
Di toko
#Arya#
Aku memasukkan baju seragamku di ruang ganti di toko, tapi tasku malah terjatuh dan berserakan ke bawah.
Aku memasukan barang barangku yang tercecer, saputangan yang kuletakkan di buku tulis menyembul keluar.
Aku meraba saputangan bersih yang di cuci Nadia.
"Ini sudah ku cuci dan ku setrika.."
Seolah bayangan lalu saat Nadia berkata seperti itu muncul di kepalaku. Aku menyesal tak seharusnya aku marah padanya waktu itu.
Kuhela nafasku dalam dalam.
"Nadia, maafkan aku...... " isi text ini bahkan tak berani kukirim kepadanya walau hanya sebuah pesan whatsapp.
"Bagaimana ini???" gerutuku dalam hati.
*****
Keesokan harinya
Aku melihat Nadia kerepotan membawa buku buku dari arah perpus. Aku segera menghampirinya.
"Biar aku yang bawakan.." seruku seraya mengambil tumpukan buku ditangan Nadia
"Tidak usah!" jawabnya canggung.
"Tidak apa apa.." balasku, kamipun pergi menuju kelas.
Kuletakkan buku buku itu di podium kelas, mata kami sempat beradu pandang sebentar. Aku melangkah menuju kursiku.
Moses melirikku dengan tatapan aneh.
"Temen temen ini lembar soal untuk pelajaran kimia ya.." ujarnya membagikan lembar soal tiap meja depan untuk di berikan estafet sampai belakang.
*****
Di pelajaran terakhir
__ADS_1
Pak Rian datang ke kelas kami.
"Anak anak sebelum pulang, ada pelajaran tambahan bahasa inggris dari Bapak 2 jam ya!"
"Maaf pak kami ada jadwal kelompok belajar, tidak bisa mengikuti kelas tambahan bapak!" Moses mengangkat tangan tanda protes
"Jadi menurutmu kelompok belajarmu lebih penting daripada kelas tambahanku??" tanya Pak Rian agak ketus.
Moses kelihatan kikuk.
"Tapi itukan bukan kelas reguler pak." jawabnya lagi.
'Bukan Moses kalo gak sok bossy'
"Baiklah siapa yang mau ikut kelas tambahan Bapak angkat tangan?"
Sebagian anak mengangkat tangannya, sebagian lagi yang diam tentu ikut kelompok belajar Moses, Aku? hanya terdiam. Pak Rian nampak melototiku, aku menggaruk pelipisku.
"Kami akan ikut kelas tambahan bapak." jawab Nadia, Moses menoleh padanya.
****
Aku sengaja mendatangi kelompok belajar Moses yang terletak di ujung koridor.
'Ceklek'
Pintu terbuka, mereka yang didalam sana nampak terkejut dengan kehadiranku.
"Arya, mau apa kemari?" tanya Moses yang sedang membagikan lembar soal.
Kuletakkan tasku di salah satu meja.
"Mengapa? aku tak boleh ikut kelompok belajarmu?" tanyaku acuh tak acuh.
"Tapi untuk masuk ke kelompok belajar ini ada test levelnya. Kamu kalo mau belajar boleh ku ajarkan private.."
"Kenapa aku harus test dulu? apa menurutmu aku kurang pintar?"
Dian dan Karina nampak tertawa.
"Maaf ya kalo kamu tersinggung, baiklah kamu boleh ikut kelompok belajar ini. Silahkan duduk dikursi depan.." Jawab Moses mengalah namun aku malah mengambil tasku dan kembali memakainya.
__ADS_1
Memang rencanaku mempermainkan emosinya.
"Aduh maaf tuh, aku harus bekerja.." jawabku, Moses menatapku mulai kesal.
Aku pergi beberapa langkah, namun kembali lagi.
"Ohya Moses, bukankah belajar sendiri sudah sangat menyibukkan dirimu,agar kau tetap jadi peringkat pertama di sekolah? mengapa kau repot repot membuat kelompok belajar segala?" tanyaku lagi
Moses nampak kikuk menjawab pertanyaanku "Eng, anu.. itu..."
"Itu karena Moses orang yang sangat baik, ia ingin teman temannya jadi orang yang berhasil juga!" Nino memotong jawaban Moses yang sedang bingung.
"Begitu ya rupanya, sungguh berat jadi dirimu yaa.." Aku tertawa sinis lalu kemudian meninggalkan ruangan itu.
****
Saat aku hendak keluar dari gerbang kulihat Mamanya Nadia tergesa gesa memasuki sekolah, wajahnya nampak tak bersahabat.
Benar saja, Mamanya Nadia mendatangi kelas Nadia pada saat kelas tambahan Pak Rian berlangsung.
'Tok tok tok'
"Permisi pak.." sapa sang Mama, Nadia membelakkan matanya.
"Iya bu? ada perlu apa?" tanya Pak Rian
"Saya Mamanya Nadia, mau ada perlu sebentar dengan Nadia. Boleh pak saya bawa Nadia keluar?"
Pak Rian mengangguk bingung.
Nadia pergi keluar bersama Ibunya, Sang Mama membawanya kebelakang sekolah.
"Kamu keluar dari lesnya Pak Haykal ya?" tanya sang Mama tanpa basa basi.
Nadia mengangguk pelan.
"Apa kamu sudah gila? Nadia apa kamu benar benar sudah gila hah? kamu tau gimana Mama menjilat Maminya Moses kemarin? kamu tau Mama bersikap seperti pelayan dihadapan dia dan ibu ibu yang lain? untuk apa kamu keluar dari kelas itu tanpa memberitahu Mama hah??" bentak Mama Nadia bertubi tubi.
"Kenapa Mama datang ke kelasku begitu saja? itu membuatku malu mah." tanya Nadia menunduk.
"Malu katamu? bilang lagi memalukan??" sang Mama mulai memukul lengan Nadia dengan keras. Nadia amat terkejut Mamanya sampai bereaksi seperti ini.
__ADS_1