
Malam dingin,langit mendung hitam pekat dengan gerimis yang mulai turun.Seolah ikut merasakan kesedihan Sefia karena kepergian ibunya. Rumah kembali sepi,para tetangga satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing setelah doa bersama untuk ibu Sefia. Hanya menyisakan tiga orang disana. Sefia yang terlihat tegar namun sering kali menangis jika malam hari saat sendiri.
Juga Sena yang jadi sering melamun, Dengan tatapan kosong. Tak ada semangat yang terpancar dari kedua bola matanya.
Aldrik yang masih mencoba beradap tasi dengan kehidupan disini. Dengan keadaan rumah yang sederhana.
Dia tidur di kamar Sefia,dan Sefia tidur di kamar mendiang ibunya.
Dia yang terbiasa tidur di ranjangnya yang mewah harus terbiasa tidur di ranjang yang sempit. Yang hanya pas untuk dua orang saja.
Malam ini dia ingin berbicara berdua dengan Sena.
Setelah tahu Sefia sudah masuk kekamar. Aldrick mengajak Sena keluar rumah dengan membawa dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya. Ya, Dia menyuruh Sena membuat kopi terlebih dulu sebelum keluar.
Mengajak Sena duduk di teras rumah, disana ada dua kursi rotan dan dilengkapi meja kecil.
"Sena masih sekolah?"Pertanyaan mengawali pembicaraan mereka.
"Iya kak, kelas tiga SMU"
"Wah sebentar lagi ujian dong? "
"Mungkin sekitar dua bulan lagi kak"
__ADS_1
"Bagus, apakah kamu berniat melanjutkan kuliah?"
"Sebenarnya, Kak Sefia yang memaksaku untuk kuliah,tapi entahlah. Karena sepertinya ingin menundanya dulu. Aku tak mau terus menjadi beban buat kak Sefia."Sebuah tangan terulur menepuk lembut bahunya.
"Itu bisa kamu bicarakan baik-baik dengan kakakmu dulu. Aku di sini tidak bisa memaksa ataupun melarang apa yang ingin kalian lakukan."memberi saran untuk Sena. "Namun aku hanya ingin mengingatkanmu, agar jangan berlarut-larut dalam kesedihan ini.Jadilah anak laki-laki yang setegar karang, sekuat baja. Karena kelak akan menjadi tumpuan hidup dalam keluarga.Bersedihlah sewajarnya, jangan membebani kakakmu dengan kesedihanmu juga. Lanjutkan hidupmu dengan baik. Walaupun aku tau betapa sedihnya kehilangan seseorang.
Kamu masih punya kakakmu di sini. Kakak yang akan memperjuangkanmu."
Bulir-bulir bening tanpa bisa di cegah meluncur dari sudut mata Sena. Aldrick yang tau mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh remaja yang sedang rapuh itu.
"Menangislah sepuasnya hari ini. Namun tangis untuk yang terakhir kalinya. aku harap setelah ini hanya ada tangisan bahagia.
Tanpa disadari seseorang mendengar percakapan mereka dari balik jendela tempat mereka duduk. Mendekap mulitnya agar tak terdengar isakan darinya. Air matanya juga mengucur dengan derasnya.
Setelah menghabiskan kopinya,Aldrick menyuruh Sena untuk segera masuk.Karena hari sudah malam. Aldrick mengikutinya,setelah memastikan pintu terkunci dan menutup semua gorden.Dia berjalan menuju kamar mandi. Saat melewati kamar Sefia, dia berhenti, karena mendengar isak tangis dari dalam.
Aldrick mengetuk pintu kamar itu,namun tak ada sahutan dari dalam.Mungkin Sefia tak mendengar ketukannya. Dia membuka pelan pintu yang tidak di kunci itu. Terkejut melihat Sefia yang menangis duduk meringkuk di bawah,bersandar di ranjang kamar itu.Bergegas menghampiri Sefia dan merengkuh ke dalam pelukannya. Membelai kepala Sefia berharap lebih tenang. Namun isakan itu justru semakin menyayat hati siapapun yang ikut mendengarnya.
"Kamu mendengar percakapanku dan Sena tadi?"
Sefia hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Aldrick. Dia ingin juga menumpahkan segala kesedihannya malam ini.
"Biarkan aku menangis sampai puas malam ini. Aku janji,ini umtuk yang terakhir kalinya."ucap Sefia pelan di sela tangisannya.
__ADS_1
Aldrick semakin erat mendekapnya,mencoba memberi ketenangan pada Sefia. Memberi usapan lembut pada punggung gadis dalam dekapannya.
"Menangislah sepusmu malam ini.Bukankah masih ada Sena yang harus kamu jaga.Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu".
Kemeja yang dipakai Aldrick basah oleh air mata Sefia. Gadis itu tertidur masih dalam dekapan Aldrick,stelah lelah menangis. Melihat Sefia yang sudah tenang,Aldrick menundukkan wajahnya.
"Cantik".gumamnya.Bodoh! Namun dia segera sadar akan kebodohannya. Bagaimana dia bisa memanfaatkan kesedihan orang lain .
Melihat wajah tenang Sefiia yang sedang tertidur. Justru otaknya memikirkan hal lain. dia seperti ingin menikmati bibir mungil Sefia yang begitu menggoda. Hingga entah apa yang mendorongnya untuk mengecup bibir pucat itu. Mendaratkan bibirnya di bibir Sefia. Tak puas hanya dengan kecupan,bibirnya kembali ******* bibir mungil itu.
Akal sehatnya segera sadar dengan kelakuannya setelah tubuh dalam dekapannya itu menggeliat. Dia Segera membopong tubuh kecil itu untuk dibaringkan keranjang. Menmastikan Sefia sudah nyaman disana dia ingin segera beranjak dari sana. Dia takut tak bisa menahan dirinya untuk tak menerkam Sefia jika tetap berada di sana. Sebelum beranjak dia kembali mengecup kening dan bibir gadis yang tenang dalam tidurnnya itu.
"Jangan pergi,temani aku disini."menarik tangan Aldrik yang akan beranjak dari ranjangnya.
Gumaman yang terdengar jelas,Aldrick segera membalikkan tubuhnya. melihat jari-jarinya di gemgam Sefia. Dia segera memastikan Sefia memang belum tidur atau hanya sedang mengigau.
"Syukurlah.,dia hanya mengigau" batin Aldrick. Dia akan malu kalau sampai Sefia ternyata merasakan apa yang di perbuat padanya. Tangan itu tetap menggenggam erat jemari Aldrick. Dia yang tak tega membangunkan Sefia akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di sampaing Sefia. Ranjang kecil itu menjadikannya harus tidur berdekatan dengan Sefia.Bahkan mendekap tubuh kecil itu agar tidak jatuh.
Menjelang dini hari. Aldrick tetap tidak bisa memejamkan matanya. Dia yang biasanya merasa jijik pada wanita yang mencoba untuk mendekati dan menggodanya. Wanita yang dengan suka rela akan memberikan tubuh mereka pada Aldrick Namun Aldrick tak pernah tertarik pada satu pun dari mereka .Berbeda dengan gadis yang tidur di sebelahnya Bahkan hanya bersentuhan dengan Sefia sudah meciptakan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Tubuhnya bahkan terasa panas saat ini. Tubuh bagian bawahnya pun bahkan ikut menegang. Padahal dia hanya tidur dwngan Sefia. Dengan Sefia yang tetap terlelap di sampingnya.
"Sial!" Umpatnya dalam hati. Kenapa bisa begini.
Sebelum subuh menjelang,dia segera bergegas keluar dari kamar yang ditempati Sefia.Bergegas menuju kamar mandi untuk mendinginkn tubuhnya. Dia juga tidak mau sampai Sena melihatnya keluar dari kamar Sena. Takut Sena akan berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
__ADS_1
Hanya air dingin solusi untuk menurunkan Hasratnya yang sudah di ubun-ubun.