
Di belakang sekolah.
"Malu katamu? bilang lagi memalukan??" sang Mama mulai memukul lengan Nadia dengan keras. Nadia amat terkejut Mamanya sampai bereaksi seperti ini.
"Kamu harusnya ngaca? bercermin sana, kamulah yang bikin Mama malu.."
"Mama sangat malu, karena kamu Mama gak bisa menghadiri reuni sekolah. Semua anak anaknya teman Mama peringkat 1 disekolahnya,kamu faham itu gak? terus kamu apa? apa yang dibanggakan dari kamu hah? itu sebabnya Mama berusaha dengan keras supaya kamu bisa masuk UI. kamu ngerti gak sih????!"
Kali ini bukan hanya membentak, namun menunjuk nunjuk wajah Nadia dan sesekali memukul bahu Nadia.
Nadia nampak syok dengan perlakuan ibunya. Ia menatap wajah Ibunya dengan berurai airmata.
"Apa Mama menikah hanya untuk menghadiri reuni alumni? apa Mama melahirkan aku hanya untuk menyombongkan diri Mama? Kalau begitu singkirkan saja aku, adopsi saja murid pintar dan hebat yang bisa membanggakanmu. Bukan malah menyiksaku begini.." jerit Nadia.
Mamanya membelakkan mata.
"Apa katamu? dasar anak nakal, bilang lagi coba? ayo coba kau katakan lagi!!" sang Mama masih memukuli lengan Nadia.
"Aku gak bisa masuk UI, meskipun Mama membawakan aku guru yang lebih hebat dari Pak Haykal. Itu tidak akan berhasil, itu mustahil. Aku lebih puas masuk Universitas dengan kemampuanku sendiri. Kenapa Mama gak bisa mengerti itu?"
Sang Mama berkacak pinggang dengan kesal.
"Baiklah, lakukan apa maumu, lakukan semaumu.Pergilah dari rumah Mama, Mama gak butuh anak sepertimu.!!sana pergi... " hardiknya
Nadia menatap lekat lekat sang Mama.
"Mama fikir aku gak bisa pergi meninggalkan rumah? terimakasih sudah membiarkan aku hidup sesukaku.." pekiknya berlalu seraya memegang bahunya yang sakit oleh ulah sang Mama.
"Nadiaaa..kesini kamu,Nadiaaaa.. dasar anak itu.Nadiaaa kembaliiii"
Nadia berlari menuju toilet dengan menangis. tanpa ia sadari aku duduk terdiam dibalik tembok sekolah tadi.
__ADS_1
Aku merasa iba mendengarkan pertengkaran Nadia dan Mamanya.
Setelah membersihkan wajahnya dari sisa sisa airmata, ia meminta ijin untuk pulang kepada Pak Rian. Teman teman Nadia kebingungan melihat wajah Nadia yang sembab.
****
Di gerbang kelas
Aku menunggu Nadia di pintu gerbang, Nadia berjalan perlahan wajahnya nampak sangat murung.
Tiba tiba ia melihatku, "Pergilah, aku sedang tak mau bertengkar denganmu sekarang.." ucapnya lirih.
Ia melanjutkan langkahnya, aku terus mengikutinya dari belakang.
"Pergilah!"
"Iya iya aku pergi.." jawabku
"Bukankah itu kata kataku yang biasa aku ucapkan padamu?"
Aku terdiam, kemudian mengangguk.
"Kamu benar, tapi tak bisakah aku juga mengatakan ini padamu? kamu nampak tak baik baik saja." jawabku. Nadia melihatku
"Aku mengkhawatirkanmu, aku tadi melihat Mamamu.."
Nadia menghela nafasnya karena malu.
"Sekarang kamu tau, hidupku tak selalu baik baik saja.Jadi bukan cuma kamu yang menderita.." gumamnya pelan.
"Kurasa begitu." jawabku juga pelan,
__ADS_1
Ia melihatku dengan wajah ingin menangis.
"Begini nad, aku mau minta maaf soal kemarin...."
"Bisakah kamu pergi meninggalkanku sendiri?" potongnya seraya menunduk
"Ta.. tapii.."
"Pergilaah. " suruhnya, aku menggelengkan kepalaku..
"Cepat pergii..!"
Akupun menaiki sepedaku, ia menatapku dengan mimik bingung.
Baru saja sepedaku meluncur, Nadia berkata lagi.
"Omong omong, mengapa kamu tak pernah meminta maaf padaku?" tanyanya
"Aku baru saja mencobanya..."
"Selain itu, aku bukan pacarnya Moses.."
Aku terdiam, ia nampak menghela nafasnya.
"Aku melakukan itu bukan karena kasian padamu tau..."
"Aku tau sebabnya aku mencoba meminta maaf pada.... "
"Aku begitu karena aku menyukaimu, lalu.. apa yang akan kamu laku... kan seka..rang??!"
Aku melotot, terkejut, terperanjat, terperangah atau apalah namanya, aku menoleh kearahnya tanpa menyadari sepedaku lepas kendali begitu saja, meluncur dengan cepat di antara turunan jalan. Aku kehilangan keseimbangan. Nadia berlari mengejarku.
__ADS_1
"Heiii, Aryaaaa.." pekik Nadia.