
Beberapa hari sudah berlalu. Tanpa adanya pertemuan antara Sefia dan Aldrick. Aldrick yang bahkan setiap malam selalu menunggu Sefia pulang dan berakhir dengan ketiduran karena tubuhnya yang lelah setelah bekerja seharian. Namun sampai akhir pekan ini dia tidak pernah melihat Sefia. Melihat sekelebat bayangan Sefia pun juga tidak.
Sefia yang pulang menjelang pagi dengan Aldrick yang sudah terlelap dalam peraduannya. Dengan pagi hari Aldrick sudah harus berangkat ke kantor untuk bekerja Dengan Sefia yang kini masih terlelap.
Pesan Aldrick juga dibalas dengan singkat saja oleh Sefia.
Membuat Aldrick merasa kesal.
"Kemana perginya dia,bahkan sampai tengah malam dia belum juga kembali?" rsa penasaran dalam hati Aldrick.
Pernah sekali Aldrick ingin tau ke mana Sefia pergi. Namun mereka selalu berselisih, Sefia sudah pergi sebelum Aldrick pulang kantor.
Pagi hari di akhir pekan ini Aldrick berniat mengajak Sefia untuk berjalan-jalan di taman yang ada di sekitar apartemen mereka.
Aldrick menggedor-gedor pintu apartemen Sefia. Namun hingga cukup lama Sefia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aldrick akhirnya membalikkan badannya berniat berjalan-jalan sendiri.
Namun dia mengurungkan niatnya setelah pintu di belakangnya terbuka.Terlihat Sefia melongokkan kepalanya. Dengan muka Sefia yang masih terlihat acak-acakan karena masih baru bangun.
"Ya Ampun..." Gerutu Aldrick sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan masuk menerobos Sefia yang masih berdiri di balik pintu.
"Mas.. !"Teriak Sefia yang terkejut karena Aldrick tiba-tiba masuk kedalam apartemennya.
"Sial!" .Umpat Aldrick dalam hati. Menoleh pada Sefia yang berteriak padanya. Namun pemandangan di depan matanya sungguh membuat wajahnya merah,menelan ludahnya dengan kasar.
Sefia yang hanya menggunakan baju tidur seksi dengan kain tipis tanpa menggunakan bra yang menbuat kedua gundukan itu terlihat jelas. Membuat tubuh Aldrick berdiri kaku menatapnya.
Namun Sefia terlihat biasa saja, berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya melewati Aldrick yang masih mematung memandangnya.
Aldrick mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamunya setelah tersadar dari keterkejutannya. Mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan,padahal dia belum berolah raga.
Beberapa saat kemudian Sefia sudah keluar dari kamarnya masih menggunakan gaun tidur seksinya tadi dengan memakai kardigan.
Menguap malas dia menjatuhkan tubuhnya disebelah Aldrick.Sedikit merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa. Dengan matanya yang masih mengantuk. Karena dia baru tidur sekitar tiga jam pagi ini.
"Bangun hei!" Mengguncang tubuh Sefia yang seperti akan tertidur lagi.
"Mas... inikan masih pagi.Aku juga masih ngantuk" Menjawab malas dengan mata yang masih enggan terbuka.
"Ngantuk katamu! Gadis macam apa yang belum bangun jam segini" omel Aldrik.
__ADS_1
Sefia hanya mengangkat bahu tanpa menjawab pertanyaan Aldrick.
Aldrick yang merasa kesal segera berdiri. Menarik tangan Sefia agar berdiri mengikutinya.
"Ganti bajumu cepat! "
"Masss..." Tubuhnya kembali luruh di sofa.
Aldrick berusaha tetap membangunkan Sefia.Karena bisa panjang urusannya jika mereka tetap disini. Dia takut akan menerkam Sefia jika tetap sepetri ini. Karena baju Sefia yang kelewat pendek membuat paha putih mulus itu terpampang jelas. Membuat Aldrick beberapa kali menelan ludahnya dengan kasar.
"Bangun, Cepat ganti bajumu. Kita keluar jalan-jalan di taman." Kembali menarik Sefia agar berdiri.
"Biarkan aku tidur lagi" Racau Sefia dengan mata yang masih tertutup.
Tubuhnya yang menyender di Sandaran sofa perlahan luruh mejadi berbaring.Dia sepertinya masih tetap ingin tidur.
Tarikan Aldrick yang asal-asalan membuat tubuhnya juga ikut jatuh di Sofa. Secepat kilat tangannya menahan tubuhnya agar tidak menimpa Sefia. Dengan wajah yang sejajar.
Melihat bibir mungil Sefia. Aldrick tanpa sadar memajukan bibirnya. mendaratkan kecupan di sana. Tak puas dengan kecupan,dia kembali mendekatkan bibirnya lagi. Mencium bibir mungil tanpa polesan lipstik yang bisanya menempel di sana.
Malumat dengan lembut. Menggigit bagian bawahnya agar terbuka. Memudahkan lidahnya menerobos masuk.Mengeksplor setiap bagian di dalamnya. Sefia yang masih mengantuk dengan terpaksa membuka matanya. Mendapat serangan memabukkan dari Aldrick.
Dia yang awalnya hanya diam tanpa mau membalas ciuman Aldrick,jadi ilut mengalungkan tangannya di leher Aldrick. Membalas ciuman Aldrick. Hingga ciuman keduanya semakin dalam.
Sefia memejamkan matanya. Menikmati ciuman Aldrick yang begitu lembut.
Aldrick yang pikirannya sudah tertutup kabut gairah.Melepaskam tautan bibir keduanya. Mengecup seluruh bagian wajah Sefia.
Memberi gigitan kecil di telinga Sefia. Hingga kecupan-kecupan itu merayap turun. Menjelajahi leher jenjang dan dada Sefia. Sesekali lidahnya juga ikut bermain. Hingga terasa basah oleh jilatan Aldrick juga bekas merah di leher Sefia.
Sebelah tangan Aldrick melepas kardigan yang dikenakan Sefia. Hingga terpampang jelas pemandangan yang indah di depannya. Karena baju tipis yang dipakai Sefia sudah berantakan.
Memudahkan Aldrick memainkannya.
Memberi ******* Lembut disana,dengan sebelah tangan memainkan yang lainnya. Aldrick seperti lupa pada dunianya.Meninggalkan bekas merah di sekitarnya.
Sefia tidak pernah mengijinkan pra kliennya untuk meninggalkan bekas merah pada tubuhnya. Karena dia tidak mau bersusah payah untuk menutupinya jika akan bertemu kliennya yang lain.
Namun sentuhan Aldrick sungguh berbeda. Dia seperti menikmati setiap sentuhan Aldrick yang dia kira hanya karena nafsu sama seperti pria lain yang menjamahnya.
__ADS_1
"Ahhhh... "Hingga satu ******* lolos dari bibir Sefia.
Aldrick yang mendengar ******* itu berjingkat, melotot.Bergegas bangun dari posisinya yang berada di atas Sefia.
Sefia membuka matanya ketika dirasa Aldrick menghentikan aktifitasnya.
Menarik Sefia agar bangun.
"Bangunlah,aku menunggumu,cepat ganti bajumu kita akan jalan-jalan di taman pagi ini!" Bebricara tanpa mau menatap wajah Sefia.
Sefia berjalan menuju kamarnya dengan malas. Menuruti apa yang di mau Aldrick.
Aldrick menyugar rambutnya dengan kasar. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana bisa dia melakukan itu dengan Sefia.
Namun beberapa saat setelahnya justru Aldrick terlihat kesal. Bagaimana tidak kesal. Karena Sefia memakai Hot pant yang begitu pendek. Memperlihatkan pahanya yang mulus. Dengan atasan sebuah sweater lengan panjang.
"Apa sebaiknya kita lanjutkan kegiatan yang tadi, daripada keluar dengan pakaianmu yang kekurangan bahan itu." Ancam Aldrick.
Apa yang disangka Aldrick justru menjadi boomerang baginya. Bukannya takut Sefia justru menghampirinya dan mengalungkan tangannya di leher Aldrick.
"Siapa takut! " Sambil berjintit memberi kecupan di bibir Aldrick.
Aldrick yang terkejut dengan perlakuan Sefia segera melepaskan tautan Sefia pada lehernya. Dia tidak menyangka Sefia akan seberani itu. Dengan Terpaksa dia menyeret tangan Sefia keluar dari apartemennya. Karena Aldrick takut tak bisa mengendalikan dirinya jika tetap di sini.
Dengan tangan yang masih saling bertaut saat mereka keluar dari apartemen Sefia. Aldrick yang sedikit canggung melirik Sefia dari ekor matanya. Namun Sefia malah terlihat biasa saja. Tanpa rasa canggung mengingat apa yang sudah mereka lakukan tadi.
Keduanya berlari-lari kecil mengitari taman di dekat apartemen. Aldrick Begitu geram melihat tatapan para lelaki pada Sefia.Pakaian Sefia seperti membuat mereka akan meneteskan air liur. Melihat kaki jejang dengan paha yang begitu putih mulus.
Aldrick segera membuka jaket yang dipakainya. Mengikatkan pada pinggang Sefia. Agar sedikit menutupi paha gadis itu.
"Harusnya aku tadi bawa sarung saja" Gerutu Aldrick.
"Hah.. untuk apa mas? "
"Kau tanya untuk apa! Tentu saja untuk membungkusmu. Biar mereka tidak jelalatan melihatmu. Bahkan aku seperti ingin mencongkel mata bola mata mereka" mendengus sebal.
Sefia hanya tertawa mendengar Aldrick yang marah-marah. Aldrick memicingkan matanya mendengar Sefia menertawakannya.
Dia segera Mendekap tubuh Sefia. Menggelitik Sefia Sampai Sefia mengeluarkan air mata karena tertawa dan juga tidak tahan geli.
__ADS_1
"Ampun mas.. ampuunnn"
Aldrick pun menghentikannya, setelah nafas Sefia tersengal-sengal. Dan kemudian keduanya tertawa bersama. Menikmati pagi yang menyegarkan.