
Holy dan Rere akhirnya sampai juga di tempat yang mereka mimpikan. Negeri awalnya tidak pernah terbayangkan oleh mereka untuk mengijakkan kaki di tempat ini. Belanda yang dulu hanya mereka tahu dari buku-buku sejarah, yang menjadikan buku sejarah menjadi tebal karena segala peristiwa-peristiwa di masa lampau. Sekarang menjadi tempat indah untuk mereka mengembangkan sayap.
Mereka berdua sangat senang, ketika sampai dan menginjakkan kaki pertama kali di negara itu. Dengan baju yang stylis mereka sangat percaya diri saat keluar dari bandara. Dengan dijemput oleh orang dari perusahaan yang mensponsori liburan mereka, akhirnya mereka pun diantar ke hotel. Sesampainya di hotel, mereka berdua mendapat beberapa arahan dan aturan selama berada di Belanda.
"Huaa akhirnya kita sampai juga Ly," seru Rere sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk.
"Iyaa, akhirnya... Di pesawat berjam-jam cukup melelahkan juga," kata Holy yang kemudian mengikuti Rere untuk tidur di kasur.
"Gimana udah nggak deg-degan kan naik pesawat?" ejek Rere kepada Holy, karena itu kali pertamanya Holy naik pesawat.
"Ahaha sorry ya walaupun aku pertama kali naik pesawat, aku selalu santai menghadapi apa pun."
"Santai dari mana? Tadi waktu pesawat mulai terbang kamu minta-minta diturunin. Haha untung aku bisa menenangkanmu." Tawa Rere memenuhi kamar itu.
"Oh itu aku hanya acting," Holy membela diri. "Oh iya aku mau ngabarin Artyo dulu."
Holy mengambil HP-nya dan mengabari Artyo jika mereka sudah sampai dan menyuruh Artyo untuk segera datang menghampiri mereka, karena dia sudah tidak sabar bertemu dengannya. Saat Holy sedang sibuk dengan HP-nya ternyata Rere sudah terhipnotis oleh kasur empuk sampai tertidur pulas.
***
Artyo melajukan mobilnya, dia harus melewati jalan yang cukup jauh. Mobil yang dia sewa untuk seminggu sudah sangat siap untuk dibawa ke mana-mana. Untung saja dia sudah pernah ke Belanda bersama teman-temannya jadi dia tidak takut kesasar di perjalanan.
Hatinya sangat tidak sabar bertemu dengan Holy. Semenjak mereka memutuskan untuk berpacaran mereka belum pernah bertemu lagi. Artyo sudah membayangkan akan memeluk Holy dengan erat. Dia ingin mengajak Holy berjalan-jalan ke tempat-tempat seru dan hanya ingin mengahabiskan waktu bersama Holy.
Artyo melihat HP-nya yang bergetar menandakan ada pesan masuk, ternyata itu adalah pesan dari Holy yang mengatakan bahwa dia sedang menunggu kedatangannya. Artyo semakin semangat melajukan mobilnya.
Masih butuh dua jam untuk sampai ke hotel tempat Holy tinggal. Artyo mampir sebentar untuk mengisi perutnya yang sudah sangat kelaparan. Saat di tempat makan, Artyo tiba-tiba kepikiran untuk memberi surprise ke Holy.
"Holy, maafkan aku tadi di perjalanan dicegat polisi dan karena tidak membawa surat2 lengkap. Jadi aku harus balik ke Jerman dan tidak bisa ke tempatmu sekarang. Maaf ya," keluh Artyo yang sedang terhubung telepon dengan Holy.
"Yah kok gitu? Lalu kamu ke sininya kapan?" suara Holy terdengar sangat kecewa.
"Mungkin tiga hari baru bisa ke sana, karena aku harus mengurus surat-suratnya dulu."
__ADS_1
"Huhuhu baiklah kalau begitu. Padahal aku sudah sangat nggak sabar ketemu kamu," rengek Holy.
"Iya aku juga, tapi mau gimana lagi. Maaf ya," Artyo berusaha membuat suaranya sedih agar Holy tidak curiga.
Mereka pun mematikan telepon dan Artyo melanjutkan perjalanan menuju tempat Holy.
***
Holy sangat kecewa mendengar kabar dari Artyo. Dia hanya bisa memendam perasaannya dan memilih untuk memperbaiki moodnya. Dia menyusul Rere yang sudah sampai ke negeri mimpi lebih dulu.
***
Tuk...tuk...tuk
Tuk...tuk...tuk
"Ly tolong bukain pintunya! Dari tadi berisik banget," Rere membangunkan Holy.
"Kakiku tiba-tiba sakit nih. Keseleo kayaknya," kata Rere yang berbohong karena dia sudah tahu kalau yang di depan pintu itu adalah Artyo. Artyo sudah memberitahu Rere kalau dia akan memberi surprise kepada Holy.
"Yaileh, oke deh."
Holy pun berjalan dengan terseok-seok menuju pintu.
"Surpriseee!" teriak Artyo yang membuat Holy sangat terkejut.
"Artyo? Aaaaa," Holy langsung memeluk Artyo dengan sangat senang. "Kok kamu bisa sampai sini?" tanya Holy tanpa melepas pelukannya.
Artyo membalas pelukan Holy dengan sangat erat, sambil membelai rambut panjang Holy. Dia belum bisa berkata apa-apa, dia masih tidak menyangka bisa memeluk Holy seerat ini. Sudah sekitar tiga tahun dia tidak bertemu, dan sekarang dia bisa melihat Holy secara langsung.
"Kamu bohongin aku ya? Katamu kamu nggak bisa ke sini sekarang," Holy akhirnya sadar kalau dia dikerjain. Holy menatap Artyo dengan gemes.
"Hahaha kan biar surprise," Artyo kembali memeluk Holy dengan hangat, dia menempelkan kepala Holy ke dadanya.
__ADS_1
Holy sangat menikmati pelukan hangat itu.
"Ehem permisi, saya mau lewat," sela Rere yang mau keluar melewati pintu yang sejak tadi dipakai oleh Artyo dan Holy untuk berpelukan.
"Eheheh maaf Rere," Artyo segera membuka jalan.
"Mau ke mana Re?" tanya Holy.
"Aku mau me time dulu di cafe depan, kalian berdua dulu aja nggakpapa. Nanti aku kabarin kalau mau balik," Rere memberi kode mata yang susah ditebak oleh Holy.
"Aku bawain makanan nih Re!" cegah Artyo.
"Sisain aja," kata Rere sambil setengah berteriak dan melangkah pergi.
***
Holy dan Artyo sedang duduk di sofa. Mereka tidak hentinya saling menatap. Tatapan lembut dan senyum manis tidak lepas dari wajah mereka.
"Aku mencintaimu Holy."
Wajah Holy memerah dan dengan malu-malu dia menjawab, "Aku juga mencintaimu, Artyo."
Artyo menyentuh wajah Holy, "Wajahmu tidak berubah, Ly. Walaupun sekarang keahlian make-up mu meningkat tetapi kecantikanmu masih seperti dulu."
Holy mendekat untuk melihat detail wajah Artyo dan sedikit mencubit pipinya, "Kamu juga, Tyo. Sekarang kamu semakin ganteng dan semakin menggemaskan. Maaf kalau dulu aku menganggap kamu jelek." Holy tertawa kecil.
Artyo menatap Holy dengan lekat. Sepertinya gejolak di dadanya tidak tertahankan lagi. Dia semakin mendekatkan wajahnya secara perlahan ke arah Holy. Dia ingin sekali mengecup bibir manis sahabat yang sudah menjadi pacarnya itu.
Holy tidak bisa mengelak jika, dia juga mau. Gejolak di dadanya bagai butiran pasir pantai yang menantikan deburan ombak. Holy hanya bisa memejamkan matanya. Perlahan bibirnya terasa hangat.
Tangan mereka saling menggenggam, seperti perangko yang tidak ingin lepas lagi. Terdengar ketukkan gendang dari jantung mereka berdua. Suasana semakin panas, bulir-bulir keringat mereka menetes dari jidat dan membasahi rambut.
Artyo terbawa suasana. Dengan lembut dia menyentuh lekukan-lekukan tubuh Holy. Sentuhan Artyo yang lembut membuat Holy semakin nyaman dan terbawa alur. Mereka berdua semakin bermain di luar kendali...
__ADS_1