
Di kelas private
#Nadia#
Aku mendengus kesal, melihat beberapa murid lain membicarakan keberadaanku disini.Dengan entengnya mereka berkata "Pacar si Moses les disini juga,"
"Apaan sih siapa yang pacaran juga," gerutuku sebal.
Kulihat juga Moses seperti tidak fokus dengan materi pelajaran Pak Haykal, ia terus memandangiku.
"Moses, kamu tau jawabannya?" tanya Pak Haykal sudah ketiga kalinya. Moses terperangah kaget.
"Haisst, Moses gak konsen pak soalnya pacarnya ada disini. Saya aja yang ngerjainnya.." belum sempat Moses menjawab Bayu sudah lebih dulu menjawab dan melaju ke papan tulis.
Seusai les berlangsung Moses langsung mengajakku pulang bersama.
"Ayo pulang nad," ajaknya aku terdiam menahannya.
"Ada apa?" tanyanya
"Eng, ses aku mau keluar dari kelasnya Pak Haykal aja.." seruku ragu,
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku merasa, aku tak bisa mengikuti pelajarannya. Mereka semua pintar pintar sekali.. Lagipula, aku tak nyaman dengan sikap mereka yang menganggap aku ini kekasihmu.." jawabku.
Moses menghela nafas "Sudah biarkan saja, Ayo pulang." tangan kanannya menarik tanganku, aku masih saja menahannya.
"Ses, aku pulang sendiri aja. Aku pengen kamu gak memperlakukan aku seperti pacarmu saja ses, kita inikan hanya berteman.." kataku
"Nad, apa sih kurangnya aku buat kamu? kenapa aku gak bisa jadi pacarmu? kamu tau aku menyukaimu lebih dari apapun..Kenapa sekarang kamu malah gak nyaman di dekatku?" hardik Moses dengan nada kesal aku diam saja, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sudahlah, sudah malam. Ayo ku antar pulang. Aku gak mau kamu kenapa napa dijalan," ajaknya lagi kali ini ia jalan lebih dulu, Aku menunduk mengikuti langkahnya.
(Moses adalah teman kecilku, kami 1 kompleks perumahan. Moses kecil adalah anak yang pendiam namun penuh amarah, mungkin karena didikan orangtuanya ia tumbuh menjadi lelaki yang ego tinggi. Dia jarang sekali punya teman dekat, mungkin hanya aku satu satunya temannya dari kecil. Saat kami SMP dia mulai mengutarakan cintanya padaku, namun aku tak pernah terbesit untuk berpacaran dengan Moses. Bagiku Moses tetap sahabat kecilku, aku tak pernah membalas perasaannya sampai kini. Kedekatan kami inilah yang sering membuat orang bilang kami sepasang kekasih.)
****
Bel pelajaran sudah berdentang tanda kami sudah akan pulang. Aku melihat ke arah Arya, sekilas ia mengangkat ponselnya. Seperti tanda aku harus membuka handphoneku segera. Benar saja ada pesan darinya,
"Kita ke taman yang deket sekolah yaa.."
Aku menoleh, kubentuk jariku dengan huruf ๐yang artinya Oke, ia tersenyum malu.
Moses seperti biasa sedari tadi memperhatikan kami.
****
__ADS_1
Ditaman
Kami duduk berhadapan, ku keluarkan kertas yang sudah aku terjemahkan dengan Bahasa Inggris, aku mengajari cara penglafalannya agar Arya tak salah salah lagi.
"Kamu harus bacanya seperti ini ya, beda lafal bisa beda artinya.." seruku seraya menunjuk nunjuk kalimat di kertas putih. Ia mengangguk seolah faham saja, walau guratan wajah bingungnya tak bisa dibohongi.
Aku gemas!
"Tunggu, ini lanjutannya apa? bukan aku takut pada hantu tapi karena...???" tanyaku
Arya malah mesem mesem saja, aku berdecak sebal. Ia malah tertawa, matanya sipitnya hampir menghilang membuatnya lebih menawan.
"Bukan takut karena hantu, tapi karena ondel ondel heheheh"
"Hey, serius dong ah!" aku mulai merajuk.
"hihihi, maaf maaf.. ehem, bukan karena takut hantu, tapiiii karenaaaa jika aku memadamkan lampu aku merasa kesepian..." jawabnya kali ini aku tertegun.
****
Malam harinya saat aku hendak tidur, aku merasa gelisah. Aku gelisah dengan kata kata Arya tadi, dia sebegitu kesepiannya kah? hingga tidurnya tak pernah memadamkan lampu?
"Jadi seperti ini ya dia tidur, bukannya ini tidak nyaman??" seruku menyalakan lampu, lalu mematikannya lagi, lalu menyalakannya lagi. Dan pada akhirnya aku tertidur dengan lampu menyala.
__ADS_1
Dirumah Arya, Arya pun hendak tidur ia benar benar menyalakan lampu dengan terangnya, sesekali tidurnya seperti tak nyaman namun berlangsung hingga pagi hari.