
"Mbak Do'akan Sena ya,besok Sena akan mulai ujian kelulusan" bunyi pesan yang dikirim Sena pada Sefia.
Sudah beberapa kali dia menghubungi Sefia,namun tak di angkat.
"Mungkin mbak Sefia sedang kerja"
Sena sedang menunggu temannya yang akan menginap di rumah,menemaninya.Ada dua sampai tiga temannya yang kadang menemaninya. Mereka adalah sahabat karib, sudah berteman sejak kecil, bahkan mulai dari sekolah TK sampai ke jenjang SMU mereka selalu sama-sama. Bisa di bilang mereka soulmate.
Sena meminta teman-temannya untuk membelikan makanan ringan untuk camilan saat mereka belajar nanti. Kadang mereka juga memasak bersama untuk makan malam.
"Assalamu'alaikum" Salam teman-teman Sena yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Sena,bangun dari duduknya berjalan membukakan pintu untuk temannya yang datang.
Sena melihat temannya membawa kantong kresek berisi makanan ringan pesanannya Sena.
"Waahh,kenapa nggak sekalian saja warungnya yang kalian borong" mencibir kelakuan teman-temannya.
"Kamu sudah memasakkan?" salah satu teman Sena bertanya.
"Tentu saja! bahkan aku menunggu kalian untuk makan,padahal perutku sudah berteriak minta di isi dari tadi." mengomel sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anak-anaknya.
Mereka segera berjalan ke ruang tengah,di mana ada sebuah meja makan. Mereka bergantian untuk mengisi piring mereka. Menikmati masakan Sena.
Sena sudah terbiasa memasak. Keadaan yang menjadikannya seperti sekarang. Karena ibunya yang sakit,sehingga dialah yang harus melakukan pekerjaan rumah.
Setelah makan malam bersama.Mereka mulai belajar bersama. Dengan ditemani snack yang tadi di beli.
"Eh gimana nih kabarnya nora" terkikik sambil memandang Sena yang mendengus sebal.
"bodo amat."
"Emang kamu gak kasian apa sama dia, ngejar-ngejar kamu udah kayak dept colector aja" menutup mulutnya, Sudah melirik Sena yang majahnya memerah karena marah.
"Kalau pada resek mending pulang sono. Aku belajar sendiri aja"
"Apain sih, gitu aja sewot. Udah kayak cewek yang lagi PMS aja. Senggol dikit udah mencak-mencak" Sena melengos dengar jawaban temannya.
Begitulah hubungan mereka. Yang kadang di iringi canda tawa, saling meledek satu sama lain.Namun tetap akur.
Sena banyak disukai cewek-cewek di sekolahnya. Sikapnya yang baik hati,bikin para barisan para cewek jadi meleleh. Dia tak pernah berpikir untuk punya pacar. Karena tekadnya ke sekolah hanya untuk belajar. Dia tidak ingin mengecewakan Sefia.
Sena dan teman-temannya tertidur pulas di ruang tengah. Beralaskan kasur Lantai agar dingin tak terlalu menusuk di tulang
Menjelang dini hari, Sefia yang baru memasuki apartemennya,bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebelum masuk tadi Sefia sudah membawa baju tidur untuk ganti.
Dari sore tadi dia sudah merasa tidak enak badan.Dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.Malam ini dia menggunakan piyama panjang karena tubuhnya menggigil ,berbeda dari hari-hari biasanya,dia menggunakan baju tidur yang tak bisa menutupi apapun di tubuhnya.
Sambil merebahkan tubuhnya dia membuka ponselnya. Beberapa pesan juga panggilan tak terjawab dari Sena dan Aldrick tentunya.
Dia belum ingin memejamkan matanya. Menunggu hingga subuh untuk menghubungi Sena.
"Assalamu'alaikum mbak" Ketika panggilannya tersambung. Dia tau kebiasaan adiknya yang selalu bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah di masjid sekitar rumahnya
"Wa'alaikumsalam Sena" Suaranya terdengar sedikit serak.
__ADS_1
"Mbak baik-baik aja kan? " khawatir Sena, mendengar ada yang berbeda dari suara Sefia. Suaranya terdengar berat.
"Mbak gak papa, Cuma masih ngantuk aja" memberi alasan pada Sena agar tak khawatir.
"Memang mbak pulang kerja jam berapa?"
"Mbak gak tau,Gak lihat jam juga pas pulang"
"Jangan terlalu di forsir mbak tenaganya.Do'akan Sena ya hari ini ujian kelulusan dan aku juga sudah daftar di.... (menyebutkan sebuah nama universitas) untuk jalur beasiswa."
"Iya iya bawel,ini mbak juga masih mau lanjut tidur abis nelfon kamu.Mbak do'ain ya semoga di beri nilai yang baik dan semuanya di beri kemudahan"
"Amiinn. Mbak mau tidur lagi emang udah shalat subuh"
"Hemmmss" hanya gumaman yang keluar dari bibir Sefia. Dia yang hampir terlelap. Samar samar masih mendengar Sena yang terus berbicara. Hingga kesadarannya hilang perlahan-lahan.
Ketika tak ada jawaban dari sebrang Sena mematikan sambungan telfonnya.
"Dasar mbak Sefia, malah ketiduran" Ngedumel sena.
Di apartement Aldrick.
Aldrick yang selesai shalat subuh,keluar dari apartement. Menuju apartement Sefia. Dia langsung suk ke apartement Sefia setelah memencet beberapa digit angka yang menjadi sandi apartement Sefia.
Apartement itu gelap gulita seperti tak ada penghuninya. Aldrick memicingkan mata,meraba dinding di mana saklar lampu. Setelah lampu menyala Aldrick menatap pintu kamar Sefia di lantai dua. Melangkah lebar menaiki tangga. Kakinya yang jenjang membuatnya lebih mudah melewati dua anak tangga sekaligus.
"Pasti masih tidur" gumam gumam sendiri.
mencoba membuka handle pintu yang ternyata tidak di kunci. Benar dugaannya,Sefia bergelung dengan selimut di ranjangnya. Hanya rambutnya yang terlihat. Aldrick berjalan ke arah jendela. Menarik gorden yang masih tertutup,membuka jendela kamar Sefia, agar udara di dalam kamar Sefia berganti dengan udara pagi yang segar. Dia berjalan mendekati ranjang sefia,mematikan lampu tidur yang ada di atas nakas dan juga mematikan AC. Namun Sefia tak berging sedikitpun.,dia bahkan tak merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Aldrick.
"Sef, bangun Sefia. Turun yuk! kita cari udara segar."
mengguncang pelan tubuh Sefia yang berada di bawah selimut.
Hanya gumaman yang keluar dari bibir Sefia. Aldrik mengulurkan tangannya menepuk pelan pipi Sefia. Dia terhenyak mendapati tubuh Sefia yang begitu panas. Aldrick kembali memastikan.Kali ini dia menyentuh kening Sefia.
"Wahh.. panas sekali!"
Aldrick segera keluar menuju dapur Sefia. Mencari air hangat untuk mengompres Sefia. Dia mencari obat penurun demam yang siapa tahu ada di kotak obat. Sedikit mendengus karena tak ada obat apapun di dalamnya. Bahkan kotak itu kosong.
Aldrik kembali ke kamar berniat nengompres Sefia. Dia merogoh ponsel di saku celana yang di pakainya. Menghubungi seorang dokter kepercayaan keluarganya. Setelah memberi tahu alamatnya dia memutuskan sambungan telfonnya.
Sefia mengerjapkan matanya, terbangun.
"Mas.. "
"Tetaplah di sana. Sebentar lagi akan ada dokter yang datang ke sini memeriksamu.
"Aku hanya butuh istirahat"
Aldrick tak menghiraukan ucapan Sefia. Dia kembali memeriksa kain yang tadi ditempelkannya di kening Sefia. Kembali membasahi kain itu dengan air yang ia bawa dari dapur tadi.
Keduanya dikejutkan dengan dering ponsel Sefia. Sefia yang akan bangun segera ditahan Aldrick.
"Biar aku aja"
__ADS_1
Menunjukkan layar pada Sefia,agar terlihat siapa yang menghubunginya
"Sena. " Sena merasa seperti ada yang mengganjal di hatinya. Merasa gelisah, jadi dia menghubungi Sefia lagi.
Aldrick mengangkat tefon dari Sena. Sefia memintanya menghidupkan loudspeakernya.
"Assalamu'alaikum mbak"
"Wa'alaikumsalam"
Sena berjingkat,kaget kenapa suaranya laki-laki.
Dia menjauhkan ponselnya,memastikan nama yang dihubunginya. Tapi tak ada yang salah, itu memang benar nomer kakaknya.
"Halo Sena" Aldrick kembali bersuara, karena Sena tak juga bersuara di sebrang sana.
"Eh,, ini mas Aldrick ya? "
"iya"
"Mbak Sefia mana mas?"
Aldrick menaikkan alisnya,melihat Sefia.
Sefia menaruh telunjuknya di bibir. Meminta Aldrick untuk mencari alasan pada Sena. Karena tak ingin Sena khawatir jika mendengar suaranya.
"Oh.. Sefia ya, dia sedang ke kamar mandi. Aku mau mengajaknya olah raga."
" Waahh.. bener mas. Biar mbak Sefia bangun. Tau tu orang gak pernah olah raga gitu." Sena berhaha hihi seperti setuju dengan rencana Aldrick.
"Ya udah mas kalau githu. Nanti sampaikan aja ya sama mbak Sefia. Aku mau berangkat dulu"
"Iya Sena" jawab Aldrick.
Setelah menutup panggilan Aldrick melihat Sefia yang mengusap air matanya. Aldrick segera merengkuh lembut tubuh Sefia. Mendekap dan membelai lembut rambut Sefia.
Hingga terdengar bel berbunyi. Dokter yang tadi di hubungi Aldrick sudah datang.
"Wahhh.. siapa nih bro? "Menaikkan alisnya.,meminta jawaban Aldrick.
"Diem lo!" bentak Aldrick.
Ya,dokter kepercayaan keluarga Aldrick,adalah sahabat Aldrick. Dia bernama Doni,mereka berteman sejak kecil. Sehingga sudah sangat begitu akrab.
Doni meminta penjelasan Aldrick. Dia heran Aldrick yang biasanya terkesan dingin pada wanita, kini justru negitu khawatir pada Sefia.
"Udah deh sana, cepat periksa aja"
Walau penasaran Doni tetap memeriksa Sefia. Melirik pada Aldrick seolah berkata" kau punya hutang penjelasan padaku" begitu yang tertangkap pandangan Aldrick.
Aldrick hanya mengangkat bahu menanggapinya.
Setelah melakukan pemeriksaan keduanya keluar dari kamar Sefia.
"Bagaimana keadaannya?
__ADS_1