Saat Masih 17 Tahun

Saat Masih 17 Tahun
Aku percaya kamu


__ADS_3

Di Class Private


#Nadia#


Aku keluar dari ruang private class dengan hati gembira, sepertinya aku berhasil meyakinkan guru private itu bahwa aku tak menginginkan les private, tinggal nanti dirumah aku akan bicara pada Mama.


'Huffft' aku menghela nafas.


Kulihat sepeda milik Arya dan tersenyum senang, ku kayuh sepedanya menuju tempat kerja Arya


****


Sepeda Arya sudah terparkir dengan baik didepan SEVEL. Mataku celingukan mencari sosoknya di kaca


"Cari siapa?" tanyanya sambil mengikuti tingkahku, aku meloncat karena kaget


"Astaga, kamu ngagetin aja!" seruku


"Itu sepedamu sudah aku kembalikan.." sahutku sambil menunjuk sepedanya, Arya melihatnya dengan wajah sumringah, di periksanya setiap sudut sepeda seolah olah aku menggunakannya tidak baik.


"Terimakasih sudah mengembalikan sepedaku." ujarnya lalu masuk ke minimarket


Aku menggerutu "Apaan sih sepeda rongsok aja segitunya.."


Ku ikuti langkahnya masuk kedalam dan memberikan makalah tugas kelompok kami lagi.


"Aku sudah mengerjakannya," ia hanya melirik sekilas


"Tapi masih ada kesalahan disini, kau tak menulis nama penerbitnya.." balasku


"Sudah kutulis disini." tunjuknya


"Tapi kutipannya tak kamu tulis, kamu harus melakukannya besok ya.."


Arya menatapku


"Bukankah aku sudah bilang, besok aku takkan datang lagi ke sekolah," jawabnya


"Itu masalahmu, walaupun kamu akan pergi tapi selesaikan dulu tanggung jawabmu. Seperti aku mengembalikan sepedamu dengan baik, mengerti?" jelasku


Arya mengangguk angguk tanda setuju

__ADS_1


"Baiklah.."


Aku tersenyum senang dengan jawabannya setidaknya besok aku masih bisa melihatnya


"Ada yang mau aku tanyakan padamu," sahutku pelan


"Apa?"


"Hm, apa benar kamu yang mencuri jam tangan guru les itu?"


Arya terdiam, aku kikuk sepertinya aku salah bertanya seperti ini.


"Sudahlah, aku yakin kau tidak melakukannya. Selamat malam, terimakasih untuk sepedanya" jawabku membuka pintu


"Mengapa? mengapa kamu yakin aku tak melakukannya?" tanya Arya


"Hm, ada dua hal..


Yang pertama pergerakanmu terlalu lambat untuk seorang pencuri dan yang kedua, kau pasti merasa jika mencuri itu hanya akan membuatmu repot." paparku padanya


Arya tersenyum maniiiiis sekali,


Waah rasanya hatiku tergetar melihat senyum manisnya...


****


Aku celingukan mencari sosok Arya, dimana si anak yang punya senyum manis itu? rasa rasanya setiap sudut ruangan sekolah sudah aku datangi, tapi batang hidungnya belum juga kutemukan, apakah ia berbohong tak jadi datang pagi ini???


"Dasar Arya pecundang, mikir apa sih aku berharap padanya!!" gerutuku kesal


Kulanjutkan langkahku menuju kelas tiba tiba Arya menghampiriku dengan tersenyum, aku sangat bahagia melihat ia datang.


"Kau datang?" sapaku ia mengangguk dan tersenyum


Seketika perasaan hangat ini berubah Arya di panggil ke ruangan loker karena jam tangan itu tiba tiba ada di loker Arya.


Semua orang mengerumuni kami dan membully Arya


"Arya aku tak menyangka kau benar melakukannya" seru Nino


"Mengapa kau membuka lokerku?" tanya Arya dingin Moses hadir di belakang Arya

__ADS_1


"Anu, tadinya aku ingin mengganti loker ini untuk si Dian, jadi aku bongkar saja toh kamu sudah tidak akan datang lagi hari ini." jawabnya kikuk


"Darimana kamu tau kalo sejak hari ini aku tak akan datang lagi kesekolah? sedangkan aku hanya memberi tahu Nadia saja."


"Dan aku tidak memberitahu siapapun tentang ini." aku melanjutkan perkataan Arya


Nino seperti mati kutu tak dapat berkata apapun, Kepala Sekolah dan Pak Rian pun datang lalu membawa Arya ke ruang guru.


****


Di ruang guru


#Arya#


Di ruang guru Kepala Sekolah habis habisan memarahiku, sejujurnya aku tak tahan namun beberapa kali Pak Rian menahan tanganku agar aku bisa diam saja dahulu.


"Kau urus anak ini Pak Rian, semoga saja masalah ini tidak menyebar ke luar sekolah" tukas Kepala Sekolah


Moses menghampiri kami dan berkata bahwa Pak Haykal sudah memaafkanku dan tak akan mempermasalahkan masalah ini lagi. Ia hanya meminta jam tangannya dikembalikan.


Semua orang memuji Kehebatan Moses dalam bernegosiasi, hatiku menggelitik kesal


"Apanya yang sudah beres? bahkan kita belum menemukan siapa yang menaruh jam tangan itu di lokerku.." Celetukku


Kepala Sekolah dan Moses melototiku, Pak Rian nampak tertegun dengan ucapanku


****


Aku melangkah mengikuti langkah Moses yang hendak menuju kelas


"Moses.." panggilku, ia menoleh


"Mengapa harus sampai seperti ini? bukankah aku akan pergi, kenapa kau tak biarkan aku pergi dengan tenang?" tanyaku


Ia tertawa jahat "Kau mau tau kenapa aku melakukan ini? karena sampah sepertimu sudah mengganggu dan merepotkanku."


"Apa maksudmu dengan sampah sepertiku?"


"Kau, akan selalu begini bukan? sampah sepertimu tak akan benar benar peduli pada hidupmu, dibullypun tak akan apa apa, kau bisa menahannya lalu pergi melarikan diri, kau ini hanya bertahan hidup saja bukan? bahkan tak ada seorangpun yang menganggap dan mengharapkanmu, sungguh aku mengasihanimu.." jawabku berlalu begitu saja


Perih sekali aku rasakan kata katanya, bathinku berkata haruskah aku begini terus? adakah cari lain yang bisa kulakukan untuk membersihkan namaku??

__ADS_1


Bayu, aku teringat pada Bayu...


__ADS_2