Saat Masih 17 Tahun

Saat Masih 17 Tahun
Perasaan ini....


__ADS_3

Di rumah Nadia


"Makasih ya, udah nganterin pulang segala." seruku setelah sampai di depan rumah.


Perjalanan tadi lumayan jauh dengan di tempuh naik sepeda, namun kami jadi berbincang panjang sekali, satu sama lain membicarakan masalah kami masing masing.


Arya menganggung tersenyum tampan.


"Mau mampir?" tawarku, ia menggeleng


"Kak Jovita pasti sudah mengomel sedari tadi di toko hehehe, aku pulang ya nad.. dah" jawabnya memutar balikkan sepedanya


Aku melambaikan tanganku, sesekali melihatnya berlalu kemudian masuk rumah.


Aku berjalan berhati hati, kini baju seragamku sudah kering dibadan. Kulihat Tante Liona dan Ibu Ibu yang lain sudah pulang. Dimana Mamaku? tanyaku dalam hati.


Aku membuka pintu kamar Mama, kulihat Mama sedang tiduran sesekali meringis kesakitan.


"Mama kenapa? Mama sakit?" tanyaku khawatir duduk di bibir ranjang Mama, Aku memang sangat kesal pada Mama, tapi aku gak tega lihat Mama seperti ini. Mama membuka matanya sedikit.


"Ah, kamu sudah pulang nad?"


"Sudah ma.,"


"Kamu marah ya sama Mama? kamu pergi begitu saja, gak dengerin panggilan Mama.."


"Maafin Nadia ma, tadi Nadia kesal aja gak rela Mama seperti itu.." jawabku menunduk.


"Nad, kalo Mama gak bersikap baik sama Mamanya Moses kamu mana bisa les di tempat bergengsi seperti itu? Mama ini cuma mau Nadia belajar dengan keras,agar masuk UI. Kita ni perempuan jangan sampai di anggap remeh nad, apa yang bisa kita lakukan selain harus memiliki karier yang bagus hah? kalo kamu punya semua itu, siapa yang berani menginjak injak harga dirimu??" papar Mama, ingin sekali kubantah argumen nya tapi melihat kondisi Mama ku urungkan niatku. Aku tersenyum palsu.


"Iya mah, Nadia ngerti ko.. Nadia mau ke tempat les matematika itu,"


Ku lihat Air muka Mama berubah senang,

__ADS_1


"Benarkah? sungguh Nadia mau?" Aku mengangguk,Mata Mama berbinar.


"Yaudah Mama istirahatlah, Nadia mau ke kamar dulu ya mau mandi.." seruku lalu berlalu ke kamarku.


Mama mengangguk "Ah, ada gunanya juga kepalaku benjol.." sahutnya setelah aku pergi.


Sementara dikamar, aku bukannya mandi malah duduk di meja belajarku. Sesaat ku mengingat perlakuan Arya tadi ditaman, saat ia menutupi kepalaku dari suara petir menyambar. Astaga perasaan apa ini, rasanya indah sekali kebersamaanku dengannya. Aku senyum senyum sendiri dibuatnya.


Di toko pun Arya ternyata merasakan hal yang sama denganku, wajahnya tak henti henti tersenyum dan tertawa kecil. Mengingat Nadia begitu kuat memegang tas dibahunya karena takut jatuh. "Pasti wajahnya lucu sekali saat ketakutan jatoh hehehe" ujar arya dalam hatinya.


****


Keesokan harinya


Moses menghampiriku yang berjalan memasuki koridor kelas.


"Nanti jadikan masuk ke kelas Pak Haykal nad?" tanyanya mengagetkanku lalu aku mengangguk.


"Kamu masuk ke tempat lesnya Moses nad?" tanya Karina tiba tiba menerobos kami berdua.


"Kenapa kamu gak bilang nad?" tanyanya ketus.


"Em, itu Mamaku yang mengurusnya." aku menjawab canggung.


"Memangnya kamu lulus?"


"Apa maksudmu? tentu saja dia lulus test nya!" seru Moses tak senang.


"Moses, aku ingin bicara.." sahut Karina lagi.


"Nanti saja ya, nad aku ke kelas duluan. Aku mau ke ruang guru dulu.." jawab Moses dingin, aku mengangguk.


"Karina ayo kita bicara.." ajakku menggandeng tangannya, Karina langsung menepisnya.

__ADS_1


"Nanti saja.." jawabnya juga dingin lalu pergu meninggalkanku.


Aku menghela nafasku.


"Kamu bertengkar?" tanya Arya tiba tiba, aku terkejut memegangi dadaku.


"Tidak!"


"Hm, i.. iyaa.. " jawabku lagi menunduk


"Kau menang?"


Aku menggeleng pelan.


"Kamu pasti menang, kamu kalah untuk menang.." jawab Arya random, tapi suskes membuatku tersenyum, Arya membalas senyumanku.


Lalu ku keluarkan saputangan miliknya yang sudah ku cuci, dan ku setrika dengan segenap hatiku ini, ku berikan padanya.


"Ini saputangan milikmu, sudah kucuci dan kusetrika." Arya menerimanya.


"Wangi." jawabnya lalu hendak memasukkan ke sakunya.


"Eits, jangan ditaro di saku celana lagi dong. Nanti lecek lagi.."


Ia mengangguk, di ambilnya buku tulis dari tasnya kemudian meletakkan saputangan itu dengan sangat hati hati, aku tersentuh dengan sikapnya.


"Hari ini aku ada waktu 2 jam sebelum bekerja. Mau belajar kelompok?" tanyanya.


"Aku gak bisa, ada les hari ini.." jawabku lesu ia manggut manggut saja.


"Bagaimana kalo besok?" kali ini aku yang mengajaknya.


"Boleh, besok kebetulan aku libur." jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah kalo gitu aku duluan yaa.." sahutku melambaikan tangan, Arya pun membalasnya.


__ADS_2