Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 14 Ada yang Baru


__ADS_3

Mereka pun akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua tanpa diganggu oleh siapapun. Mereka bercerita tentang kegiatan belajar di kampus, mata kuliah yang menyenangkan, dan mata kuliah yang menyebalkan. Pokoknya semua tentang keluh kesah mereka selama kuliah.


Holy pun tidak lupa menceritakan temannya yang bernama Rere. Cewek pemberani yang sering menemani bahkan selalu bersama saat di kampus.


"Kamu punya temen cowok juga nggak di kampus?" tanya Artyo penasaran.


"Temen cowok di jurusan sih banyak tapi nggak deket. Oiya tapi aku punya satu kakak tingkat cowok yang baik banget, tapi beda jurusan jadi jarang ketemu," kata Holy mulai semangat bercerita.


"Baik karena?" Artyo semakin penasaran.


"Jadi waktu aku ospek, aku digangguin tuh sama panitia nakal. Trus kakak tingkat yang namanya Natan, tiba-tiba datang bagai pahlawan, hahaha. Trus dia langsung cabut tanda pengenal si panitia nakal itu. Yaampun aku nggak habis pikir. Dan ternyata Natan itu adalah ketua panitia ospek. Bisa bayangin nggak senengnya aku?" Holy menjelaskan panjang lebar.


"Hm pasti seneng banget, apalagi kalau cowok yang namanya Natan itu tampan dan rupawan. Pasti saat itu hatimu bergetar, wajahmu terperangah, bahkan sampai mau pingsan. Yakan?" ucap Artyo yang bisa ngebayangin wajah Holy saat sedang dibantu cowok itu.


Walaupun hatinya sedikit sakit mendengar Holy menceritakan cowok lain yang membuatnya bahagia, Artyo tetep berusaha menjadi sahabat yang baik. Ini pertama kalinya dia melihat Holy begitu semangat menceritakan seorang cowok, biasanya dia hanya akan semangat saat membicarakan masa depan dan uang.


"Wih... Kamu emang sahabat yang paling mengerti aku," Holy mengacungi jempol ke wajah Artyo. "Kalau kamu gimana? Ketemu cewek cantik nggak di kampus? Kecuali Luna ya... Aku mah udah bosen kalau tentang Luna lagi."


"Ya gimana ya... Aku tuh selalu dikelilingi wanita cantik, jadi sampai bingung milihnya."


"Dih jijik..." celetuk Holy.


"Hahaha sebenernya ya... banyak cewek yang mau deket sama aku, tapi karena si Luna selalu ngebuntutin akhirnya cewek-cewek itu pada menghindar. Apalagi si Luna kayaknya punya jurus ampuh biar aku nggak deket sama cewek lain. Makanya selama kuliah kalau pembagian kelompok aku nggak pernah sekelompokan sama cewek lain selain dia."


"Serem juga ya. Jangan-jangan dia suka lagi sama kamu."


"Iya sih, dia juga udah pernah ungkapin ke aku. Tapi aku nggak mau, rasanya tuh lebih enak temenan."


"Serius? Luna ungkapin cinta ke kamu?" tanya Holy yang hampir teriak karena terkejut mendengar cerita Artyo. "Kok dia berani banget ya? Padahal aku aja nggak pernah berani membahas tentang perasaanku ke Artyo," kata Holy dalam hati.

__ADS_1


"Iyaa serius, aku pun bingung kenapa Luna bisa seagresif itu." Artyo menghabiskan minumnya dalam gelas. "Yuk waktunya pulang, besok kita harus kembali beraktivitas."


"Yaudah yuk aku juga udah ngantuk gara-gara makan bibimbap dan bulgogi. Hehehe makasih ya traktirannyaa," kata Holy dan memberi senyum terbaiknya kepada Artyo.


"Iyaa sama-sama si sok imut," jawab Artyo sambil mengacak rambut Holy dengan lembut.


Mereka pun pulang menggunakan motor, sambil menikmati lampu kota dan dinginnya suasana malam itu.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Holy sudah berangkat ke kampus karena dia harus masuk kuliah pagi yang dosennya sangat tegas. Dia tidak boleh terlambat jika tidak ingin poinnya berkurang.


Setelah jam kuliah itu berakhir, Holy dan Rere menuju ke kantin untuk brunch (makan antara sarapan dan makan siang). Sesampainya di kantin Holy melihat rombongan cowok-cowok yang sedang nongkrong sambil ngerokok. Semenjak kejadian di ospek yang tangannya ditarik oleh cowok yang nggak dikenal dia menjadi agak trauma saat lewat di depan cowok apalagi gerombolan cowok-cowok.


Untung saja Rere tau ketakutan Holy, maka dia memegang tangan Holy ketika melewati rombongan itu. "Tenang aja ada aku Ly, nggak perlu takut."


Holy pun menjadi lebih berani. Dengan kepala tegak dia melewati gerombolan cowok-cowok itu.


"Hai Holy semalam, udah tidur ya? Kok nggak balas chatku?" tanya Natan yang sudah duduk di depan mereka.


"Ciee udah chat-chatan nih yee," celetuk Rere.


"Hah? Oh iya Kak, mungkin semalam aku udah tidur. Sampai sekarang pun malah belum buka HP karena sibuk, maaf ya kak," kata Holy yang salah tingkah dan merasa bersalah. Semalam setelah sampai rumah, Holy memang langsung bersih-bersih dan tidur, dia tidak sempat lagi mengecek HP-nya.


"Iyaa nggakpapa kok, aku cuma khawatir aja kamu kenapa-napa. Yaudah aku balik ke kelas dulu ya... Silakan dilanjutin makannya," kata Natan dengan ramah kepada Holy dan Rere.


"Iya Kak, hati-hati..." sahut Holy dan Rere bersamaan, tapi suara Rere yang paling keras.


Setelah Natan dan rombongan cowok-cowok yang ternyata teman sekelasnya itu pergi dari kantin, Rere mulai mengintrogasi Holy.

__ADS_1


"Ly kok Kak Natan tau nomormu? Padahal aku yang punya nomornya aja belum sempat ngechat dia."


"Kemarin ketemu di warungku, dan dia minta nomorku. Ya aku kasih deh," kata Holy yang kemudian memeriksa tasnya untuk mengambil HP.


Ada 23 pesan baru, 2 dari Natan, 1 dari Artyo, dan 20 pesan dari grup kelas.


Natan:


- Udah selesai makannya?


- Apa kamu baik-baik saja? Semoga nggak keselek biji cabe ya :D


Artyo:


-Makasih Ly untuk malam ini, walaupun cuma sebentar tapi cukup untuk membayar rasa rindu ini. Aseek. Hahaha. Selamat tidur sahabatku.


Dua pesan itu membuat Holy tertawa cekikikan. Dan karena dia bingung mau balas apa, akhirnya dia belum membalas apa-apa ke kedua cowok itu. Dia mau menghabiskan dulu sotonya yang hampir dingin.


"Dih malah ketawa-ketawa sendiri, hati-hati ya soalnya di depan kita ada pohon besar tuh," kata Rere mengingatkan temannya.


"Yaampun Re, masih aja percaya yang gitu-gituan."


"Kamu nggak pernah nonton jurnalrisa sih!" seru Rere.


"Iyaiya yuk buruan makannya bentar lagi kita masih ada kelas."


Holy dan Rere pun kembali fokus ke makanan mereka.


***

__ADS_1


Seharian itu Holy menjadi sering membalas chat dari Natan. Walaupun Holy slow respons tetapi Natan selalu fast respons. Holy kadang bisa senyum-senyum sendiri saat membaca chat dari Natan. "Ternyata Natan orangnya seru juga," pikir Holy.


Selama beberapa hari mereka saling menyapa lewat WA. Lama-kelamaam Holy merasakan kenyamanan dan muncul sebuah keterbiasaan untuk menanyai kabar Natan. Begitu pula dengan Natan yang sering mengingatkan Holy untuk belajar dan juga untuk makan, walaupun dia tau Holy akan tetap makan tanpa dia ingatkan.


__ADS_2