Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Pekerjaan Jessy


__ADS_3

Matahari sudah dengan gagahnya menampakkan diri. Dua orang dikamar hotel yang masih terlelap tanpa sehelai benangpun. Kedua tubuh itu sudah tidak memakai sehelai pakaian pun.


Ddrttt... drtttt. ddrrttt.


Jessy segera terbangun mendengar HPnya berbunyi. Dengan malas dia meraih Hpnya yang ada di atas nakas. Memicingkan mata menyesuaikan cahaya,karena dia yang baru bangun.


"Jess, jangan lupa dua jam lagi kamu akan ada pemotretan. Jangan sampai kamu datang terlambat" Cecar manager Jessy saat panggilan sudah tersambung.


Jessy mematikan sambungan telfonnya tanpa menjawab. Manager Jerry menggeram kesal, panggilan telfonnya dimatikan sepihak oleh Jessy.


"Sialan,Kalau bukan karena tubuhmu. Mana mungkin kamu bisa menjadi terkenal" celetuk sang manager.


Dia terpaksa bekerja dengan Jessy,walau perlakuan Jessy sangat buruk pada orang lain termasuk padanya. Karena Jessy yang merupakan model papan atas. Dan merupakan pundi-pundi uang baginya. Jessy juga sangat menyebalkan. Dia bekerja seenaknya sendiri. Bahkan sering kali marah-marah ketika di ingatkan. Bukannya sang asisten tidak tau,kalau Jessy begitu di benci oleh rekan-rekan kerjanya.


Dia akan ada pemotretan jam sepuluh nanti. Dia bergegas turun dari ranjang hotel itu untuk membersihkan diri. Karena tubuhnya lengket penuh dengan keringat sisa pertempurannya semalam.


Keluar dari kamar mandi,Jessy melihat pria yang menemaninya tadi malam masih bergelung dengan nyaman di bawah selimut.Sebelum keluar dari kamar hotel itu dia memoles bibirnya dengan Lipstik yang selalu ada di dalam tasnya.


Setelah bersiap-siap keluar dari sana. Jessy menghapiri ranjang. Menunduk di dekat wajah prianya. Memberi kecupan singkat di bibir pria itu.


"Kalau saja tidak ada pemotretan,aku pasti akan menemanimu sampai puas" ucap Jessy dengan berlalu pergi. Walau dia tau pria itu tak akan mendengarnya. Hanya gumaman dan sedikit menggeliat, pria itu bahkan masih tetap terlelap.


Pria yang tadi malam menemani Jessy,adalah teman satu profesi dengan Jessy. Keduanya sama-sama seorang model. Tak ada hubungan apapun antara keduanya. Mereka hanya sama-sama saling memuaskan.


Pria itu hanya membutuhkan tubuh Jessy untuk menyalurkan hasratnya,tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membayar seorang pelacur. Dia juga tau kalau Jessy juga sudah banyak berhubungan dengan para produser-produser untuk memudahkan pekerjaannya. Sehingga dia berani mendekati Jessy bermodalkan ketampanannya untuk mendapatkan kepuasan.


Juga Jessy yang dengan senang hati memberikan tubuhnya, karena pria itu begitu tampan. Dia juga termasuk model papan atas, sama seperti Jessy.


Jessy langsung megarahkan kemudi mobilnya ke lokasi dia akan melakukan pemotretan. Jika dia pulang ke apartemennya dulu, akan memakan waktu. Karena jalannya yang berlawanan dengan lokasi pemotretannya.


Lima belas menit kemudian Jessy sampai di lokasi yang dituju.


"Tumben ****** itu datang lebih awal." Bisikcbisik antara kru yang sedang menyiapkan properti untuk pemotretan.


Mereka heran,karena Jessy yang suka telat kini berangkat lebih awal dari waktu yang dijadwalkan. Biasanya para kru harus menunggu kedatangannya.

__ADS_1


Berjalan melenggang dengan angkuh,menerobos orang-orang yang hilir mudik sibuk pada pekerjaannya. Menuju ruang produser. Karena waktu pemotretan masih satu jam lagi.


Tanpa mengetuk pintu dia langsung membukanya.


"Pagi Sayang" Sapanya terlebih dahulu.


"Pagi sayang" Segera berdiri dari singgasananya, berjalan menghampiri Jessy.Melingkarkan tangannya di pinggang,menariknya untuk memberi kecupan di bibir


"Bukankah jadwalmu masih satu jam Lagi sayang? "


Hanya di jawab anggukan kepala.Pria itu sedikit menunduk untuk meraih bibir Jessy. Kedua bibir saling *******, menyesap dengan lidah mereka saling bertaut. Sedikit mengangkat dress yang dikenakan Jessy, mengusupkan tangannya ke dalam,menggeerayang di tubuh Jessy.


"Kita akan bermain cepat sayang"


Jessy yang pikirannya sudah diliputi hasrat hanya menurut saja. Tubuhnya seolah tak pernah lelah jika berurusan dengan ****. Padahal semalam pun dia sudah melakukannya.


Nafas keduanya sudah sama-sama memburu.Meminta dipuaskan berpacu dengan waktu.Tanpa menunggu lama tangan Jessy segera menurunkan resleting celana produsernya,mengeluarkan juniornya yang sudah tegak menantang.


Tangan produsernya juga tak mau tinggal diam segera menurunkan ****** ***** Jessy.Bergegas memasukkan juniorna yang sudah mengacung sempurna pada lubang surgawi di depannya.


Berkas-berkas yang sebelumnya tertata rapi kini menjadi berantakan.


Keduanya saling memompa dengan cepat. Memburu kenikmatan yang berpacu dengan waktu. ******* demi ******* saling bersahut-sahutan di dalam ruangan kedap suara itu.


Setelah keduanya mencapai kenikmatan dan membersihkan sisa-sisa pergulatan panas itu dengan tissu.Jessy segera merapikan pakaiannya yang berantakan juga terlihat kusut. Dan setelahnya segera keluar dari ruangan itu untuk memulai pekerjaannya. Pekerjaan dalam arti sesungguhnya, bukan pekerjaan sampingan.


Setiap mata memandang Jessy keluar dari ruangan produser. Mencibir kelakuan Jessy.Mereka tau scandal yang dilakukan Jessy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Diwaktu yang sama.


Aldrick dan Sefia bersantai di ruang tengah apartemen Aldrick.Beralaskan karpet bulu yang di gelar.Sepulang dari taman Aldrick mengajak Sefia ke unit apartementnya. Dia sudah memesan gofood untuk sarapan bersama.


"Mau nonton film" tawar Aldrick.

__ADS_1


Sefia hanya menganggukkan kepala.Dia pun bingung karena selama ini dia tak pernah tau tentang film-film. Dunianya hanya sebatas bekerja. Biasanya dia hanya bermalas-malasan,rebahan dan bermain gawainya.


"Pilih yang mana" Menunjukkan beberapa pilihan pada Sefia.


"Terserah mas saja,aku nggak terlalu ngerti film yang bagus yang mana."


"Horor mau nggak? " membayangkan jika nanti Sefia ketakutan ketika melihat fiLm horor.


Sefia hanya mengangguk. Dan akhirnya Aldrick pun memutas Film bergenre horor.


Namun hingga setengah jam berlalu,ternyata sefia tak sedikitpun takut. Tak terlihat ketegangan diwajahnya. dia merasa biasa saja.


Pupus sudah harapan ALdrick yang mengharapkan Sefia ketakutan dan mendekap tubuhnya untuk bersembunyi seperti yang di bayangkannya.


Sefia bahkan terlihat biasa saja.Menikmati film yang sedang diputar. Aldrick yang melirik dari ekor matanya hanya mendengus sebal.Melihat Sefia yang tak bergeming sedikitpun.


Hingga siang itu akhirnya dia tertidur karena merasa bosan. Dia pun sebenarnya juga tak begitu menikmati film yang sedang diputarnya.


"Eh, mas.. Yaa.. kok tidur sih" Mengguncang pelan tubuh yang berbaring terlelap di sebelahnya. Aldrick yang begitu lelap tak merespon sedikitpun.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dan sebentar lagi Sefia harus berangkat kerja. Dia Segera bangun berniat untuk pulang. Meninggalkan Aldrick yang tertidur pulas.


Pulang ke apartemennya, Sefia segera mandi.Begitu keluar dari kamar mandi dia segera membuka lemari pakaiannya. Menarik satu gaun seksi yang akan dipakainya.


Berkaca setelah memakainya,tersenyum saat mengingat kira-kira bagaimana reaksi Aldrick kalau tau dia memakai baju seksi seperti sekarang.


Terkikik geli ketika membayangkannya. Aldrick hanya mengumpat sepanjang mereka ditaman tadi.Ketika banyak pria yang menatapnya hanya karena memakai hot pantnya.


Dia segera berangkat setelah selesai memoles majahnya.Walau hanya riasan tipis namun sudah terlihat begitu cantik.


Aldrick terbangun saat dirasa tak ada orang di sampingnya.


"Pasti sefia pulang" pikirnya.


Dia berniat menyusul Sefia.Tapi sampai di sana. Apartemen Sefia sudah sepi, karena Sefia sudah berangkat.

__ADS_1


__ADS_2