
#Arya#
Aku pergi mencari Bayu di kelasnya namun tak ada, sepertinya kelasnya sedang pelajaran olah raga.
Kucari terus dia, ternyata ia sedang lari estafet kukejar ia sekuat tenagaku. Bayu yang melihatku bukan berhenti malah tancap gas, aku masih mengejarnya mati matian
Kelvin dan Dito melirik ke jendela, mereka bersorak sorak ketika aku mengejar Bayu seketika suasana kelas menjadi riuh melihat pemandangan kami yang tak biasa, Nadia pun sekilas ikut melihat, hanya Moses yang tampak gelisah.
"Arya ngapain ngejar ngejar si Bayu, boleh juga tuh larinya anak baru itu." seru Dito
"Woy Arya ngapain lo?" teriak Kelvin menyembulkan kepalanya
"Kelvin, Dito duduklah pelajaran masih berlangsung!" titah Moses.
****
Di lapangan
Sementara aku masih terus mengejarnya
"Bayuuu.." panggilku masih berlari
"Hh..hhh siapa kau?" tanyanya
"Kau ingat aku? aku yang ditempat kursus waktu itu, apa benar kau mengatakan kalo aku yang mencuri jam tangan itu?"
"Siapa yang bilang?"
"Moses.,"
"Apa? Moses? dasar si bedebah itu tak tau malu.." lari nya terhenti akupun juga kelelahan.
Setelah berlari kami berdua berbincang sejujurnya aku tak mengerti maksud perbincangannya, Bayu masih tak mau menjelaskan apa yang terjadi padahal aku yakin dia tau yang sebenarnya.
Moses hendak pergi ke kantin tapi langkahnya terhenti melihat kami
Bayu melihat Moses dan tertawa licik
"Hei Moses kau lihat anak baru itu? dia hebat sekali larinya aku sampai kewalahan," ujarnya Moses diam saja, ku hampiri mereka
__ADS_1
"Kau bilang aku melihat dia mencuri jam tangan Pak Haykal ya?"
"Iya," jawab Moses kikuk Bayu tertawa geli aku melihatnya Bayu seperti sedang mempermainkan aku dan Moses
"Hei anak baru kau mau tau jawabannya?" tanya aku masih diam menatapnya
"Yaa Moses benar aku melihatnya hahaha," benar saja dia hanya mempermainkanku, aku berlalu dengan kesal tak ada satupun yang bisa menolongku.
"Kau senangkan Moses?" bisik Bayu lalu pergi
****
Di gerbang Pak Rian sudah menghadangku
"Kau mau kemana? mau pergi? mau membiarkan mereka semua menang?" tanya Pak Rian aku tak bereaksi lalu melanjutkan langkahku
"Hei, apa kau fikir kau keren dengan pergi seperti ini kamu sama sekali gak keren, kau faham itu!!" teriaknya tak kuhiraukan ucapannya
"Kaburlaah, silahkan kabuuuur, kamu gak keren, sekarang panggilanmu si kabuuurr, hei Aryaaa" Pak Rian tak berhasil membujukmu
Wajahnya mengiba melihatku diperlakukan begini "Bagaimana caranya aku bisa menolongnya?"
****
Setelah pulang dari bekerja aku berjalan gontai, meratapi nasibku yang tak pernah baik baik saja.
Aku hidup sendirian sedari kecil, Ibu sering pergi meninggalkanku sejak kami masih di Sukabumi, pergi bekerja di Bekasi. Ayahku sejak lahir tak pernah ku temuinya
Tiba tiba aku teringat ayahku berada dijakarta, aku pernah mencatat alamatnya dari bibiku sepertinya tak jauh dari sini.
Kukayuh sepedaku dengan perasaan tak menentu akahkan ia mengenaliku?
Sesampai di sebuah rumah aku melihat Ayahku bersama seorang anak berusia 6 tahun sedang bermain basket di depan rumahnya. Ada perasaan ragu bercampur bahagia melihat Ayahku, namun hatiku juga pilu melihat ia sangat senang bermain bersama anak lelaki itu perasaan yang tak pernah kurasakan, kasih sayang dari seorang Ayah.
Ku hampirinya ia menatapku lama
"Cari siapa dik?" tanyanya aku tersentak
"Tidakkah kau mengenaliku?" tanyaku pelan
__ADS_1
"Apa? kau siapa? mungkin salah alamat!" jawabnya dan pergi masuk ke dalam rumah. Aku diam membisu sakit ini sakit sekali.
Kukayuh lagi sepeda bututku pergi meninggalkan tempat itu buliran airmata menetes dalam perjalananku,
Sejak dulu aku sering berfikir jika aku bertemu dengannya, apa yang hendak aku ceritakan tapi ternyata ini kenyataannya...
1jam perjalanan itu membuatku merasa semakin tak berarti lantas untuk apa aku hidup? mengapa aku harus merasakan kesedihan ini di usia semuda ini....
****
Sesampai dirumah
Ponselku berdering
"Ya bu,"
"Arya kamu sudah sampai rumah?"
"Sudah bu,"
"Sudah berkemas nak? besok jam 7 pagi ibu akan menjemputmu. Bawa saja baju bajumu dulu nanti barang barang kita ambil bertahap saja"
"Iya ibu, bu maaf,"
"Kenapa Arya minta maaf?"
"Karena Arya bikin masalah lagi*" jawabku
Ibu mulai terisak "Tidak nak, bukan kamu yang salah. Semua ini salah Ibu karena kamu gak pernah tinggal sama ibu kamu jadi begini, harusnya dari dulu kamu tinggalnya sama ibu, semua karena uang sialan itu huhu hiks hiks.Kamu jadi jauh dari ibumu sendiri, kamu kesepian karena ibumu nak hiks hiks"
Tangisku pun tertahan sesak sesak sekali
"Ibu kumohon jangan menangis" isakku lirih
Ibu terisak isak kemudian mengambil nafas dengan panjang.
"Iya nak, baik ibu tak akan menangis lagi. sudah ya Arya, tinggal lah disini, kita buka lembaran baru lagi. Ibu bahagia akhirnya Arya tinggal sama Ibu. Mari kita hidup bahagia bersama disini ya nak, jangan banyak yang Arya fikirkan. Fikirkan yang bikin Arya bahagia aja ya. Sudah dulu ya nak, ibu lelah mau beristirahat..."
Panggilan sudah ditutup, aku tau ibu pasti masih sedang menangis tersedu sedu. Ibuku melahirkanku pada saat usianya masih sangat muda dan belum dewasa, tapi ia tak pernah kabur meninggalkan aku.Tidak seperti diriku yang pecundang ini.
__ADS_1
Mengapa aku selalu kabur? aku si kabur? si pecundang yang selalu kabur! sampai kapan aku selalu kabur? tak bisakah jika aku tak kabur?