
Setelah berbicara dengan Sena. Dengan berat hati meninggalkan Adiknya sendiri di rumah. Sang adik yang mendukung agar ibu di bawa ke keta untuk mendapatkan perawatan dengan fasilitas yang lebin memadai di kota nanti.
"Aku baik-baik saja kak.Aku juga bukan anak kecil yang perlu di khawatirkan. aku akan mengurus diriku dengan baik."mencoba memberi pengertian pada Sefia, yang masih terlihat ragu meninggalkan Sena sendiri.Sena yang sudah terbiasa hidup mandiri bahkan dia juga harus merawat sang ibu yang sakit, tidak masalah jika di tinggal sendiri.
Setelah terjadi perdebatan antara dua saudara itu, berakhir dengan Sefia yang akan membawa ibu berobat ke kota atas saran Aldrick.
sekembalinya Sefia kerumah sakit setelah pulang, dia bergegas menuju kamar rawat ibu.Ibu akan segera dipindahkan pagi ini. Setelah segara administrasi sudah selesai di urus oleh Aldrick.Yang semalam menawarkan untuk membantunya mengurus semuanya. LeLaki itu banyak membantunya. Tanpa Aldrick entak akan seperti apa dia sekarang. Pikirannya yang buntu,tanpa seseorang yang bisa di ajak berbicara atau berunding masalahnya. Karena tidak mumgkin dia membicarakan masalah ini dengan Sena.Seluruh kerabat dekatnya bahkan tidak mau tau apapun lagi tentang keluarganya setelah semua yang terjadi.Mereka seolah dikucilkan hingga mereka memilih tinggal di desa jauh dengan para kerabatnya.Keluarganya yang harus kehilangan harta dan jatuh miskin, setelah ayahnya ditipu oleh rekan kerjanya.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat para perawat hilir mudik dengan tergesa-gesa. Membantu dokter yang sesang memeriksa ibu. Kejadian yanh begitu cepat dan seperti begitu mencekam perasaan Sefia. Bahkan pikiran-pikiran negatif bermunculan tanpa bisa dicegah dalam pikirannya.
"Apa yang terjadi pada ibu kak? "
Aldrick melihat kedatangan Sefia pun terkejut melihat gadis itu berdiri kaku memperhatikan kamar rawat ibu.Aldrick segera berjalan menghampiri Sefia, mengulurkan tangan untuk merengkuh bahu Sefia. Menuntun mengajak Sefia duduk di bangku.Mencoba memberi kekuatan dengan dekapan.
"ibu akan baik-baik saja Sef!"
Namun hatinya pun ragu dengan jawabannya.
Sebelum melihat keadaan ibu Sefia dokter audah berbicara dengannya.
"Berdo'alah,kami akan berusaha swbaik mungkin"
Dokter dan perawat didalam sudah berusaha memberi yang terbaik untuk ibu Sefia. Namun tetaplah sang Pencipta yang memberi kepastian,menentukan setiap jalan takdir manusia.
__ADS_1
Dokter keluar dari Kamar ibu dengan wajah sendu sambil menggelengkan kepala pada mereka,seolah menjelaskan hal yang terjadi pada ibu.
"Ma'af,kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.Namun semua tetap Tuhan yang menentukan."tutur sang dokter.
Bagai terhimpit sebuah batu,berasa sesak di dadanya, tubuh Sefia luruh ke lantai.Memangis tersedu-sedu,menyayat hati siapapun yang mendengarnya.Bergegas Aldrik menarik merengkuh ke dalam pelukannya.Memberi kekuatan, berharap sedikit mengurangi kesedihan Sefia.
Jenazah ibu terbaring dengan tenang di atas ranjang pasien. Sefia menemani ibunya untuk terakhir kalinya menggenggam tangan yang sudah sedingin salju.Setelah mamastikan keadaan Sefia lebih tenang,Aldrick pun menghubungi Sena yang sudah berada di sekolah,dengan menggunakan HP Sefia.Dia meminta Sena untuk bergegas ke rumah sakit, tanpa memberi tahu apa yang sedang terjadi.
Aldrick mengurus segala administrasi yang harus di diselesaikan.Agar bisa segera membawa ibu pulang.
Sena yang baru saja tiba, dia terpaku di depan pintu, melihat tubuh yang terbujur dingin itu. Tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun bulir-bulir bening mengalir dengan derasnya.Berjalan lunglai mendekat dimana Sefai duduk.
Samar-samar mendengar Sefia bergumam disamping ibunya.
Tangannya terulur di bahu sang kakak.Hingga kepala Sefia mendongak melihat siapa yang mendekatinya.Segera berdiri dan menarik Sena kedalam pelukannya. Sama-sama begitu kehilangan. orang tua ssatu-satunya yang masih tersisa,setelah kepergian sang ayah. Dunia mereka seakan-akan runtuh, matahari juga tak akan bersinar kembali esok hari.Berharap semua ini hanya mimpi yang akan hilang ketika bangun. Kedua kakak adik itu menangis pilu saling berpelukan.
Aldrik mengajak mereka pulang setelah selesai.Rumah juga audah ramai dengan para tetangga yang hilir mudik membantu jalannya pemakaman ibu.
Mengantarkan Ibu pada pembaringan terakhirnya.
Sorw hari dengan mendung kelabu seakan menjadi saksi kesedihan yang dirasa Sefia dan Sena.Para pelayat satu persatu pergi meninggalkan mereka yang masih duduk terpekur. Aldrick masih berada di sana menemani mereka. Mendekap kedua kakak saudara ibu.Menyusap lembut bahu mereka.
Sefia menatap gundukan tanah yang masih merah di depannya,dengan tatapan kosong.Sesal seakan menghantuinya,menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Seandainya aku segera membawa ibu ke kota. pasti ibu masih berada di tengah-tengah kita sampai hari ini." gumaman Sefia yang masih bisa di dengar Aldrick dan Sena.
Sena pun demikian,ikut menyalahkan dirinya sendiri.
"kakak tidak salah apapun,seharusnya akulah yang disalahkan atas apa yang menimpa ibu. Aku yang tidak bisa menjaga ibu dengan baik sampai ibu bisa terjatuh.
"Tidak ada yang harua disalahkan dalam hal ini. Kalian sudah melakukan yang terbaik pada ibu kalian.Ibu akan merasa sedih jika kalian menyalahkan diri kalian sendiri. Bukankan hidup dan mati seseorang sudah menjadi garis dari Tuhan." Mencoba memberi pengertian pada keduanya.
Aldrick memaksa mereka untuk pulang, karena gerimis milai turun.Dengan langkah yang berat mereka beranjak dari sana.
Malam ini para warga sekitar berkumpul untuk mendo'akan ibu sampai hari ke tujuh.
Aldrick masih menemani keduanya disana. Dia mengabarkan pada asistennya untuk menunda jadwalnya sampai dia kembali.Karna tak tega jika harus meninggalkan Sefia dan Sena.
Aldrik menghubungi asistennya.
"Batalkan semua pertemuanku sampai aku kembali. Nanti Kita jadwalkan ulang. Aku tidak mau tau apapun alasan yang kamu pakai".Memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban sang asisten.
Di sebrang sana asisten Aldrick merasa heran dengan atasannya. Karena tak biasanya Aldrick meninggalkan pekerjaannya selain ada urusan yang menyangkut keluarganya.Menyisakan tanya dalam hati sang asisten. Hanya bisa memendam rasa penasarannya tanpa berani bertanya pada Atasannya yang sedingin es.
Mengumpat pada sang atasan yang dengan seenaknya meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk. Bisa dipastikan pekerjaannya esok akan membiat kepalanya semakin pusing. Selain pekerjaan dia juga harus memberi alasan yang masuk akal pada para kolega yang bekerja sama dengan atasannya.
"Dosa nggak sih kalau aku memakinya".Berbicara sendiri setelah panggilan itu selesai."Eh, tapi aku juga penasaran. Bagaimana bisa bos yang gila kerja tiba-tiba ingin menunda pertemuan penting ini." Otaknya berasumsi sendiri apa yang kira-kira membuat atasannya tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Dengan langkah gontai memikirkan esok hari dia berjalan menuju ranjangnya. Segera memejamkan matanya agar dia punya tenaga menghadapi esok.