
Hingga malam menjelang, Aldrick nampak masih enggan untuk kembali ke apartemennya sendiri.Dia tidak mau meninggalkan Sefia, Sebenarnya sih bukannya tidak tega jika Sefia sendiri. Namun lebih seperti yang tidak mau jauh dari Sefia. Pingginnya dekat-dekat trus sih.
Setelah makan malam dan membersihkan sisa makan bersama, Aldrick dan Sefia kembali ke ruang tengah.
Aldrick kembali membuka laptopnya, melanjutkan pekerjaannya. Sebelumnya dia meminta Sefia kembali meminum obatnya.
"Mas, maaf ya.. Gara-gara aku pekerjaan mas jadi terganggu" Sefia merasa tak enak hati pada Aldrick.
"Ini hanya masalah kecil,kamu tak perlu merasa bersalah" menoleh pada Sefia dan membelai rambut Sefia
Pukul 10 malam
Sefia sudah tertidur belum lama setelah makan malam mungkin karena efek obat yang diminumnya. Dia tertidur di sofa yang dibuat menyandarkan punggung oleh Aldrick. Aldrick lebih nyaman duduk di karpet bulu di bawah ketika bekerja.
Aldrick yang baru selesai bekerja mematikan laptopnya. Menoleh kebelakang,melihat Sefia yang sudah tertidur dengan lelap.Karena tak mau membangunkan Sefia, Aldrick kemudian menggendongnya,. membawanya ke kamar dengan sedikit kesusahan saat menaiki tangga. Membuka pintu kamar Sefia dengan satu tangan. Merebahkan tubuh Sefia di rnjang dengan pelan,menyelimuti tubuh Sefia.
Karena takut tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Sefia.Aldrick bergegas keluar dari kamar Sefia. Menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Sefia setelah menutupnya pelan. Pikirannya berkelana entah kemana.
Sejenak dia melamun di sana. Kemudian berjalan keluar dari apartement Sefia menuju unitnya.
Aldrick merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Senyum-senyum sendiri, mengingat kebersamaannya dengan Sefia seharian inig.
Perlahan-lahan rasa ngantuk menjalar, membuat matanya kian berat dan menutup.Dengan bayangan Sefia di pelupuk matanya.
...****************...
Malam berlalu begitu cepat, menjemput pagi dengan segala aktifitas. Menyisakan embun pagi di dedaunan yang menguap sedikit demi sedikit.
Sebelum berangkat ke kantor. Aldrick pergi melihat keadaan Sefia.Karena sudah tahu sandi apartemen Sefia, jadi dia bisa masuk kapanpun.Ruang tamu Sefia masih gelap.Menandakan belum ada aktifitas di sana. Hanya lampu kamar yang menyala,terlihat sorotnya dari celah pintu.
"Mungkin Sefia masih tidur."Gumam Aldrick sambil berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
Sampai di depan puntu kamar Sefia, Aldrick menggapai handle pintu.Membuka pelan karena takut Sefia terbangun.
"Mas.." Namun justru dia yang terkejut dengan panggilan Sefia yang ternyata sudah bangun.
"Kamu sudah bangun?"
"hem"
Hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Aldrick.
Sefia terbangun beberapa saat lalu, karena kandung kemihnya terasa penuh minta untuk dikeluarkan.
"Bagaimana keadaanmu?" Kembali bertanya.
"Aku sudah mendingan mas,jauh lebih baik" Membangunkan tubuhnya untuk duduk bersandar pada headboard ranjangnya. Aldrick pun ikut memdudukkan tubuhnya di tepi ranjang
"Trima kasih mas,yang sudah begitu baik merawat dan menemaniku kemarin,padahal mas Aldrick sendiri orang yang sibuk.Apa yang bisa ku berikan untuk membalas semua kebaikanmu?" ujung matanya sudah mengeluarkan bulir-bulir bening.Mengingat kebaikan Aldrick yang begitu banyak padanya.Menemaninya saat-saat tersulit karena ibunya sakit dan akhirnya meninggal.
"Mas sudah begitu baik, mau membantuku walau kita sebelumnya tak saling kenal" Air mata Sefia luruh dengan derasnya tanpa bisa di tahan.Kini ia jadi mudah mengeluarkan air mata.
"Jangan berpikiran macam-macam.Aku tak mengharapkan apapun atas semua yang aku lakukan untukmu" Jawab Aldrick lembut.
"Terima kasih.. Terima kasih" ucap Sefia lirih di sela isakan tangisnya dalam dekapan Aldrick.
Aldrick sedikit menunduk, mencium lembut kepala Sefia.
Setelah dirasa tak ada isak yang keluar dari Sefia.Aldrik mendorong pelan tubuh Sefia, kedua tangannya memegang bahu Sefia.Sorot matanya yang teduh menatap Sefia.
"Jangan pernah berfikir macam-macam, fokus saja dengan kesehatanmu, dan juga jangan melakukan pekerjaan apapun.Ingat!" sudah seperti seorang ibu yang memberi mejangan pada anaknya.
Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Dia harus segera pergi ke kantor.Dengan berat hati meninggalkan Sefia sendiri di apartemen.
__ADS_1
"Mas nanti kesiangan,bagaimana kalau nanti atasan kamu marah?" Sefia berucap mendorong tubuh Aldrick. Aldrick hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar pertanyaan Sefia. Tak berniat untuk menjawabnya.
Sefia belum tau kalu Aldrick lah pemilik perusahaan, juga atasan yang dimaksud Sefia. Tak ada yang akan berani menegurnya sekalipun dia datang terlambat kecuali ayahnya.
Karena waktu Aldrick yang begitu mepet, jadi mau tidak mau dia harus segera berangkat ke kantor.
"Ingat pesanku! " memberi ultimatum pada Sefia. Walaupun sudah keberapa kalinya dia mengulang-ulangnya tadi. Sefia yang kembali mendengar wejangan Aldrick hanya memutar bola matanya.
Aldrick memegang tengkuknya Sefia.Aldrick juga memajukan Wajahnya mencium kening Sefia dalam-dalam.Menjauhkan bibirnya dari kening Sefia. Turun ke bawah.Mendaratkan kembali bibirnya di bibir Sefia. ******* lembut bibir Sefia. Mendapat balasan dari Sefia,Aldrick pun semakin memperdalam ciumannya. Sefia yang membuka mulutnya mempermudah Aldrick untuk memainkan lidahnya di dalam sana. Saling bertukar saliva.Satu tangannya memegang pinggang ramping Sefia, dengan tangan satunya masih di tengkuk Sefia.Memberi remasan lembut di sana.
Tanpa keduanya sadari, sebuah rasa cinta tumbuh dan terpupuk seiring kebersamaan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ALdrik baru tiba di kantornya pukul delapan pagi.Sebagian pegawainya yang masih berada di lobby terlihat menganggukkan kepala, dan sebagian lagi tersenyum menyapanya.Aldrick pun tersenyum menjawab sapaan para pegawainya.Para pegawai wanita yang mengaguminya sudah seperti fans beratnya menjerit dalam hati. Wah mimpi apa mereka semalam?Hingga melihat atasannya yang sedingin kulkas hari ini justru tersenyum membalas sapaan mereka. Karena suasana hati Aldrick begitu bahagia.
Aldrick berjalan menuju lift khusus untuk para jajaran direksi. Setelah masuk dan pintu lift tertutup,para karyawan wanitanya berbisik-bisik satu sama lain.Ketampanan dan garis wajahnya yang tegas begitu membuat wanita yang melihatnya langsung jatuh hati walau pertama kali melihatnya.
Ketika lift berhenti di lantai ruangannya,Aldrick segera melangkah keluar.Menuju di mana ruangannya. Reno dan beberapa sekertaris yang berada di lantai itu segera berdiri menundukkan kepala melihat kedatangan atasannya.
"Pagi bos" Sapa Reno.
"Pagi juga" balasnya sambil tersenyum.
"Eh.." Reno terkejut mendengar jawaban Aldrick spontan menutup mulutnya karena hampir saja mulutnya keceplosan. Semua yang ada di sana ikut melongo melihat Aldrick yang berbeda. Aura dingin yang dari Aldrick seperti menghilang karena senyumnya.
Hingga Reno pun lupa memberi tahu Aldrick tentang sesuatu karena masih tertegun.
Aldrick segera membuka pintu ruang kerjanya.
"Bunda!" Menghampiri sang bunda yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa ruangannya.
__ADS_1