Saat Masih 17 Tahun

Saat Masih 17 Tahun
Kau yang tak terlihat


__ADS_3

Di kantin


#Nadia#


"Benarkah Arya yang mencuri jam tangan itu?" tanyaku pada Moses saat makan siang


"Entahlah, tapi sepertinya begitu," jawabnya mengunyah nasinya


"Tapi dia sepertinya gak begitu.." sahutku lagi


"Kenapa kamu punya fikiran seperti itu?"


Pertanyaan Moses membuatku bingung, aku hanya menggeleng


"Nad, fix hancur kelompok kita. Bentar lagi pasti pada tau kasus ini" tukas Ina


"Kita harus berhati hati sama dia, adakah yang kehilangan barang barang?" seru Nino


Ina kerepotan memeriksa barang barangnya


"Hah! anting gw, anting gw mana kado ulang tahun dari mama gw!!" katanya panik semua terkejut


Alma memegang telinga Ina


"Antingnya disini Ina.." sahutnya Ina nyengir aku menggelengkan kepala


"Habiskanlah makananmu," ujarku


"Hei, Moses kelasmu sepertinya dalam masalah.." Bayu datang tiba tiba wajah Moses tampak tidak senang


"Rasain ya jam tangan Pak Haikal hilang, dia kan sombong banget. Moses apa kau tak ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya seperti nada memancing


Moses terperangah dan tampak kikuk


"Nad, aku duluan ya.. " sahutnya padaku lalu pergi di susul Nino


Bayu memperhatikannya tertawa licik kemudian pergi


****


Di depan taman


Aku berpapasan dengan Arya wajahnya terlihat murung. Pas sekali aku hendak memberinya tugas kelompok.


"Kebetulan sekali, aku ingin memberikan ini"


"Apa ini?" tanyanya


"Tugas kelompok, kau harus mengerjakannya jugakan!"


"Tapi aku dan orangtuaku memutuskan untuk pindah dari sini besok....."


"Tapi namamu sudah tercantum di sini, setidaknya selesaikan tanggung jawabmu dahulu di kelompok ini."

__ADS_1


Aku memotong ucapannya, Arya diam


"Ini carilah referensinya di perpustakaan. Selesaikan dan berikanlah kepadaku sebelum kamu pergi." tambahku lalu meninggalkannya


****


Di perpustakaan


#Arya#


Aku mencari buku buku di perpustakaan untuk bahan referensi tugas kelompok yang barusan di beri Nadia. Akan kuselesaikan semuanya hari ini karena mungkin besok aku tak akan datang lagi.


Lagi dan lagi aku pergi menghindari masalah, sampai kapan aku hidup seperti ini bisikku dalam hati


Flashback


Pagi tadi Ibuku datang menemui Kepala Sekolah, terlihat wajah sedihnya karena lagi dan lagi anaknya jadi bulan bulanan di sekolah. Kepala sekolah tampak memberi nasihat yang intinya aku bersalah dalam masalah ini


"Kami akan pindah!" kalimat terakhir yang Ibu ucapkan mampu membuat Kepala Sekolah tersenyum lega


"Bu, sebentar jangan main pergi begitu saja. Tidak ada bukti Arya yang melakukannya, Arya hanya perlu membuat permintaan maaf dikertas.. " ujar Pak Rian mengejar Aku dan Ibuku


"Pak tentu saya tak akan mau menginjak kotoran di depan saya, Arya pergi karena memang sekolah ini tidak bisa mendidik Arya dengan baik. Seharusnya sekolah tempatnya mengayomi bukan malah menindas orang yang tidak bersalah seperti ini. Anak saya tidak mencuri, dia anak yang baik, tapi sekolah seolah menuduhnya tanpa alasan," jawab Ibu sedih pada Pak Rian


Ibupun menatapku


"Anakku besok kita pindah ya dari sini, ikut Ibu saja ke Bekasi. Jangan khawatir di sana kita bisa hidup bahagia ko, bersemangatlah nak. Ibu pulang dulu ya sekarang."


****


Aku terhenyak dan bangkit dari kursi, tugas referensi ini sudah selesai aku akan mencari Nadia sekarang juga.


Nadia sedang berjalan di koridor kelas


"Apa? Mau ngapain lo?" bentak Ina


Aku terdiam kikuk mataku tertuju pada Nadia saja, Nadia memahami situasinya dan menyuruh teman temannya pergi dahulu.


Ku serahkan tugas referensi yang baru saja ku buat di perpustakaan


"Kamu sudah selesai?" tanyanya sekilas memeriksa makalah itu


"Sudah,," jawabku singkat


"Hm, kamu bisa besok ko memberikannya," jawabnya lagi


"Aku memutuskan untuk tidak datang lagi besok" sahutku


Nadia terkejut menatapku sekilas


"Hey, kenapa kamu tak mencabut name tag dibajumu? apa kamu gak risih pake nama orang?"


"Ini susah dilepasnya, lagipula besok aku tak ada di sini lagi," jawabku datar

__ADS_1


Nadia menghela nafasnya


"Baiklah, kamu selalu melakukan sesuka hatimu saja," kata katanya seperti kecewa


Aku diam dan berlalu begitu saja.


****


#Nadia#


Arya sangat mengusik fikiranku bagaimana bisa jika dia tak bersalah, akan pergi begitu saja.


Kulihat lembaran demi lembaran di makalah yang dikerjakan Arya cukup baik dan rapih.


Tiba tiba aku teringat name tag yang ada di seragam Arya. Akupun memutuskan pergi mencarinya lagi,


Ekor mataku mencari dimana si anak yang pendiam itu. Aku melihatnya di taman sedang menulis sesuatu


Ku hampiri Arya yang ternyata sedang menggambar.


"Bagus juga gambar yang kau buat.." sapaku


Arya menoleh padaku


"Kamu bisa berdiri gak sebentar"


"Kenapa?" tanyanya kaget


"Ayo cepat berdiri saja dulu.."


Arya pun berdiri, aku langsung menghampirinya dan merobek name tag di kemejanya


Arya terkejut lagi dan nampak ketakutan


"Tenang aja, aku gak gigit tau.." sahutnya menggodanya ia menunduk malu


"Hei anak baru, kamu tuh hantu ya? nyaris tak terlihat! apa kamu senang hidup seperti ini? sebagai seseorang yang bukan siapa siapa? apa kamu gak marah dengan keadaanmu yang begini?!!" gumamku pelan


"Selesai... "


"Makasih!"


Arya bersiap akan duduk kembali


"Hei tunggu, aku belum selesai.. " ku robek double tip lalu ku tempel di seragamnya


"Siapa namamu?"


"Arya Fadillah"


Ku tulis nama itu di double tip lalu membuang name tag bekasnya


"Sampai jumpa Arya, semoga sukses! teruslah menjadi seseorang yang tak terlihat.."

__ADS_1


__ADS_2