
"Erlan, apa kau ingin menyumpahi papa mu ini?"
Erlan menatap datar "Menyumpahi, pa seharusnya papa lah yang berfikir, apakah bagus seorang ayah membuang anaknya?"
Dengan tatapan tajam Farhat pun berkata
"Aku tidak membuang nya, aku ingin memberikan pelajaran pada kakak mu yang sombong itu pelajaran agar dia tahu yang mana yang benar!"
Dengan tatapan datar Erlan pun bertanya
"Memberi pelajaran apa pah? Supaya kak Adrian menjadi egois begitu? Seharusnya kau pikirkan perasaan mama, lihat dia pah betapa kehilangan nya dia terhadap putra sulungnya, tapi seorang Farhat Dwipangga tidak akan merasa kan itu" sambil menatap sang mama yang terus menangis
Namun sepertinya Farhat tidak peduli akan hal itu dia malah berkata
"Apa yang kau katakan Erlan, kau ingin bilang papa tidak memiliki perasaan, begitu?"
Dengan santainya pemuda itu menjawab
"Apakah aku mengatakan, jika papa tidak memiliki perasaan? Tapi bagus lah jika papa sadar kalau papa itu tidak memiliki perasaan"
Dengan tatapan tidak percaya Farhat pun berkata
"Kau juga ingin melawan papa Erlan?"
Erlan menggeleng lalu menjawab
"Tidak, tapi jika ini adalah kebenaran, jika aku harus melawan papa mungkin akan ku lakukan"
Setelah mengatakan itu Erlan pun pergi
Sedangkan saat ini Adrian dan Sellandra menaiki sebuah angkot "Bang kita ke rumahku dulu ya?"
Adrian menatap gadis itu "Apa tidak apa jika aku ke rumah mu? Aku merasa tidak enak dengan kedua orang tua mu"
__ADS_1
Sellandra menggeleng "Tentu saja tak apa bang"
Sella pun menghubungi seseorang
๐Halo
๐Ya nak ada apa?
๐Bu, Sella pulang bawa temen temen apa boleh?
Mendengar itu Ibu Marwina mengerinyit
๐ Temen siapa nak?
Sellandra pun menatap kearah Adrian
Tiba tiba Sellandra melirik kearah Adrian
"Sel, jika ibu mu keberatan, lebih baik tidak usah" bisik nya
tapi kalau dia pria, kau tahu kan bagaimana ayahmu
Mendengar itu sudah pasti kalau dia tidak mungkin ke rumah gadis itu.
๐Iya bu Sella tahu kok, ini juga temen Sella sudah
ada yang jemput kok, ya sudah Sella tutup ya
Sambungan telpon pun terputus
"Maafkan aku bang, seperti nya Ibu ku tidak memperbolehkan nya" ucap nya tidak enak
"Tak apa Sell, tapi besok mungkin aku akan datang untuk melamar mu"
__ADS_1
Mendengar itu Sella terkejut "Apa yang kau katakan bang? Apa kau yakin. Kau tahu kalau papa mu tidak menyetujui hubungan kita"
Tidak lama Sella sampai di sebuah rumah sederhana "Kau percaya padaku kan?"
Gadis itu mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kau masuk lah, dan tunggu lah aku"
Sellandra pun masuk ke dalam rumah dan di sana seorang wanita menyambut nya
"Asalamualaikum bu" sambil mencium tangan sang ibu
"Waalaikumsalam, nak kau sudah pulang" Marwina menatap sekitar
"Ibu kira teman kamu akan di ajak kemari"
Sellandra mengerinyit "Loh, bukankah ibu tidak memperbolehkan temanku datang ke sini. Ya jadi aku bilang jika ibu ku tidak memperbolehkan nya"
"Jadi benar kalau teman kamu itu laki laki" tiba tiba dari arah belakang terdengar suara pria yang tidak lain adalah Gufta
"Ayah"
Sang ayah tersenyum "Nak pemuda itu, bukankah dia putra tuan Farhat, ada apa kau dengan dia?"
Sellandra terdiam, dia takut jika dia mengatakan yang sebenarnya apakah ayah nya akan merestui, atau malah akan bersikap sama seperti ayah dari kekasih nya.
Cukup lama dia terdiam ia pun memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya
"Ayah, apakah cinta kami ini haram?"
Gufta mengerinyit "Apa yang kau katakan nak, kenapa kau bilang begitu?"
Sambil menatap sang ayah "Yah aku mencintai seseorang, namun sepertinya cinta kami penuh dengan halangan"
__ADS_1
Gufta terdiam, namun lelaki tua itu tahu kalau sang anak memiliki sebuah hubungan dengan anak orang kaya Farhat Dwipangga