
Sefia.
Hari ini Perasaan Sefia membuncah begitu bahagia. Dia yang tak pernah peduli pada kesehatannya. Biasanya hanya mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.
Sejak bertemu Aldrick dia seperti punya sandaran hidup untuk sedikit mengeluh. Setegar-tegarnya seorang wanita, dia juga tetap mempunyai sisi rapuh.
Kini ketika ia sakit, ada seseorang yang menemaninya, merawat juga memberinya perhatian. biasanya dia hanya akan tidur meringkuk sendiri tanpa ada seorang pun di sampingnya dan berharap ketika ia bangun esok akan lebih baik.
Dia seolah menikmati setiap perhatian yang tercurah dari Aldrick. Aldrick merawatnya dengan sabar dan telaten. Tak memperbolehkannya melakukan apapun. Sefia pun juga sudah menghubungi mami, kalau ia tidak datang hari ini dan memberi tau mami kalau sedang sakit.
Mami juga berpesan agar Sefia beristirahat dulu sampai ia sembuh.
Aldrick merengkuhnya, menyandarkan kepala Sefia di bahunya.
"Kau lapar? "
"Heemms" Jawab Sefia sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Mau makan apa? tanya Aldrick lagi.
"Sepertinya makan soto enak" menatap Aldrick dengan bola mata berbinar.
"Tapi dimana ada makanan yang kamu maksud?"
"Kita bisa go send aja,biar ga repot-repot keluar"
Beberapa saat kemudian pesanan Sefia sudah diantarkan.
"Kamu tunggu sini aja,biar aku aja yang siapin" Aldrick melarang Sefia yang akan bangun. Dia melakukan semuanya, bahkan menyiapkan peralatan makan untuk mereka berdua. Sefia tetap berada di tempatnya.Aldrick benar-benar tak membiarkannya bergerak melakukan apapun.
Setelah selesai makan Aldrick mengambilkan obat Sefia yang ditaruh di atas nakas di kamar Sefia.Mengangsurkan obat itu untuk segera di minum Sefia.
"ayo aku antar"
"kemana? " Bertanya dengan kening berkerut.
"Ke kamarmu, istirahatlah. Bukannya kamu masih sakit" lanjut Aldrick.
"Hah.. " segera Sefia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? " Aldrick ganti bertanya.
"Aku tidur di sini aja deh mas" Menunjuk Sofa yang mereka duduki.
Aldrick hanya bengong mendengar jawaban Sefia.
"Terserah kamu saja lah. yang penting segera istirahat."
Tak lama setelah merebahkan tubuhnya di sofa, Sefia langsung terlelap. Mungkin karena efek obat yang di minumnya. Melihat Sefia yang sudah pulas,Aldrick berjalan menaiki tangga untuk mengambilkan selimut untuk Sefia di kamar.
Setelahnya Aldrick kembali memeriksa pekerjaannya yang di kirimkan Reno.Sesaat kemudian Aldrick justru lebih tertarik untuk ikut merebahkan tubuhnya di samping Sefia.Padahal pekerjaannya belum selesai
__ADS_1
Memiringkan tubuhnya karena Sofa itu tak begitu lebar.Ikut masuk ke dalam selimut dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Sefia.Hingga matanya terasa berat dan terpejam menyusul Sefia yang sudah lebih dulu berkelana di alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jessy
Sepulang Jessy dari apartement Aldrick.Dia memacu mobilnya menuju kediaman Wijaya. Berniat untuk bertemu bunda Hesla.
Jalanan yang macet, menambah kusut pada wajah Jessy yang sudah kesal karena tetap tidak bertemu Aldrick.
"Sialan" umpatnya sambil memukul stir mobilnya.
Jessy bukan wanita yang bodoh,dia tau kalau sebenarnya Aldrick selalu menghindarinya ketika di ajak bertemu.
Dia akan lebih mendekati bunda Helsa.Jika bisa mendapat dukungan dari bunda Helsa,maka hubungannya dengan Aldrick akan lekas menuju ke pelaminan. Dia bosan dengan hubungan yang sudah begitu lama ini namun tetap tak ada kemajuan. Masih tetap jalan di tempat. Karena sepertinya hanya Jessy yang antusias dan mengharapkan hubungan ini,tidak dengan Aldrick yang tetap menjalani hubungan ini hanya karena dia ingin menuruti kemauan. orang tuanya.
Namun hubungan yang berlandaskan paksaan, tak akan membuat hati senang. Hubungan akan terasa dingin jika tak melibatkan hati.
Jessy yang sudah sampai di depan gerbang segera membunyikan klakson mobilnya. Satpam yang mendengar bergegas,berlari kecil membukakan pintu gerbang itu.Jessy kembali melajukan mobilnya setelah pintu gerbang itu bergeser,memberi ruang untuk mobilnya masuk ke halaman rumah keluarga wijaya.
Mengambil paper bag buah tangan untuk bunda Helsa yang tadi ti taruhnya di kursi belakang.Sebelumnya dia menyempatkan untuk berhenti di sebuah toko kue terkenal, dengan macam-macam pilihan.
Memasuki rumah keluarga wijaya, Jessy langsung mata Jessy di manjakan dengan barang-barang mewah di yang melengkapi seluruh ruangan di rumah itu. Sehingga Jessy berharap dia segera menjadi anggota keluarga Wijaya.
"Nona Jessy" sapa seorang pelayan yang meyambutnya tadi
"Dimana tante Helsa" tanya Jessy.
"Nyonya sedang berada di taman nona" jawab sang pelayan."Silahkan anda tunggu di sini,biar saya beri tahu nyonya kalau anda datang" imbuh pelayan itu.
Sebelum menyusul bunda Helsa ke taman, Jessy memberikan paper bag itu pada pelayan.
"Siang tante" Sapa Jessy saat dia sudah sampai di taman. Dia memghampiri bunda Helsa bercipika-cipiki.
"Siang juga Jessy" jawab Bunda Helsa.
"Apa kabar tante?"
"Kabar tante baik sayang"
Seorang pelayan datang membawa minum untuk Jessy,juga sepiring kue yang di beli Jessy.
"Kamu kenapa repot-repot bawain tante kue sih"
"Nggak repot kok tan, inikan kue kesukaan tante"
"Aku tadi sebenarnya dari apartemen Aldrick, jadi sekalian mampir di toko kue kesukaan tante,karena searah jadi sekalian aja"
"Benarkah, bukannya seharusnya Aldrick ada dikantor jam segini". Bunda terkejut, alasan penting apa yang membuat putranya yang biasanya gila kerja itu, malah tidak datang ke kantor hari ini.
"Hari ini Aldrick nggak pergi ke kantor tante.Reno yang bilang padaku. Bahkan dari pagi aku juga sudah menunggunya di sana, Tadi aku juga coba untuk mencari Aldrick di apartemennya.Tapi dia juga nggak ada di sana". KeLuh Jessy
__ADS_1
"Kemana perginya anak itu?" batin bunda Helsa.
"Nanti biar bunda coba untuk menghubunginya." Mencoba menenangkan Jessy.
"Eh, kok nanti sih, kenapa nggak di telfon sekarang aja sih Aldricknya." ngomel-ngomel dalam hati. Jessy berharap sekali bunda Hesla menelfon Aldrick saat itu juga. Tapi Jessy pun tak mau memaksa,karena Jessy pun harus menjaga imagenya di depan binda Helsa. Dia seperti manusia bermuka dua yang berkelakuan baik, namun begitu berbeda jika di belakang.
Sebenarnya bunda Helsa bisa saja menghubungi Aldrick saat itu juga, tapi mengingat Aldrick yang selalu menghindar dari Jessy,bunda Helsa jadi mengurungkan niatnya.
Dia akan bertanya terlebih dahulu,kemana sebenarnya anaknya pergi. Dia juga ingin menanyakan perihal Aldrick.Ayah mengatakan jika Aldrick pernah tidak datang ke kantor lebih dari satu minggu.
Jessy keluar dari kediaman wijaya saat matahari mulai turun dari peraduannya, menyisakan warna merah senja di ufuk barat. Menggerutu ketika melihat kuku-kukunya yang rusak. Sudah tidak bisa bertemu Aldrick, justru Bunda Helsa malah mengajaknya berkotor-kotor ria. Mengajak Jessy menaman bunga yang baru diantar dari penjual tanaman langganannya. Jessy yang tidak terbiasa jadi risih.Namun dia tetap melakukannya.
Beberapa saat yang Lalu.
"Jessy, kamu sibuk nggak Hari ini?" Tanya bunda Helsa.
Dengan wajah berbinar Jessy segera menjawab "Nggak tan, aku nggak ada jadwal pemotretan hari ini."
"Bantu tante tanam bunga yuk! Tadi tante baru beli dan baru mau ditanam."
"Hah.. ta.. tanam bunga tan" melongo mendengar jawaban bunda. Kalau ada lalat lewat mungkin sudah masuk ke mulut Jessy. Bayangannya aja udah yang happy-happy. Dia kira bunda Helsa mau mengajaknya shopping,atau jalan-jalan.
"iya sayang" Bunda Helsa sebenarnya juga tau kalau Jessy tidak pernah mengerjakan pekerjaan seperti itu. Dia hanya ingin tau apakah Jessy akan menolaknya atau tidak.
"Bagaimana maukan kamu bantu tante,itu bunganya tadi baru di antar?" tanya bunda Helsa lagi sambil menunjuk deretan bunga di pojok tamannya.
"iy.. iya... tante"Jawab Jessy terpaksa.
Bunda bersorak girang dalam hati. Bukan maksud bunda ingin mengerjai Jessy ya..
"Sialan, kenapa aku justru terjebak disini,tau gini tadi lebih baik aku hubungi Riko aja, bisa seneng-seneng" menggerutu dalam hati,menatap nanar deretan tanaman.
Di sisi lain seseorang yang ingin di temui Jessy sedang berdua dengan wanita lain. Walaupun tanpa ikatan apapun,tapi keduanya merasa nyaman satu sama lain. Seharian ini Aldrick menemani Sefia. Walau Sefia sudah bilang dia sudah mendingan tapi Aldrick tak menghiraukannya.
"Untuk makan malam,sebaiknya masak sendiri aja ya? " Tanya Aldrick pada Sefia.
"Terserah, memang mas Aldrick bisa masak"
"Ehh.. gini-gini aku pinter masak loh" jawab Aldrick jumawa.
"Mas Aldrick mau masak apa?Coba deh cek dulu di kulkas ,ada ayam,gading,daun pokcoy juga ada."
Walau bekerja Sefia bukanlah gadis pemalas. Dia lebih suka memasak sendiri. Karena makanan rumahan seperti mengobati rindunya pada kampung halamannya.
Dan sepertinya masih banyak bahan yang bisa di masak di dalam kulkas Sefia.
Sebelum memasak Aldrick sebelumnya menanak nasi terlebih dulu.
Dengan cekatan,Aldrick memasak. Sudah seperti chef profesional.
Ketika masakan sudah siap, Sefia membantu Aldrick untuk membawanya ke meja makan. Sefia memaksa jika Aldrick melarangnya melakukan apapun maka Sefia tidak akan mau makan.
__ADS_1
"Aku nggak mau makan nih,kalau nggak boleh ngapa-ngapain" Ancam Sefia. Dia merasa tak enak hati kalau hanya berdiam diri. Seharian ini Aldrick sudah banyak membantunya.
Dalam hati dia sangat bersyukur bertemu dalam Aldrick.