Saat Masih 17 Tahun

Saat Masih 17 Tahun
Buka lembaran baru


__ADS_3

Di kelas


"Eng, tentu... baiklaah.."


"Yang ingin bapak sampaikan adalah.."


Arya mengemasi buku bukunya ke dalam tas dengan kesal. Pak Rian tak meneruskan omongannya.


"Arya, kamu mau pergi?" tanyanya


"Itu bukan urusan Bapak, lagipula Bapak sudah bukan guru saya lagi!" jawabnya dingin tak bergeming membereskan buku bukunya.


"Arya.. " sahut Gilang menahannya, semua murid menatapnya


"Tapi sebaiknya kamu dengarkan Bapak dulu Arya." titah Pak Rian. Arya terdiam


"Yang ingin Bapak katakan adalah.... bukan kata perpisahan ko, awalnya memang Bapak ingin mengundurkan diri namun tidak jadi. Bukankah cari pekerjaan itu sulit yaaa ha.. ha.. hahahahaa.." jawabnya


Mereka semua terkejut, Moses dan Nino saling berpandangan dengan wajah cemas.


Suasana mulai gaduh..


"Dan juga, Bapak mau memberikan informasi kalau wali kelas kalian sekarang adalah,.... Bapak sendiri, Mohon kerjasamanya ya anak anak..!" sambungnya lagi.


Semua murid terkejut termasuk Arya.


"Benarkah pak? waaah itu sangat bagus horee!!!!" pekik Ipeh seraya bertepuk tangan dengan keras, semua murid tertawa senang dan ikut menyoraki Pak Rian. Arya bertepuk tangan pelan sambil tersenyum, Pak Rian membalas senyumannya.


"Sudah sudah jangan gaduh.. hehe"


Flashback


Sebenarnya yang terjadi adalah, Pak Rian memang memberikan surat pengunduran dirinya kepada Pak Kepsek. Tapi ditolak Pak Kepsek lantaran Wali Kelas mereka dirawat di rumah sakit lagi.


Hal ini justru jadi peluang baik untuk Pak Rian, ia sengaja jual mahal kepada Pak Kepsek yang sudah meremehkannya.

__ADS_1


"Ayolah Pak Rian jangan merajuk begini, masa mau mengundurkan diri disaat seperti ini.." bujuk Pak Kepsek


"Tapikan Bapak yang minta saya mengosongkan tempatnya Pak Abdul.. jadi lebih baik saya mengundurkan diri saja!" jawab Pak Rian ketus.


"Iya, tapi Pak abdul masuk rumah sakit lagi, tolonglah sampai Pak Abdul kembali, Pak Rian tetap disini jadi pengganti wali kelas mereka.." Pak Kepsek setengah memohon.


"Tidak, aku tidak mau jadi pengganti wali kelas. Jadikan aku Wali kelas resmi mereka!!" pinta Pak Rian.


Begitulah cerita sebenarnya.


Pak Rian tersenyum bahagian di hadapan murid kelas II Ipa 3.


****


Bel berbunyi tanda pelajaran berakhir, Arya berjalan di koridor berpapasan dengan Moses, Nino, Dian dll.


"Arya, kamu mau pergi bekerja? pasti berat ya belajar sambil bekerja?" sapa Moses sok baik, Arya mengabaikannya.


"Nino.." Panggil Arya, Nino menoleh


"Mulai meracau lagi ni anak!" geram Dian, Nino segera menghalau Dian.


"Sudah, sudah ayo jalan.." ujar Nino seraya meninggalkan Arya.


Moses menatap Arya sejenak kemudian pergi.


****


Pak Rian menunggu Arya di parkiran. Ia ingin mengajak Arya makan disekitaran sekolah, sekedar makan Pizza.


"Kau sudah lebih baik sekarang?" tanya Pak Rian saat mereka berjalan berdampingan.


"Heum pak, sudah,"


"Syukurlah, aku senang mendengarnya.."

__ADS_1


"Kamu sebetulnya tidak mempercayaiku ya? tempo hari yang lalu saat ku telpon, kamu tak bersemangat? huft, memalukan sekali aku Ini.." tanya Pak Rian nampak murung


"Kenapa? justru itulah pesona Bapak. Bapak orang yang sangat naif, " jawab Arya


"Naif katamu? hei, dengar sejak hari itu aku bertekad menjadi guru yang bisa dipercayai kamu, yang bisa diandalkan oleh seorang Arya Fadillah.." Jawabnya berapi api, Arya tersenyum.


"Aku mempercayai Bapak ko."


"Jangan bohong kamu, itu tertulis dijidatmu Pak Rian tidak dapat di andalkan.." serunya lagi seraya menyibak poni Arya, Arya mengelaknya.


"Jangan dirusak tatanan gaya rambutku pak.."


ujarnya seraya merapihkanya kembali.


"Itu gaya rambutmu?" Arya mengangguk.


"Hei, beraninya kau memerintah gurumu dasar berandal.." kata Pak Rian lagi, mereka berdua tertawa hangat.


"Terimakasih pak, sudah mengajakku jalan hari ini.." ucap Arya tulus.


Pak Rian merangkul bahu Arya. "Dengarkan Bapak Arya, mulai sekarang lupakanlah semuanya dan mari kita mulai lembaran baru.Mari kita berhenti depresi dan menyalahkan diri sendiri?"


Arya mengangguk mantap "Baiklah."


"Kamu pasti terkejutkan ada kabar aku mengundurkan diri?" tanya Pak Rian


Arya menoleh


"Tidak!!" jawabnya bohong.


"Kamu jangan ngeles, kamu pasti hampir menangis??"


"Tidak pak," jawab Arya setengah menahan tawanya.


"Jangan bohong kamu..sungguh? tidak?" tanyanya lagi. Mereka berdua malah tertawa sambil terus melangkah.

__ADS_1


__ADS_2