Saat Aku Harus Memilih

Saat Aku Harus Memilih
Bab 16 Mencoba Tenang


__ADS_3

Natan akhirnya meminta izin ke Holy untuk menjawab pertanyaan Artyo. Holy hanya senyum-senyum malu dan mempersilakan.


"Sebenarnya baru kemarin aku mengungkapkan perasaan cintaku sama Holy dan ternyata Holy juga merasakan hal yang sama. Jadi hari ini hari kedua aku dan Holy berstatus pacaran," kata Natan sambil menatap Holy dengan senyum manisnya diikuti senyum malu dari Holy.


"Akhirnyaaa... Selamat ya Kak Natan dan Holy. Aku ikut seneng," seru Rere yang terlihat sangat senang karena akhirnya temannya nggak cuma TTMan lagi.


"Oh, selamat kalau gitu. Holy akhirnya punya pacar untuk pertama kalinya," Artyo menjadi kurang semangat setelah mendengar pernyataan Natan, tetapi dia berusaha menutup rasa sedihnya dengan mengejek Holy.


"Ih Artyo jangan buka kartu dong," Holy memukul punggung Artyo dengan pelan.


"Haha nggakpapa, Ly. Aku tetep sayang kok," kata Natan merayu.


"Uluh uluh, pasangan baru yang sedang dimabuk cinta," ucap Rere menggoda.


Artyo hanya tersenyum getir menahan perasaannya yang tidak rela melihat Holy sudah memiliki pacar.


Acara pernikahan Heidy pun berakhir dengan sukses. Semua tamu dapat terlayani dengan baik dan dapat mengikuti setiap acara dengan gembira. Kecuali Artyo yang masih dilingkupi rasa cemburu. Apalagi sepanjang acara dia hanya menonton Holy dan Natan yang merasa dunia milik berdua mengalahi kedua pengantin.


***


Artyo membenamkan tubuhnya ke kasur empuk. Dia berusaha menerima keputusan Holy untuk berpacaran dengan Natan.


"Harusnya aku nggak cemburu, toh aku bisa tetap bersahabat dengan Holy. Aku tetap bisa menemani Holy ke mana pun dia mau, aku juga masih bisa bertemu dan jalan-jalan bareng," kata Artyo untuk menenangkan dirinya.


Artyo bangun dari tempat tidurnya dan bermain dengan ikan peliharaannya.


"Beti menurutmu Holy cocok nggak sama Natan?"


"Apa? Lebih cocok sama aku?"


"Ah Beti bisa aja nih, aku kan jadi malu."

__ADS_1


Itulah yang Artyo lakukan ketika dia mulai banyak pikiran dan tidak punya teman ngobrol. Dia sering mengajak ngobrol ikan peliharannya, karena dia tidak punya kakak ataupun adik untuk diajak ngobrol.


Kadang untuk masalah sekolah dan kuliah dia menyempatkan ngobrol dengan ayahnya, tapi itu sangat jarang dia lakukan karena ayahnya lebih sering menghakimi keputusannya daripada memberi saran.


Begitu juga saat ngobrol sama ibunya, dia harus berhati-hati jangan sampai keceplosan membicarakan hal-hal yang ingin dia rahasiakan. Karena pasti ibunya akan menyebarluaskan ke teman-teman arisannya atau dijadikan konten untuk status di FB-nya. Itu sangat memalukan untuk Artyo.


Artyo merasa lebih baik ketika dia ngobrol sama ikan peliharannya ataupun dengan Holy. Dan tentu saja saat Holy datang ke rumahnya adalah waktu yang sangat menyenangkan dibanding ngobrol sama ikan. Karena saat itulah dia bisa bercerita apa saja, yang kemudian mendapatkan tanggapan dan saran.


Malam ini dia hanya bisa bercerita sama ikan peliharaannya sambil menatap foto-fotonya bersama Holy. Saat melihat foto-foto itu muncul lagi perasaan kesal kepada dirinya sendiri yang tidak pernah berani membahas tentang perasaannya kepada Holy. Tapi dia mencoba menenangkan kembali perasaannya. Artyo pun mengambil salah satu bukunya untuk menutup wajahnya. Dan dia pun tertidur bersama buku itu.


***


Lima bulan berlalu hubungan Natan dan Holy masih terus berjalan, walaupun tidak semulus jalan tol tapi mereka masih bertahan. Holy yang baru pertama kali pacaran banyak belajar dari Natan yang katanya sudah lima kali pacaran.


Saat Natan mengirim pesan, Holy akan segera membalasnya. Holy selalu berusaha untuk segera membalas pesan Natan, karena pernah suatu waktu Holy tidak membalas pesan Natan selama berjam-jam akibatnya Natan menjadi marah dan memberondongi Holy dengan kata-kata makian.


Padahal saat itu Holy sangat kelelahan, dia pulang dari kampus dan langsung tertidur di kamarnya sampai subuh. Ketika dia bangun dia sangat kaget melihat HP-nya yang dipenuhi dengan pesan dari Natan yang sangat menyakiti hatinya. Holy pun menjelaskan dan meminta maaf.


Bulan kedua, Holy yang sering jalan berdua dengan Natan untuk sekadar mencari udara segar, mendapat teguran dari ayah ibunya karena jadi jarang punya waktu buat keluarga.


Bulan ketiga, tugas-tugas kuliah Holy menjadi sering numpuk akibatnya dia jadi sering begadang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.


Bulan keempat, Holy pun mulai mengungkapkan segala uneg-unegnya kepada Natan. Natan mendengarkan semua yang dikatakan Holy dan dia pun berusaha memahami Holy dengan tidak cepat marah ketika pesannya lama dibalas, bisa membagi waktu pacaran dengan waktu keluarga, dan akan memahami Holy jika sedang banyak tugas. Bahkan dia berkata akan membantu jika Holy kesusahan dengan tugasnya.


Bulan kelima mereka berdua akhirnya mempunyai hubungan yang menyenangkan karena Natan lebih santai dalam menanggapi Holy. Dia tidak mau memaksa Holy untuk bertemu jika Holy ingin memiliki waktu sendiri ataupun waktu bersama keluarga.


***


"Halo Holy sayang, sudah kuduga kamu pasti lagi di perpus. Rere mana?" Natan menghampiri Holy yang sedang mengerjakan tugas di perpustakaan.


"Hai sayang sini duduk," Holy mengambil tasnya dan memberi tempat untuk Natan. "Rere lagi nemenin pacarnya makan. Katanya pacarnya lagi nggak nafsu makan kalau ngga ditemenin. Hahaha. Kamu dari mana?" tanya Holy.

__ADS_1


"Manja banget sih pacar Rere. Oiya tadi habis dari ruang UKM."


"Ngapain?"


"Diajakin temen-teman buat ngomongin rencana konser musik sefakultas. Aku disuruh jadi ketua panitia lagi."


"Serius? Seru dong, trus kamu mau nggak?"


"Ya mau mau aja sih," kata Natan dengan senyumnya yang tersirat sedikit keraguan.


"Asal jangan lupa sama janjimu, yang katanya mau lebih serius kuliah dan berusaha memperbaiki IPKmu yang anjlok itu," ucap Holy santai.


"Iyaaa sayangku, kamu tenang aja aku udah tau cara belajar yang tepat biar bisa mendapatkan nilai yang baik."


"Gimana?"


"Yaitu dengan belajar bareng pacarku yang cantik ini," goda Natan dan mengambil buku yang dari tadi dipegang Holy.


"Ih gombal banget sih." Holy menggelitik Natan dan membuat Natan kegelian dan tanpa sadar dia tertawa terbahak. Beberapa orang di perpus itu pun langsung menatap sinis ke arah mereka berdua.


"Tuh kan orang-orang pada ngeliatin kita," kata Natan dan menghentikan tawanya.


"Nggapapa biar kamu semakin terkenal," ucap Holy.


"Nanti kalau aku terkenal, aku jadi sibuk dan kamu nggak punya teman buat berduaan kayak gini lagi."


"Aku masih punya Artyo kok, wekk," kata Holy yang bermaksud untuk bercanda tetapi ternyata kata-kata itu membuat Natan tiba-tiba terdiam. "Kenapa tiba-tiba diam gitu?" tanya Holy yang bingung.


"Nggakpapa, aku nggak suka aja denger kamu sebutin nama itu."


"Emang nggak boleh? Dia kan sahabat aku. Nggak bisa gitu dong."

__ADS_1


Mereka berdua pun menjadi saling diem-dieman.


__ADS_2