
Melihat keterdiaman Erlan, Adrian pun tersenyum
"Seperti nya adik ku ini menyukai seseorang" Adrian bisa menebak dari raut wajah sang adik
"Apakah sangat terlihat kak?"
Adrian mengangguk "Sangat jelas. Kalau boleh tahu, siapa dia?"
Mendengar pertanyaan sang kakak Erlan pun tersenyum "Dia belum lahir kak"
Adrian tidak bisa berkata kata "Kau, kau menyukai orang tapi dia belum lahir, bagaimana bisa Er?" Adrian tidak menyangka adiknya ini akan mengatakan itu.
Sambil tersenyum Erlan kembali berkata
"Aku juga tidak tahu kak, kau tahu sudah lama aku memimpikan seseorang dan kakek Akira maupun Affandi tahu akan hal ini"
"Bagaimana respon mereka?" Adrian penawaran kenapa Erlan begitu terbuka pada kedua kakek nya itu
"Kakek Akira hanya berkata..."
Flashback
Saat itu Erlan sedang berusia 20 tahun dan dia sudah mampu mendirikan sebuah perusahaan nya sendiri
Perusahaan persenjataan adalah perusahaan yang sangat menguntungkan baginya terutama kedua kakek nya suka sekali dengan senjata senjata itu.
Mereka menawarkan senjata jenis api dan juga senjata api, bahkan senapan
Saat itu ada sebuah pertemuan antar kolega dan melibatkan diri nya
"Aku tidak menyangka perusahaan sebesar ini di pimpin oleh anak yang masih muda puji salah satu kolega
Mendengar pujian itu Akira pun tertawa
"Hahaha, kau busa saja Amir, oh iya, aku dengar kau memiliki anak buah seorang mafia kan?"
"Benar, dan mereka bilang sedang memesan beberapa jenis senjata dan peluru"
Saat itu Erlan pun dengan berwibawa mengatakan "Aku sudah menyiapkan semuanya "
Saat itu terdapat sebuah tas dan saat Erlan menyerahkan tas tersebut pada pria paruh baya itu
__ADS_1
Saat tas itu terbuka terlihat lah sebuah senjata dan juga beberapa peluru sudah tersusun rapi
"Wow, senjata yang sangat bagus"
Amir memuji senjata yang di dapatkan nya dari Erlan
"Aku seperti nya akan terus membeli senjata dan beserta peluru nya di tempat mu tuan Erlan"
Hn, baik lah aku akan menunggu nya"
"Sebentar lagi aku akan mentransfer uang nya pada anda"
Erlan mengangguk dan saat itu pertemuan pun usai dan saat ini mereka bertiga ada di dalam sebuah mobil Erlan, Akira dan Affandi
Saat itu entah kenapa Erlan menajamkan matanya dan tidak lama ia terbangun di sebuah tempat yang begitu asing
"Di ini" sambil menatap sekitar. Erlan pun bangkit dan berjalan mencoba menelaah sebenarnya dia ada di mana.
Pemuda itu terus berjalan sampai pada akhir ia bertemu dengan seorang gadis yang begitu cantik yang sedang tersenyum menatap langit.
Erlan yang melihat nya pun terpaku
Erlan tidak menyangka akan ada yang membuatnya terpesona
"Cantik" ucapnya tanpa sadar
Mendengar itu sang pun menoleh dan tidak lama kemudian tersenyum
Erlan pun membalas senyuman gadis itu
"Nona, boleh kah aku bertanya sesuatu padamu mu?"
Gadis itu mengangguk. Sambil menengok sekitar Erlan pun bertanya
"Nona tempat apa ini, dan kenapa tempat ini saja yang terang namun ditempat lain semua nya gelap?"
Sang gadis pun menatap sekitar, lalu menjawab
__ADS_1
"Untuk itu aku pun tidak tahu tuan"
Namun dengan tatapan bingung gadis itu kembali bertanya "Tuan kenapa bisa ada di sini?"
Erlan yang ditanya pun bingung "Aku, aku juga tidak tahu nona, tadinya aku ingin pulang tetapi ada sebuah sinar yang menarik ku kemari"
Gadis itu mengangguk mengerti. Tiba tiba terdengar sebuah ledakkan
DUAARRR!!
Keduanya pun terkejut "Suara apa itu?"
Sang gadis pun juga sama bingung nya
"Entah lah tuan, yang jelas ini suara nya seperti ada sebuah ledakan"
Saat itu ada sebuah suara atau bisa di sebut teriakkan
"Aaakkkk!!"
Keduanya pun kembali terkejut "Suara teriakkan"
Mereka berdua, Erlan dan gadis itu pun menyusuri di mana asal suara itu
Tidak lama mereka berdua melihat seorang pria bersimbah darah kedua nya pun bergegas menghampiri
"Tuan, apa yang terjadi" sambil menatap pria itu sang gadis itu pun berusaha agar sang pria paruh baya tetap sadar
Sedangkan Erlan, dia sangat terkejut melihat pria itu
"Tidak mungkin" ucapnya lirih
Sang gadis pun menatap lalu berkata
"Apa yang anda katakan tuan, a apanya yang tidak mungkin?"
Erlan pun yang tadi nya diam terpaku pun menghampiri pria yang tergeletak
"Kau, kau tuan Manaf kan?"
Pria paruh baya itu pun. membuka dengan perlahan matanya "Tuan, a anda di di sini" ucapnya dengan tersendat sendat
__ADS_1
Sambil menatap pria itu Erlan pun kembali berkata
"Kau, kau kenapa jadi seperti ini tuan Manaf? Si siapa yang melukai mu?"