Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Bunda Rindu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali sudah ada keributan di kediaman Wijaya. Dari tadi malam bunda sudah berbicara pada Sang suami, Pandu Wijaya untuk ikut ke kantor. Dia bilang sudah berhari-hari bahkan beberapa minggu tidak bertemu Aldrick, jadi pagi ini dia berencana Ikut ke kantor.


"Apakah tidak lebih baik Aldrik saja yang datang kesini? " Tanya sang suami pada bunda Helsa.


"No..! Kalau nunggu anak itu datang.Bisa-bisa karatan nanti." jawab kocak bunda, namun juga terselip rasa sebal. Karena Aldrick sepertinya tak pernah berniat mengunjunginya.Walau setiap hari Aldrick selalu menghubunginya.


Ayah hanya bisa menghela nafas, karena apapun yang sudah menjadi keinginan istrinya.Maka ia tak akan berani untuk menolaknya.


Dari pagi bunda sudah sibuk,membantu di dapur.Dia ingin menyiapkan sendiri sarapan dan bekal yang akan di bawanya untuk Aldrick. Dia bahkan memasak sendiri dan hanya meminta para pelayan untuk menyiapkan bahan -bahan yang akan dimasaknya.


Kegiatan masaknya akhirnya selesai.Bunda mengisi kotak bekal yang sudah di siapkan oLeh pelayan. Setelahnya bunda menaiki tangga menuju ke kamarmya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ikut ayah.


Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat keantusiasan bunda yang akan ikut dengannya. Karena dari pagi buta Bunda sudah di sibukkan dengan kegiatannya di dapur.


Sambil menunggu bunda yang sedang mandi untuk sarapan bersama. Ayah turun dulu ke lantai bawah. Duduk di sofa yang ada di ruang keluarganya. Di meja ada koran baru terbit yang baru di antar pagi ini.


Terdengar suara sepatu saat bunda menuruni tangga. Ayah mendongakkan kepala, terpesona melihat bunda yang masih tetap anggun dan cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Saat bunda sudah di lantai bawah, ayah segera berdiri. Melipat koran dan kembali menaruhnya di meja. Dia berjalan menghampiri bunda.


"Cantik" Sedikit menundukkan badannya,berbisik pada bunda dengan mengedipkan sebelah matanya.


"ish.." Walau mencibir kelakuan ayah,namun bunda tetap tersipu.Terlihat dari wajahnya yang memerah.


Walaupun sudah tidak muda lagi.Namun hubungan keduanya tetap begitu saling mengasihi,cinta ayah seolah terus bertambah setiap harinya. Sudah tidak asing lagi bagi rekan kerjanya bagaimana dengan hubungan keluarga Wijaya ini. Keluarga yang begitu hangat, dan harmonis.


"Sudah.. sudah.. Kita sarapan dulu,berhenti menggombal." Kembali mencibir.


Nesa yang memperhatikan keduanya saat menuruni tangga hanya terkikik geli, melihat kebucinan ayahnya.


Mereka bersama-sama menuju meja makam. Bunda mengambilkan nasi, juga beberapa lauk untuk ayah. Nesa yang juga sudah mengisi piringnya segera melahapnya. Terlihat bunda juga menambahkan beberapa lauk ke piring Nesa.


"Makanlah ini"

__ADS_1


"Bunda, ini sudah terlalu banyak" Walau menggerutu dengan kelakuan bunda,namun Nesa tetap menghabiskan semua yang ada di piringnya.


"Bunda, apakah aku bisa membawa makanan ini untuk bekal?Masakan bunda memang de best." Mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah bunda.


"Tentu saja sayang,biar bibi yang menyiapkan bekalmu" Tersenyum sambil menoleh ke arah Nesa. Memanggil bibi untuk menyiapkan apa yang Nesa mau.


Walaupun terlahir dari keluarga kaya,namun Nesa tetap bersikap rendah hati.Keluarga itu selalu mengajarkan anaknya untuk bersikap sama ketika berteman. Tak pernah membeda-bedakan dari mana dia berasal. Yang terpenting kebaikan dan ketulusan hati.


Nesa bahkan tidak malu menenteng kotak bekal saat berangkat ke sekolah. Karena menurutnya, masakan dirumah jauh lebih sehat dari pada jajan di luar. Begitulah cara bunda dan ayah mendidik putra putrinya.


Selesai sarapan pagi Sena segera berpamitan untuk pergi ke sekolah dengan diantar supir pribadinya


Ayah dan bunda pun juga segera berangkat ke kantor.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampaimya di kantor, bunda berniat langsung keruangan Aldrick dengan membawa bekal yang sudah di siapkannya. Ayah mencium kening bunda saat lift yang membawa mereka sampai di lantai di mana ruangan Aldrick. Reno juga para sekertaris berdiri dan menganggukkan kepala,saat tau siapa yang datang.


Bunda pun tersenyum pada mereka.


"Belum nyonya" mengekor di belakang bunda Hesla dan segera membukakan pintu ruangan Aldrick untuk bunda masuk.


"Baiklah,aku akan menunggunya di sini. Kau sebaiknya lanjutlan saja pekerjaanmu"


"Baik nyonya" Setelah menganggukkan kepala Reno berbalik meninggalkan bunda Helsa di ruangan itu. Tak lama kemudian seorang sekertaris masuk membawakan minuman untuk bunda.


"Silahkan di minum nyonya"


"Trima kasih"


Sebelum berbalik sekertaris itu menundukkan kepalanya.


Hampir setengah jam lamanya bunda menunggu.Hinga yang ditunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


"Bunda" Sapa Aldrick setelah membuka pintu dan melihat orang yang ada di ruangannya.


Aldrick segera menghampiri bunda. Maraih tangan bunda dan menciumnya dengan takdim.


"Bunda apa kabar? " Tanya Aldrick.


Bukannya menjawab pertanyaah Aldrick justru sebuah capitan pedas mampir di pinggang Aldrick.


"Sakit bunda" Rengek Aldrick sambil mengusap bekas capitan bunda.


"Biarin..Memang kalau bunda nggak minta kamu untuk pulang,kamu nggak akan pulang sendiri gitu.Kamu nggak kangen bunda atau Nesa." mengomel panjang lebar dengan Memukulkan bantal sofa pada Aldrick. Aldrick hanya mengangkat kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya dari pukulan bunda.


"Ampun bun.. Ampun" menyatukan telapak tangannya ke depan dada. Memohon agar bunda menghentikan pukulannya. Untung saja hanya mereka berdua yang ada di sana. Entah bagaimana jika ada pegawainya tau dia dipukuli dengan bantal oleh bundanya. Tentu saja akan menurunkan imagenya yang di bangunnya sebagai atasan yang tegas dan dingin.


Sekelebat sudut mata Aldrick menangkap sesuatu yang tergeletak di meja . Dia segera memalingkan tubuhnya menghadap barang itu.


Ya.. Di meja ada kotak bekal yang pasti bundabawakan untuknya.


Dengan mata berbinar dia bertanya. "Bunda membawakanku sarapan,pasti masakan bunda? " Dengan antusias segera membuka kotak bekal tersebut. Dia kadang juga rindu masakan bunda.


Aldrick segera berdiri,berjalan menghampiri meja kerjanya. Menghubungi seseorang. Setelah itu kembali duduk di dekat bunda.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan Aldrick di ketuk dari luar.Reno muncul dari balik pintu mengantarkan seorang OB yang datang membawa peralatan makan dan juga secangkir kopi untuk Aldrick


Setelah reno dan OB itu keluar,Aldrick segera meraih piring yang dibawa OB tadi.Mengisinya dengan makanan yang di bawa bunda. Dengan lahap dia makan sesekali melirik bunda yang geli karena melihatnya makan dengan piring yang begitu penuh.


drrt.. drtt..


Sebuah pesan masuk di ponsel Aldrick yang ada di atas meja saat Aldrick baru selesai makan. Melirik siapa pengirimnya. Saat tau Sefia yang mengiriminya pesan,dengan bergegas Aldrick meraih ponselnya.


"Makasih sarapannya☺.Seharusnya mas nggak perlu repot-repot memesankan aku sarapan. Aku juga bisa kalau hanya pesan.Aku udah kayak orang yang sakit parah aja nggak boleh ngapa-ngapain"


Aldrick yang membaca pesan dari Sefia tertawa terbahak-bahak.Sebelum berangkat tadi Aldrick sempat memesan menu sarapan sehat di sebuah reatoran ternama untuk diantar ke apartemen Sefia.

__ADS_1


Bunda yang heran mengerutkan keningnya, melihat Aldrick tertawa timbul rasa penasaran.Siapa yang mengirim pesan pada anak sulungnya itu. Sampai membuat Aldrick yang bahkan untuk tersenyumpun begitu mahal tapi kini justru tertawa terbahak-bahak hanya dengan membaca pesan.


"Pesan dari siapa Al? " Tanya bunda.


__ADS_2