Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Kemarahan Aldrick


__ADS_3

Tidur di sofa dengan kaki yang menjuntai membuat tubuh tinggi Aldrick tak nyaman. Namun sepertinya dia juga tak mau pindah ke kamarnya. Hingga tengah malam dia menunggu Sefia diapartememya.Menunggu gadis itu pulang. Namun hingga lewat tengah malam gadis itu belum juga menginjakkan kakinya di apartemennya. Tubuhnya yang lelah karena sudah bekerja sehari membuat matanya seperti enggan terbuka karena di dera rasa kantuk.


Tapi Sefia selalu pulang setelah melayani kliennya, walaupun sudah dini hari. Dia tak pernah menginap kalau bukan karena orang yang membokingnya meminta untuk menginap dan memberinya tambahan uang. Dia tetap menerima tawaran itu jika ada tak pernah jual mahal. Yoh dirinya memang sudah kotor pikirnya.Bukankah tubuhnya juga memang di bayar untuk dinikmati.


Pagi yang cerah,menyambut hari yang ceria. Meninggalkan gelapnya malam. Aldrick yang terbangun.Dengan tubuh yang terasa sakit di mana-mana. Karena tertidur di sofa semalaman. Setelah membersihkan diri,keluar dari kamar mandi masih memakai kimono handuknya. Menuju ruang tempat dimana pakaiannya. Mencari setelan kerja dengan perpaduan warna yang serasi. Membuka salah satu laci yang di dalamnya berjajar banyak jam tangan mewah dan juga dasi,mengambil salah satu yang ingin dipakainya dan menutup laci setelahmya.


Bercermin setelah semuanya selesai. Aldrick segera menyambar tas kerjanya dan berlalu keluar dari kamar. Sebelum berangkat ke kantor, ia akan pergi menemui Sefia.


Memasuki apartement Sefia dengan ruang tamu yang masih gelap. Karena penghuninya sepertinya belum bangun.


"Pulang jam berapa dia?" Gumam Aldrick sambil menahan kesal.


Kaki jenjang itu membuat langkahnya lebar,menaiki tangga.Sampai di depan pintu kamar Sefia Aldrick langsung membukanya tanpa mengetuk pintu. Dan benar saja Sefia tak pernah menutup pintu kamarnya.Karena tak ada orang lain di apartemennya.


Aldrick menghampiri ranjang di mana Sefia masih nyaman bergelung di bawah selimut. Tangannya terulur mengguncang pelan tubuh Sefia.


"Sefia,, bangun Fia!" Sefia tak terusik sedikit pun walau sudah beberapa kali di bangunkan. Aldrick yang tak sabar menarik selimut yang di pakai Sefia.


"Fia,,, bangun!"


"Apa sih mas? Masih ngantuk nih" Menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.


Aldrick kembali menarik selimut Sefia dengan kasar dan membuangnya.

__ADS_1


"Sial " Umpat Aldrick dengan cepat memalingkan wajahnya dari Sefia.Menelan kasar ludahnya. Gadis itu tidur dengan memakai lingerie tanpa menggunakan bra. Membuat dua bongkahan indahnya terlihat jelas karena pakaiannya yang minim.


Sefia yang tanpa risih mendudukkan tubuhnya dengan malas,beberapa kali dia menguap. Matanya pun juga tetap terpejam.


"Pergi kemana kamu semalam?" keluar juga dari mulut Aldrick rasa penasarannya.


"Aku kerja mas" Masih tetap bermalas-malasan bersandar di bantal yang taruh di belakang punggungnya dengan mata yang enggan terbuka.


"Sefia" berteriak dan meraih dengan kasar lengan Sefia dan mengguncangnya.


Sefia yang terkejut segera membuka mata.


"pergi kemana kamu semalam hah? " mengulang kembali pertanyaannya.


"Kerja apa hingga tengah malam begitu hah?" Aldrick sudah di kuasai emosi,tak sadar dengan tindakannya.


"mas nggak perlu tau, ini bukan urusanmu!" bantah Sefia.


"Aku seperti melihatmu di hotel XXX tadi malam"


Deg


Sefia langsung memalingkan wajahnya,menyembunyikan keterkejutannya. Aldrick meraih dagu Sefia,menariknya agar kembali menghadapnya.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku Sefia!" Bentakan Aldrick membuat Sefia mendorong tubuh Aldrick agar menjauh darinya.


Sefia yang terkejut karena di bentak Aldrick, juga karena Aldrick yang pagi-pagi sudah mengganggu tidurnya hanya untuk marah-marah tak jelas.


"Apa yang mau kamu tau mas? "Teriak Sefia. "Kita tidak sedekat itu sampai kamu harus memarahiku dan membentakku karena aku pulang malam. Terima kasih. ..terima kasih ..dengan kebaikan dan apa yang kamu lakukan untukku juga keluargaku selama ini. Tapi kita pun tak pernah terikat dengan sebuah hubungan hingga kamu terlalu mencampuri segala urusanku." Kata-kata yang tak seharusnya di ucapkan akhirnya meluncur juga tanpa bisa di cegah dari bibir Sefia. Keduanya kini sama-sama di delimuti amarah. Mendengar kata-kata Sefia, Aldrick seperti tersengat listrik. Terdiam kaku mencerna setiap kata dari Sefia.


Aldrick yang hendak berbicara mengurungkan niatnya.Karena ponselnya berdering. Dia segera merogoh sakunya,mengambil benda pipih itu.


"Aku akan segera berangkat" hanya itu yang Sefia dengar dari pembicaraan Aldrick dengan orang di sebrang sana.


Tanpa berpamitan Aldrick berlalu pergi meninggalkan Sefia. Dengan membawa kemarahannya. Menutup pintu kamar Sefia dengan keras saat keluar.


Air mata yang sedari tadi sudah mati matian di tahan oleh Sefia, kini luruh juga setelah kepergian Aldrick. Sefia tak menyangka hubungannya dengan Aldrick akan seperti ini.


Kedua duanya sama sama terluka. Tanpa mereka sadari hati keduanya sudah terikat dengan yang namanya Cinta. Namun Sefia tak pernah mengharap lebih hubungannya dengan Aldrick. Karena dia sadar dia bukan perempuan baik-baik.Dia mengira Aldrick sudah tau dengan kehidupannya. Pulang dini hari setiap malam dengan pakaian seksi, orang yang pertama kali melihatnya pun pasti berpikir dia wanita ******. Tapi ternyata semuanya justru menjadi kesalah pahaman.


Aldrick memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Menyalip mobil di depannya. Sering kali bunyi klakson dari kendaraan yang berpapasan dengannya karena dia berkendara terlalu cepat. Dia seperti tertampar dengan kata-kata Sefia. Mereka memang tak ada hubungan apapun. Hubungan keduanya hanya sebatas teman. Tapi perasaan tak bisa di bohongi bukan. Dia begitu marah saat Sefia belum juga pulang hingga tengah malam. Dan tadi ketika ditanya Sefia menjawab kalau dia kerja. Pikiran Aldrick pun langsung tertuju pada satu pekerjaan,namun segera menepisnya jauh-jauh. Berharap tak mungkin Sefia bekerja seperti itu.


Pagi ini terasa berbeda.Karena beberapa hari ini mereka berdua selalu sarapan dan makan malam bersama. Kadang mereka memesan makanan,kadang juga memasak bersama di apartement Sefia.


Aldrick sudah sampai di lokasi yang disebutkan Reno di telefon tadi. Segera memarkirkan mobilnya memukul stir mobilnya dan menjatuhkan kepalanya di sana. Pikirannya benar-benar kalut. Kemarahannya menjadikannya tak bisa berpikir jernih. Rono yang melihat mobil atasannya segera menghampirinya. Membukakan pintu mobil untuk Aldrick. Melihat wajah Aldrick yang kusut, membuat Reno mengurungkan niatnya untuk berbicara. Karena tak mau menjadi sasaran kemarahan Aldrick.


Aldrick harus menghadiri peletakan batu pertama pembuatan hotel yang bekerja sama dengan perusahaannya.Sehingga dia tak bisa mewakilkannya pada Reno karena menghormati pemilik hotel itu. Dia harus bisa bersikap profesional. Sehingga dengan mudah dia bisa merubah raut wajahnya yang sebelumnya diselimuti mendung, kini harus tersenyum

__ADS_1


__ADS_2