Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Berbeda dari biasanya


__ADS_3

Hari ini Aldrick menyerahkan semua pekerjaannya pada Reno asistennya.Dia menghubungi reno jika dia tidak akan datang hari ini.


"Bener-bener si bos,seenaknya aja ninggalin kerjaannya." Gerutu Reno, melihat banyaknya kerjaan yang tertumpuk di meja kerja Aldrick. Seperti melambai-lambai meminta untuk segera diselesaikan.


Aldrick berpesan,jika ada hal mendesak yang perlu diperiksanya sendiri, bisa Reno kirimkan ke emailnya.


Keadaan Sefia yang lemah membuat Aldrick mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor. Dia menjaga Sefia.


"Bagaimana keadaannya? " tanya Aldrick pada Doni saat mereka keluar dari kamar Sefia.


"Dia demam biasa juga tekanan darahnya yang rendah, tidak ada yang perlu di khawatirkan terlalu berlebihan,hanya perlu sedikit istirahat juga makan dan minum dengan teratur"


Setelah kepergian Doni, dokter yang memeriksa Sefia tadi.Aldrick segera menebus resep obat yang di berikan dokter Doni,juga membelikan bubur untuk sarapan Sefia melalui sebuah aplikasi online.


Terdengar suara bel berbunyi setelah beberapa saat. Aldrick bergegas membukakan pintu, orang yang membelikan bubur dan obatyang di pesannya.Dia memberikan satu lembar uang berwarna merah.


"Ma'af pak. ada uang pas saja pak. Saya baru dapat orderan dari bapak saja. Jadi tidak ada kembaliannya"


"Kembaliannya ambil aja pak"


"Terima kasih pak, terima kasih." Bola matanya berbinar, mendapatkan tips lebih banyak dari yang harus dibayarkan oLeh orang yang memesan tadi.


Dia merasa bersyukur pagi ini,karena bisa sampai tengah hari kadang-kadang dia baru dapat orderan.


Aldrick segera menuangkan buburnya ke dalam mangkok. Meletakkannya ke dalam nampan yang sudah ada segelas air juga obat.


Menaiki tangga menuju kamar sefia. Aldrick membangunkan Sefia ,membantu Sefia untuk duduk, menata bantal untuk bersandar.


"Makan dulu buburnya, setelah itu baru minum obatmu"


Mendekatkan sendok ke mulut Sefia.


"Aaaaaa... "

__ADS_1


Sefia menggelengkan kepala ketika Aldrick kembali akan menyuapinya. Separuh mangkok bubur sudah pindah ke dalam perut Sefia.


"Udah mas, kenyang" Ucap Sefia Lirih.


"Minum obat dulu baru istirahat lagi"


Setelah makan bubir dan meminum obat, Sefia kembali membaringkan tubuhnya. Aldrick kembali ke dapur untuk membersihkan sisa makanan Sefia.


Dia akan ke apartemennya sebentar untuk mengambil laptopnya.


Dia kembali menutup pintu apartemen Sefia.Dia terkejut melihat wanita yang begitu dihindarinya sedang berada di depan pintu apartemennya.


Dia kembali ke manar Sefia, berniat mengambil laptopnya ketika wanita itu sudah pergi dari apartemennya.


Sudah hampir setengah jam Jessy berada di depan pintu apartemen Aldrick. Berkali-kali dia memencet bel yang ada di samping pintu.


Namun sepertinya apartemen itu tak ada penghuninya. Jessy membalikkan badannya ketika mendengar pintu apartemen di belakangnya tertutup. Dia ingin bertanya,namun urung karena tak ada orang pun yang lewat. Dia tak tau kalau sebenarnya Aldrick lah yang tadi menutup pintu di belakangnya.Aldrick sengaja menghindarinya.


Membawa rasa kesal dia melangkah dengan cepat keluar dari kantor Aldrick. Memacu mobilnya menuju ke apartemen Aldrick. Beberapa hari lalu dia menyuruh seseorang untuk mencari tau di mana Aldrick tinggal. Dia sangat kesal karena Aldrick selalu mengabaikannya. Dia seperti tak ada di mata Aldrick.


Berniat membicarakan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Aldrick. Hingfa sampai di apartemen Aldrick dia tetap tak bisa bertemu Aldrick.


Aldrick yang masih berada di luar kamar sefia menghentikan langkahnya. Dia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya,berniat menghubungi Reno.


"Sialan kau, gimana bisa wanita itu tau alamat apartemenku" Mengeluarkan kemarahannya setelah Reno mengangkat telfonnya.


"ma'af bos, aku juga tidak tau.Tadi pagi dia sudah menunggu anda cukup lama di sini" beritahu Reno pada Aldrick. Reno tau wanita yang dimaksud Aldrick tadi adalah Jessy.


Aldrick memutuskan sambungan telfonnya sepihak.


Reno hanya bisa menghela nafasnya menghadapi bosnya yang begitu mudah memarahinya walau itu bukan kesalahannya.


Membuka pintu kamar Sefia.Berjalan mendekati ranjang di mana Sefia tidur. Duduk di tepi ranjang, mengulurkan tangannya menyentuh kening Sefia.Kembali memeriksa suhu tubuh Sefia,namun masih terasa sedikit panas.

__ADS_1


Sefia tertidur pulas setelah meminum obatnya tadi. Aldrick melihat dari ponselnya yang sudah tersambung dengan cctv yang ada di dalam dan luar apartemennya. Melihat apakah Jessy masih berdiri di sana atau sudah pergi. Agar dia segera bisa mengambil laptopnya,karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan.


Setelah memastikan tak ada Jessy di luar,Aldrick segera mengambil laptopnya. Karena Reno memberi tahunya ada yang masalah dengan proyek yang mereka tangani.


Aldrick memulai meeting darurat untuk membahas masalah proyeknya melalui zoom. Dia berada di ruang tengah apartement Sefia. Karena tak ingin mengganggu Sefia yang sedang tidur.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi? "Tanya Aldrick pada para bawahannya.


"Maaf pak, bahan baku yang mereka kirimkan ternyata sama sekali tidak memenuhi persyaratan,yang mereka kirimkan ternyata bukan yang di contohkan sebelumnya" memberi penjelasan pada Aldrick


"Selesaikan semuanya secepat mungkin, agar segera bisa dikerjakan" Lanjut Aldrick


"Baik pak, kami sudah menghubungi suplayernya untuk meminta ganti.Kami juga meminta ganti rugi untuk waktu kita yang terbuang sia-sai karena mereka,walau sebelumnya mereka menolak.Namun kita akan melaporkan mereka dengan alasan penipuan." penjelasan dari staff lainnya.


"Bagus, saya puas dengan kerja kalian yang cekatan"


Aldrick mengakhiri meeting,ketika melihat pintu kamar Sefia terbuka. Menampakkan Sefia yang keluar dari kamarnya.Menuruni tangga menuju ruang tengah di mana Aldrick berada.


"Kenapa malah turun? "Tanya Aldrick setelah Sefia duduk di sebelahnya.


"Tubuhku sudah agak mendingan,capek juga kalau harus terus tiduran" mengerucutkan bibirnya.


Membuat Aldrick gemas, hingga ingin mengecup bibir mungil Sefia.Secepat kilat Aldrick mendaratkan bibirnya pada bibir Sefia. Mengecupnya singkat,dan secepat kilat menjauh


"Mas,, apaan sih" Sefia yang terkejut refleks memukul bahu Aldrick


"Abisnya gemesshh banget liat bibir kamu yang lagi manyun." jawab Aldrick jenaka.


Kemudian mereka tertawa bersama-sama.Setelah berhenti tertawa keduanya saling menatap. Aldrick merengkuh tengkuk Sefia.Memiringkan kepalanya, menyatukan kedua bibir mereka. ******* lembut bibir pucat Sefia.Hingga nafas keduanya hampir habis,ciuman itu terlepas.


Tak puas hanya sekali,Aldrick melabuhkan bibirnya kembali. Lebih dalam, lebih dalam lagi. Sefia yang membuka mulutnya memudahkan Aldrick mengeksplor seluruh bagian dalam mulut Sefia.Sefia mengalungkan tangannya pada leher Aldrick. Keduanya menikmati ciuman basah itu.


Aldrick mengusap bibir Sefia dengan ibu jarinya. Bibir itu sedikit bengkak karena ulahnya. Namun bukannya berhenti, dia justru kembali melakukannya. Bibir Sefia seolah menjadi candu baginya.

__ADS_1


__ADS_2