadi aku sedang pilih-pilih baju dan tanpa sadar aku melepaskan tasku, setelah itu aku udah ga tau tasku di mana," jawab Luna dengan bingung.


"Udah minta bantuan satpam?" tanya Artyo.


"Udah, tadi juga sempat ngecek cctv tapi nggak terlihat jelas. Sepertinya diambil orang sih. Aahh, gimana nih? surat-surat berhargaku di dompet itu semua," keluh Luna.


"Tenang aja, masih bisa diurus itu... Jangan terlalu khawatir," kata Holy yang dari tadi hanya melihat kemesraan mereka berdua.


"Iya bener kata Holy semua bisa diurus, sekarang kita pulang dulu nanti aku pinjemin HP-ku buat ngabarin papa dan mama di rumah," kata Artyo menenangkan.


Mereka bertiga pun masuk mobil Artyo. Holy sudah sempat duduk di samping Artyo, hanya saja tiba-tiba Luna mengeluh kalau dia tidak terbiasa duduk di belakang. Holy pun dengan perasaan sebel akhirnya mengalah dan duduk di belakang.


Holy lebih banyak diam dan memperhatikan kedekatan mereka berdua dari belakang. Sepertinya Luna sudah sangat akrab dengan Artyo dan Artyo pun terlihat sangat memperhatikan Luna. Hati Holy menjadi semakin panas dan bercampur sedih. Kini sahabatnya punya teman dekat baru.


"Artyo nanti anterin aku dulu ya... Nggak enak nanti gangguin waktu kalian berdua," kata Holy.


"Hah... Jangan Ly, kita kan belum lama ketemunya. Di Apartemen Luna kita bisa sambil nonton bareng dan makan bareng bertiga. Tinggal pesen makan aja," ajak Artyo.

__ADS_1


Luna menengok ke belakang dan ikut mengajak, "Iya nggakpapa kok Ly, nggak usah malu. Lagian kita berdua nanti nggak ngapa-ngapain. Kamu belum pernah liat apartemenku juga kan? Jadi bolehlah sekali-sekali main."


Holy hanya tersenyum canggung mendengar ajakan Luna.


"Hm yaudah deh, oke," jawab Holy singkat.


Artyo senang dengan keputusan Holy.


***


Sesampai di apartemen, Luna langsung meminjam HP Artyo dan menelpon ayahnya.


Holy terperangah melihat apartemen Luna yang sangat luas dan rapi, dengan peralatan yang lengkap. Dia berjalan perlahan sambil menengok kiri dan kanan, mengagumi setiap sudutnya.


"Holy, yuk duduk sini," panggil Artyo.


Holy segera duduk di sebelah Artyo. "Keren ya rumahnya," gumam Holy.


"Iya, soalnya apa yang si Luna pengenin pasti diturutin sama ayahnya," bisik Artyo.


"Enak banget hidupnya."


"Mau pesen makan apa nih?" tanya Luna tiba-tiba.


"Aku mau K*C!" teriak Holy spontan.


"Aku juga mau," diikuti Artyo yang nggak kalah besar teriakannya.


"Kalian berdua laper ya? Hahaha," kata Luna sambil tertawa.


Holy dan Artyo ikut tertawa sambil mereka berhadapan dan berharap Luna tidak mendengar pembicaraan mereka sebelumnya.


***


Makanan telah sampai. Mereka bertiga makan sambil menonton film kartun. Mereka sangat terhibur menonton film itu. Sejenak Luna melupakan masalah yang dia alami tadi.


"Luna kamu kan sebelumnya udah pernah kuliah, ceritain dong pengalamanmu waktu kuliah," seru Holy yang tidak sabar untuk berkuliah.


"Kok kamu tau kalau sebelumnya aku pernah kuliah?" tanya Luna.


"Karena kelihatan lebih tua, hahaha enggak enggak becanda. Aku diceritain sama ini nih..." kata Holy sambil menujuk Artyo. Artyo masih asik menikmati daging ayamnya.

__ADS_1


"Huu kartuku terbongkar deh, hehe. Pengalaman kuliahku dulu banyak sih aku sering dideketin sama kakak-kakak tingkat, pernah jadi mahasiswa baru tercantik saat ospek, pokoknya dulu waktu kuliah aku terkenal. Makanya banyak yang sedih saat tau aku bakal pindah kuliah," kenang Luna.


"Sombong juga ya Anda ini," kata Holy dengan nada bercanda. "Berarti kamu punya pacar di sana?" tanya Holy penasaran.


"Udah aku putusin, aku nggak bisa pacaran jarak jauh. Dan Aku juga orangnya bosenan." jawab Luna.


"Hahaha semoga sama Artyo nggak bosen ya," kata Holy sambil tertawa cukup keras. Sengaja biar Artyo mendengarkan.


"Yee enak aja aku sama Luna cuma teman kok," Artyo menjawab santai.


Luna menatap Artyo tajam, "teman tapi mesra yakan?" Luna masih berusaha mendekatkan diri dengan Artyo. "Oh iya Holy kamu kan masuk jurusan tata busana, besok-besok kalau aku minta tolong dibikinin baju bisa dong?" Luna mengalihkan pandangannya ke Holy.


"Bisa-bisa aja asal ada bahannya tentu akan ku bantu," ucap Holy senang karena ternyata jurusannya bermafaat.


Luna dan Holy menjadi semakin akrab karena cukup lama mereka bercerita. Artyo senang melihat mereka berdua bisa akrab.


Tiba saatnya untuk Artyo dan Holy pamit pulang. Terlihat raut sedih di wajah Luna.


"Nggak usah sedih kapan-kapan kita bertiga bisa kumpul lagi kok," kata Artyo menenangkan.


"Iya, hati-hati ya kalian berdua. Sampai jumpa lagi," kata Luna sambil melambaikan tangannya.


Holy dan Artyo juga melambaikan tangan kepada Luna.


***


"Sebenarnya Luna kenapa?" tanya Holy saat mereka sudah di dalam mobil.


"Oh lanjutan yang tadi?"


"Iya, aku penasaran."


"Nggak kenapa-napa sih, hanya saja Luna itu walaupun dia kaya dan bisa minta apa aja ke papanya tapi dia dikekang banget. Jadi dia kurang terbuka sama papa mamanya," kata Artyo menjelaskan.


"Tapi kalau aku liat dia terbuka sama kamu, berarti dia nyaman dong sama kamu," goda Holy.


"Ya gimana ya aku emang sering bikin cewek-cewek nyaman di dekatku, hahaha."


"Dih mulai deh ke-PD-annya."


Holy senang bisa kembali tertawa bersama Artyo hari ini.

__ADS_1


__ADS_2