Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Rindu


__ADS_3

Malam yang masih sama.


Kedua insan yang saling berkabar hanya untuk mengurangi sedikit rasa rindu dihati. Namun sepertinya rasa rindu itu hanya dirasakan oleh Aldrick.


Tidak dengan Sefia yang hanya menganggap Aldrick sebagai teman yang baik.


Aldrick sudah seperti orang bucin saja. Beberapa menit tidak mendapat kabar dari Sefia sudah membuatnya gelisah. Bahkan ingin selalu melihat wajah Sefia. Yang kadang terobati ketika mereka melakukan panggilan melalui vidio di setiap malam.


Aldrick menyimpan fotonya yang di ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Sefia.Walau tanpa make up pun Sefia tetap cantik.


"Kapan kamu kembali ke kota? " Setelah wajah sefia muncul di layarnya.


Mengangkat bahunya menjawab pertanyaan Aldrick. "Entahlah!Aku belum tega untuk meninggalkan Sena disini sendiri."


"Akhir pekan ini aku akan menyusulmu kesana"


"Eh.. eh... Kenapa tiba-tiba."


"Sudah menjadi keputusanku."


Aldrick memang keras kepala. Apa yang menjadi keinginannya akan di lakukannya.


Sefia yang akhirnya terlelap dengan panggilan yang masih tersambung antara keduanya. Aldrick memintanya untuk tdak mematikannya.


Aldrick memandangi wajah Sefia yang sudah terlelap. Bayangannya ketika bibirnya mencium bibir Sefia terlintas.


Ketika pandangannya peralih lagi pada layar hpnya,Aldrick menelan ludahnya dengan kasar.Melihat pemandangan di sebrang sana yang begitu menggoda.


Sefia yang malam ini yang hanya mengenakan daster,tanpa sengaja tersingkap ketika dia tanpa sadar menggeser posisinya hingga memperlihatkan bagian atasnya yang begitu indah.


Tanpa sadar Aldrick membayangkan hal lebih bersama Sefia. Sampai-sampai tubuh bagian bawahnya sudah menegang. Bergegas dia mematikan Telfonnya.


Dia segera menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang sudah di ubun-ubun. Karna dia tak mungkin bisa tidur jika tetap mendiamkan tanpa menyelesaikannya.


"Sialan, ada apa dengan tubuhku. Bahkan dengan memandangnya saja sudah membuat junior ku bereaksi." Umpatnya. Padahal sudah banyak gadis yang dengan suka rela akan memberikan tubuh mereka pada Aldrick. Bahkan terang-terangan ada yang pernah menggodanya sampai membuka pakaiannya. Namun bukannya jadi bernafsu justru Aldrick malah mendorongnya karena merasa jijik.


Sungguh berbeda dengan Sefia. Dia justru menginginkan Sefia.


Esok Hari.


Aldrick yang akan menutup pintu apartemennya saat akan berangkan ke kantor terkejut.Melihat gadis yang akan masuk ke unit di sebrang apartemennya.


"Sefia" .Gumamnya.Sambil mengucek matanya memastikan apa yang dilihatnya benar.

__ADS_1


Dia segera mengikuti gadis itu masuk ke apartemennya.Buru-buru mendorong pintu yang belum tertutup rapat.


"Sefia"


Gadis didepannya segera menolah karena juga terkejut dengan suara yang baru di dengarnya.


"Eehh.. Kenapa mas Aldrick bisa masuk ke sini" bukannya sebuah jawaban yang keluar dari bibir mungilnya. Namun sebuah pertanyaan.


"Aku di belakangmu tadi,kok bisa sudah sampai sini? " Cecar Aldrick. "bukankan aku sudah bilang jika mau kembali,aku akan menjemputmu." berbicara dengan nada kesal.


"Ma'af mas. bukannya aku gak mau di jemput. Tapi karena mendadak aku jadi berangkat pagi-pagi. "Menundukkan kepala karena merasa tak enak pada Aldrik. Namun yang di lakukan ALdrick kemudian sungguh membuatnya terkejut. Aldrick dengan cepat menariknya masuk kedalam pelukannya. Meletakkan dagunya di kepala Sefia,menghirup dalam-dalam aroma shampo yang masih menguar dari rambut Sefia.


"Mas! "


"Tetaplah seperti ini sebentar saja"


Setelah sarapan bersama akhirnya Aldrick keluar juga dari apartemen Sefia. Tadi sebelum menuju ke apartemennya Sefia sempat membeli sarapan di restoran yang ada di lantai bawah.


Sefia sempat melongo ketika saat Aldrick menarik tengkuknya dan mencium bibirnya dengan begitu lembut. Bahkan mengusap bibir mungil yang memerah karena ciumannya dengan ibu jarinya. Sebelum berangkat ke kantornya.


"Dasar pria" gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Aldrick berlalu keluar.


...****************...


Ya, malam ini dia akan mulai bekerja. Menjajakan tubuhnya pada para lelaki hidung belang yang memberinya uang untuk menikmati tubuhnya.


Menjelang siang Sefia bersiap-siap menuju tempat mami. Dia sengaja berangkat siang,karena ingin melakukan perawatan dulu di sana sebelum bertemu kliennya.


Sudah beberapa minggu dia tidak masuk kesana. Masih ada beberapa mata yang menatapnya sinis. Mereka yang selalu iri kepadanya. Namun dia selalu mengacuhkannya. Akhirnya setelah beberapa perawatan pada tubuh, wajah, bahkan area intinya selesai.


Menjelang malam Sefia keluar dati tempat mami. Memacu mobilnya menuju sebuah hotel yang sudah di booking. Berjalan dengan anggun dengan memakai pakaian yang begitu seksi melekat sempurna ditubuhnya.


Mengetuk pelan pada pintu bertuliskan nomer yang sama dengan yang sudah di imfokan mami tadi.Pintu segera terbuka menampakkan sosok pria yang sudah berusia.


"Masuklah" Segera meraih pinggang Sefia yang baru melangkahkan kakinya memasuki kamar hotel itu.


"Ahh ternyata om Bram sudah tidak sabar ingin bertemu denganku."


"Aku sudah menahannya begitu lama sayang" mengangkat dagu Sefia dan mendaratkan ciumannya di sana. Sedikit ********** kemudian melepasnya lagi.


"Kau mau minum dulu? " bertanya sambil mengangsurkan segelas wine yang sudah dipesannya.


"Boleh" mengulurkan tangan menerima gelas yang diberikan kepadanya. Kemudian sedikit menyesapnya.

__ADS_1


Bram mengulurkan tangan pada Sefia. Menarik pelan agar duduk di pangkuannya. Sedikit berbasa-basi karena sudah beberapa minggu tidak bertemu.


Mereka mengobrol dengan posisi yang masih sama,dengan Sefia di atas pangkuannya.


Tangan Bram pun tidak tinggal diam. Ia menggerayangi setiap bagian yang ada pada Sefia. Memberi kecupan-kecupan ringan pada Sefia dan sedikit gigitan kecil di sana.


Tubuh keduanya yang sudah memanas karena rangsangan-rangsangan kecil juga karena wine yang mereka minum.


Hingga tanpa sadar sudah tidak ada sehelai benamgpun yang masih menempel


Bram dengan buas menikmati pemandangan indah di depan matanya.


Melakukan hal yang melenakan.Melambungkan Sefia ke awan.


Wangi karena perawatan sebelum berangkat tadi membuatnya lebih bersemangat menjelajahi Sefia. .


Tubuh Sefia menggelinjang.


Racauan dan ******* meluncur dari bibir mungilnya.


Rasa geli sekaligus nikmat.


"aaahhh..ommm"


"Jangan di tahan sayang, Menjerit-jeritlah".Seolah ******* Sefia justru menambah hasratnya.


Racauan Sefia justru membuat Bram lebih liar lagi. ,Bram tetap melanjutkan aktifitasnya.


Sampai tubuh itu bergetar hebat. Dia mendapatkan pelepasannya yang pertama.


Setelah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bram berbaring di samping Sefia. Dia meminta Sefia melakukan hal yang sama. Seperti yang dia lakukan pada Sefia.


Bram juga menginginkan Sefia melakukan hal yang sama


Memanjakan benda tumpul di bawah dengan mulutnya.


Hingga menjelang tengah malam.Keduanya masih terjaga. Menuntaskan hasrat,memberi kepuasan. Yang entah kapan berakhirnya.


Di malam yang sama.


Aldrick menunggu dengan gelisah. Dia bolak-balik keluar masuk apartemennya namun apa yang di nantinya tak kunjung datang. Dia menunggu Sefia. Namun yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidungnya hingga tengah malam.


Sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2