Saat Masih 17 Tahun

Saat Masih 17 Tahun
Melindungiku dari hujan


__ADS_3

Aku keluar dari kamarku namun tidak menuju ruang makan, aku melangkah begitu saja keluar rumah. Panggilan Mama tak ku hiraukan.


Mama melihatku dengan gemas dan kesal,


"Maaf ya Ibu ibu, Nadia lagi PMS.. Sepertinya moodnya lagi gak bagus, dia keluar cari angin" kilah Mama tersenyum palsu


"Tapi Nadia baik baik sajakan?" tanya Mami Moses


"Heeh, iya baik baik saja ko jeng hehehe.."


****


Aku masih berjalan melangkah sendu, memikirkan kejadian tadi dirumah tak pernah terbayang yang dilakukan sang Mama sampai seperti itu.


Langkahku malah menuju sekolah, entah apa yang ingin aku lakukan. Fikiranku mungkin saja Arya sudah kembali.


Aku masih berjalan mengitari taman sekolah suara petir menggelegar sepertinya akan turun hujan, benar saja rintik gerimis mulai membasahi tubuhku seolah menutupi tangisanku sejak tadi.


Hujan tambah deras, aku tetap berjalan tak bergeming untuk berteduh tiba tiba ku lihat Arya sudah berada di depanku lengkap dengan sepedanya.


"Kamuuu." sapaku


"Kenapa kamu berjalan seperti ini?" tanyanya


Kulihat wajah Arya babak belur dengan baju yang kotor


"Apa? ada yang mau kamu sampaikan?" tanyaku


Arya terdiam, aku tersenyum kecut


"Sepertinya tak ada ya yang ingin kamu sampaikan padaku.." jawabku lirih dan ingin pergi


"Tunggu, aku ingin menyampaikan... "


Ucapannya terpotong, aku melihatnya bingung


"Kamu jangan berjalan di tengah hujan seperti ini....."

__ADS_1


"Kenapa emangnya?" potongku


"Karena,,, karena nanti kamu masuk angin!" jawabnya kaku aku tersenyum geli, Arya nampak salah tingkah


Tiba tiba petir kembali menggelegar mengagetkan kami berdua. Arya reflek melempar sepedanya, kedua tangannya menutupi kepalaku yang sudah basah sedari tadi.


Kami berdua saling menatap, jantungku pun seakan berdetak 10kali lipat.


****


Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di saung taman.


Aku mengelap baju seragamku yang sudah basah kuyup. Arya menyodorkan sapu tangan lusuhnya.


Aku menatap sapu tangan itu bingung


"Ini bersih ko tenang aja, cuma lecek doang.." Serunya seakan tau isi pikiranku, aku menerimanya


"Makasih."


"Gak nyangka cowo kaya kamu, bawa bawa beginian." ujarku seraya mengusap bajuku dengan sapu tangan Arya


"Harusnya jangan ditaro disaku, itu akan membuatnya tampak lusuh." gumamku


"Bajuku juga lusuh, tap cewe cewe di sekolah selalu bilang aku tetap ganteng!" balasnya pelan tapi tampak percaya diri


Aku membelakkan mata


"Wah, cara bicaramu sepertinya menikmati sekali ya pujian mereka.." godaku


Arya nampak kikuk.


"Aku sudah berusaha menghiraukan, tapi telingaku selalu mendengarkannya... "


Aku tertawa dengan jawaban Arya yang naif. Lalu kami terdiam sejenak


"Teganya kamu gak bertanya mengapa aku sampai berjalan di tengah hujan seperti ini.." ucapku lirih dan menunduk

__ADS_1


Arya menghela nafasnya


"Teganya kamu gak bertanya mengapa wajahku babak belur seperti ini.." balasnya


Aku melihat wajah Arya


"Kamu habis berkelahi ya?"


"Tidak, aku tidak menyukai kekerasan.."


"Lantas apa? sedang berolahraga?"


Ia tertawa kecil "Mungkin hehehhe.."


Ponsel Arya berdering, aku menyuruhnya segera mengangkat telponnya. Ia menghela nafas panjang dengan mimik wajah bingung di angkatnya telepon ke dekat telinganya.


"ARYAAA.. dimana kamuuuuuu?? "teriak Kak Jovita, wajah kami berdua kaget


****


"Hei, bagaimana bisa kamu lupa dengan sift kamu.." seruku setelah hujan reda.


Arya mengelap sepedanya yang basah dengan wajah tersenyum


"Ayo naik.." Ajaknya ia sudah bertengger di atas jok, aku menyerngitkan dahiku


"Aku akan mengantarmu pulang dulu, udah mendung lagi sebentar lagi hujan pasti turun lagi.Ayo..!" Ajaknya sekali lagi


Aku duduk di jok belakang, Arya mulai mengayuh sepedanya menuju rumahku


"Aku mau tanya sesuatu," seruku memegangi tas Arya karena khawatir akan jatuh


"Apa?"


"Lanjutan dari impianmu apa? Bukan karena takut hantu, tapi apaa? " tanyaku lagi


Arya tak menjawab, ia hanya tersenyum aku mrmbalas senyumannya.

__ADS_1


Kami bersepeda dalam keadaan basah kuyup tapi entah mengapa justru ini rasanya hangat, sesekali angin tertiup ke arah kami dengan lembut.


__ADS_2