
Remaja berusia 18 tahun yang masih duduk di bangku SMU. Menjelang akan mengikuti ujian kelulusan. Justru musibah datang menimpanya.
Ibu yang begitu ia sayangi dan ia hormati pergi meninggalkannya untuk selamanya. Wanita yang melahirkannya,yang selale ada di sampingnya sejak kakak satu-satunya berangkat ke kota untuk bekerja.
Bukan inginnya untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Semua karena sang kakak yang bekerja keras ingin melihatnya berhasil kelak. Kakaknya bersikeras agar dia bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Agar dia bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik.
Keadaan yang menjadikannya giat belajar. Demi tidak membuat sang kakak kecewa. Walau dalam hati dia ingin sekali bekerja demi bisa mengurangi beban Sefia.
Melihat ada seorang pria yang dekat dengan kakaknya. Bahkan tanpa memandang dari keluarga mana mereka berasal. Namun tetap mau membantu ketika mereka dalam kesusahan membuatnya senang.
Dia bisa melihat ketulusan hati Aldrick ketika membantu keluarganya. Aldrick yang seperti bukan dari keluarga yang sama dengannya. Dilihat dari mobil mewah dengan edisi terbatas juga pakaian branded yang melekat pada tubuh Aldrick. Membuat Sena yakin jika Aldrick merupakan orang kaya. Namun Aldrick tetap mau belajar menyesuaikan dirinya di rumah Sefia yang sederhana dengan barang-barang yang jauh dari kata mewah.
Terbukti waktu Sena yang hendak ke kamar mandi, tidak sengaja melihat dari celah pintu kamar yang mungkin lupa tidak tertutup rapat,Aldrick yang seperti kesulitan memejamkan matanya. Karena mungkin ranjang tempat tidur Sefia terlalu sempit juga tidak terlalu empuk layaknya ranjang yang ada di kamarnya.
Namun dia juga tidak pernah melihat Aldrick mengeluhkan keadaan rumahnya. Justru seolah pria itu ingin menikmati keadaan di desa. Yang jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk keramaian kota.
Melihat Aldrick yang bercengkrama dengan kakaknya. Menemani kakaknya berbelanja ke pasar, yang sepertinya Aldrick tidak tau keadaan di paras jauh dari ekspekstasinya. Karena mungkin pria itu mengira pasar yang ada disana hampir tidak jauh berbeda dengan kota. Yang sudah ada banyak minimarket yang menyediakan kebutuhan sehari-hari yang lengkap.
Dalam hati Sena berharap semoga pria itu benar-benar menyayangi kakaknya. Sebagai pria tentu saja dia bisa melihat,tatapan Aldrick yang berbeda ketika bersama Sefia.Seperti ada perasaan lebih yang terpancar dari pandangannya.
Karena bagaimana mungkin ada orang asing yang mau membantu mereka saat kesusahan. Dan bahkan baru saja mengenal mereka.
Sena juga bisa kembali membuka pikirannya setelah percakapannya dengan Aldrick di teras malam itu. Sena sadar bahwa dirinya harus bengkit. Demi kakaknya yang sudah bekerja keras memperjuangkannya.
"Eh Mbak kok senyum-senyum sendiri sih?" berbicara sambil menutup mulut. Dia seperti melihat kebahagiaan dari mata Sefia setelah melihat kakaknya menerima telfon dari seseorang. Yang dia tau adalah Aldrick.
"Iihhh...apaan sih kamu".Memukul pelan bahu Sena kemudian menenggelamkan wajahnya di punggung Sena.Wajah kakaknya yang memerah seperti kepiting rebus karena malu.
"Eh..Bagaimana dengan sekolahmu"
"Setiap hari ada tambahan jam pelajaran mbak"engeluh sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Semoga kamu lulus dan bisa di terima di perguruan tinggi yang kamu impikan."
"Amiinn" Menjawab dengan lantang do'a kakaknya.
Walau hatinya sedikit ragu dengan keputusan kakaknya yang ingin dia melanjutkan untuk kuliah.
Dia bukannya tidak mau melanjutkan sekolahnya. Namun dia juga tidak mau terus menerus menjadi beban kakaknya. Dia hanya ingin menunda kuliahnya satu tahun untuk bekerja. Agar tidak terlalu nyusahkan kakaknya.
Tapi dia yakin kakaknya pasti akan sangat marah dengan keputusannya. Hingga akhirnya dia tetap diam tanpa berani mengungkapkan keputusannya. Karena tidak mau membuat kakaknya kecewa.
Melihat perhatian Aldrick pada Sefia sedikit membuatnya senang.Sekarang ada yang memperhatian kakaknya. Karena pria itu bahkan tidak mengijinkan Sefia kembali ke kota sendiri. Pria itu akan menjemput kakaknya. sehingga sebelum kembali ke kota dia meminta kakaknya untuk memberi tahunya terlebih dahulu.
"Mbak nggak perlu khawatir aku disini sendiri. Aku bisa menjaga diriku dengan baik.Di sebelah juga ada bi Marni mbak". Hiburnya pada sang kakak yang terlihat gelisah.
"Tapi mbak tetap nggak tega buat ninggalin kamu sendiri."
"Santai aja deh mbak. Aku bisa ajak temanku buat sering-sering menginap di sini biar rame he.. he.. he.. "
"Cowok mbak cowok.. Udah mau ngegas aja rupanya. Aku mana pernah deket sama cewek." Segera memberi pengertian pada kakaknya.
Terlihat kakaknya menghembuskan nafas lega
Bukannya tak ada gadis yang mau dekat dengannya. Justru dia yang sepertinya enggan di dekati gadis-gadis di sekolahnya. Dengan wajahnya yang lumayan tampan,juga sikapnya yang dingin dan cuek.Justru membuat pera gadis-gadis itu penasaran dan ingin mendekatinya.
Bahkan kadang-kadang ada temam laki-lakinya yang iri dengannya yang selalu didekati gadis-gadis. Namun dia tak mau ambil pusing dengan masalah sepele itu.
Tujuannya ke sekolah hanya untuk belajar. Membuat kakaknya bangga dengan apa yang diraihnya.
Sudah beberapa kali dia meminta kakaknya untuk segera kembali ke kota. Beberapa kali pula dia mendengar Aldrick menghubungi kakaknya, bertanya kapan kakaknya kembali ke kota .
Hingga malam ini atasan tempat kakaknya bekerja menghubungi,meminta kakaknya untuk segera kembali. Karena dia pun tahu,kakaknya sudah libur terlalu lama. dia takut kakaknya nanti akan di pecat karena tidak segera masuk kerja demi menghawatirkannya yang akan ditinggal sendirian.
__ADS_1
"Sen, sini deh! ada yang mau mbak omongin" melihat kakaknya menepuk tempat di sebelahnya. memintanya duduk di sana.Mereka duduk di atas karpet yang ada di ruang tengah dengan tv yang menyala di depannya.
"Emmss... " menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal. Kakaknya seperti bingung mau ngomong apa.
"Mbak mau ngomong apa? "
"Eemmmss.. Sebenarnya,,atasan mbak meminta mbak untuk segera kembali" . Ragu-ragu berbicara.
"Mbak balik aja nggak papa." Menggapai tangan kakaknya untuk di genggamnya.
"Mbak tenang aja,aku juga sudah terbiasa mandiri kan. Masak,mencuci bahkan membersihkan rumah ini aku tetap bisa mengerjakannya mbak. Mbak tenang aja!" mencoba menghibur kakaknya yang sedang dilema.
"Tapi mbak tetap nggak tega kalau kamu sendiri"
Sampai malam kedunya masih tetap berbicara. Dengan keputusan akhir, kakaknya akan kembali ke kota.
"Mbak nggak telfon kak Aldrick? "
"nggak usah,aku nggak mau terus merepotkannya. Lagian jika dia menjemputku malah nanti jadi bolak balik lagi"
"Terserah mbak saja lah" Menjawab sambil menguap.
"Tidur sana,kamu sepertinya sudah ngantuk. Besok sekolah juga"
"Oke mbak, besok mbak mau balik jam berapa? "
"Mungkin pagi-pagi sekali mbak akan berangkat. Kalau agak siang nanti macet"
"Besok aku antar sampai terminal ya mbak?"
Setelah melihat kakaknya menganggukkan kepala, dia segera berdiri. Berjalan ke kamarnya karena matanya sudah sangat sulit di ajak kompromi. Saking ngantuknya,dia langsung tertidur.Padahal belum lama dia merebahkan tubuhnya.
__ADS_1