
Aku berlari dari loby menuju UGD di ikuti wajah bingung Nadia dan Pak Rian.
Kabar yang sangat mengejutkan Dika, sahabat kecilku mengalami kecelakaan bus di Bogor.
Bogor??
Mau apa dia ke Bogor?!
Segala pertanyaan muncul dibenakku, aku menarik rambutku dengan frustasi. Melihat Dika sedang dipasang alat pompa jantung seperti di film film. Pak Rian datang menenangkanku..
Airmataku menetes bahkan meraung raung melihat alat di tubuh Dika dilepas, dan seluruh tubuhnya ditutup kain putih, Ia sudah meninggal dunia.
Kolase peristiwa persahabatan kita sejak kecil, seketika menari nari di fikiranku seraya menangisi kepergian sahabatku untuk selamanya.
Aku nyaris tak percaya.
Ternyata Dika hendak pergi ke rumah Ayahnya, Ayah dan Ibu Dika sudah lama bercerai. Ibu Dika meninggal dunia saat Dika Tk, sebabnya Dika tinggal di Sukabumi dengan Neneknya. Tapi mengapa kali ini ia hendak pergi ke Bogor??
Sementara jenazah di urus pihak Rumah Sakit, aku melihat surat yang diberikan polisi di tempat kejadian.
Pak Rian dan Nadia masih menemaniku, kubaca isi tulisan itu.
Arya sahabatku,
*Aku memutuskan berhenti sekolah. Aku ingin pergi bekerja saja. Maka dari itu aku menghubungi Ayahku lagi, ia berkata ada pekerjaan sebagai kenek di tempat bangunan. Aku tau membaca surat ini, kau pasti marah. Namun, saat ini yang dapat lakukan adalah ini. Aku ingin kembali menata hidupku dari awal lagi, aku ingin menebus dosaku karena membiarkanmu mengakui kesalahanku sebagai tersangka pencurian di sekolah, yang membuatmu dikeluarkan. Arya kau adalah sahabat terbaikku, sejak kecil kita bersama. Walaupun hidup kita sudah rumit sejak kecil namun bersamamu hal itu terasa ringan, bersemangatlah Arya, hidupmu lebih baik dari aku. Setidaknya kamu masih memiliki Ibu, akupun juga akan bersemangat disini. Mari kita sama sama memulai hidup yang baru, aku janji kalo libur aku akan mengunjungimu.Tentu ini lebih dekat jaraknya bukan?
Salam Hormatku,
__ADS_1
sahabatmu ~Dika*~
Aku meremas surat itu dan menangis sejadi jadinya. Bahkan aku tak bisa melihatnya untuk yang terakhir kali.
Pak Rian dan Nadia turut membaca surat dari Dika yang sudah jatuh di lantai.
Nadia memegang mulutnya sangat terkejut begitupun Pak Rian.
Di usapnya punggungku dengan lembut oleh Nadia, dipeluknya tubuhku oleh Pak Rian.
****
Di Bogor
Aku masih terpaku menatap gundukan tanah Merah bertuliskan nama Dika Saputra di batu nisan, Pak Rian dan Nadia masih menemaniku.
Pak Rian dan Nadia pun mengajakku pulang setelah pukul 7 malam, tadinya aku enggan beranjak namun kulihat Nadia sepertinya sudah lelah, dan lagipula kasian dia harus pulang terlalu malam. Akhirnya ku iyakan, dan kami pulang menuju jakarta dengan mobil Pak Rian.
Di perjalanan aku masih mematung, diam tak bicara. Pak Rian dan Nadia pun rasanya sungkan untuk mengajakku berbicara, mereka memahamiku yang sedang berduka.
Kamipun telah sampai dirumah setelah mengantarkan Nadia terlebih dahulu.
"Arya, kamu mau makan?" tanya Pak Rian
Aku menggeleng lemah, Pak Rian memahamiku iapun mengangguk dan terus menyetir.
Kamipun sampai, Pak Rian berkata besok aku tak perlu masuk jika keadaanku blm membaik, aku hanya mengangguk.
__ADS_1
'Ceklek'
Ku buka pintu rumahku, ternyata disana Ibuku sudah menungguku.
"Kamu udah pulang nak?" tanyanya khawatir
"Ko Ibu ada disini?" tanyaku lirih
"Ibu kawatir denganmu, kamu baik baik saja?" tanyanya
Aku diam, tak tau harus bicara apa.Kupandangi foto kami berdua saat masi kecil, aku dan Dika tertawa riang. Entah apa yang dulu kami tertawakan sampai difoto aku dan dia terlihat sangat bahagia.
'Tess'
Airmata ini menetes lagi, aku tak kuasa menghalaunya Ibuku tampak mengkhawatirkan aku.
"Nak, ibu tau kamu sedih.."
"Bu aku mau beli air dulu ya.." potongku beranjak ingin pergi
"Nak, tapi kita masih punya Air."
Aku kebingungan, "Aku beli air dulu bu.." aku tetap pergi keluar rumah.
Namun alih alih membeli air, aku malah berdiam diri menangisi kepergian Dika di teras. Aku hanya tak sanggup menangis di depan Ibuku.
Ibu melihatku di jendela dengan airmata berlinang. "Tabahlah nak.." isaknya.
__ADS_1