Sang Dewi Malam

Sang Dewi Malam
Koma


__ADS_3

Sampai pagi ini,ibu masih tetap belum sadarkan diri. Menurut dokter dia mengalami benturan yang keras pada kepalanya.Tubuhnya yang tidak sehat, menambah keadaannya semakin buruk.Kedua kakak adik itu duduk di depan ruang ICU, menggenggam tangan satu sama lain saling menguatkan. Aldrick yang mendengar tentang bagaimana keadaan ibu Sefia,bergegas menemui dokter. Mengingat mereka ada di rumah sakit di daerah yang tentunya dengan fasilitas yang tidak memadai.


Dia bingung dengan dirinya sendiri.Ada perasaan asing yang mulai tumbuh dalam hatinya.Dia yang tidak pernah peka dengan orang lain.Melihat Sefia dalam keadaan terpuruk,hatinya juga ikut tercubit. Seperti ikut merasakan kesesihan yang Sefia rasakan.


Setelah memastikan keadaan Sefia dan Sena yang sudah mulai tenang.Aldrick rencananya akan kembali ke kota pagi ini. Karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan.


Dengan canggung dia meminta nomer HP Sefia. Dengan alasan,agar lebih mudah jika dia ingin tau bagaimana perkembangan ibu Sefia.


Dia berpamitan pada Sefia dan juga Sena.


"Maaf Sefia aku tidak bisa menemanimu di sini.Karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda"


"Kau tidak perlu merasa sungkan kak. Justru aku sangat berterima kasih pada kakak.Sudah mau repot-repot mengantarkanku sampai sini.Kalau tidak ada kakak tadi malam mungkin aku hanya bisa menunggu angkutan umum atau taksi.


Dalam hati Aldrick bersyukur bisa mengantarkan Sefia tadi malam.Karena akan sangat berbahaya bagi seorang gadis jika pergi sendirian apalagi malam hari.


Dalam perjalanan pulang. Dia juga tidak berhenti memikirkan Sefia. Bayangannya tentang betapa Sefia yang berusaha untuk tetap terlihat tegar dihadapan sang adik, padahal hatinya pun juga ingin menjerit menangis. Sefia yang diam-diam menangis di depan toilet wanita. Bagaimana tidak sedih,ketika dia berjuang dengan pekerjaan yang begitu tidak di inginkannya,demi kesembuhan orang yang paling dia hormati dan paling dia sayang. Justru terbaring lemah di salah satu kamar rumah sakit,berbaring tak berdaya.


Haparannya semoga ibu bisa segera sembuh seperti dulu lagi.Namun ibu yang dia perjuangkan seperti sudah kehilangan semangat untuk hidup semenjak kepergian suami sandaran hidupnya. Kesehatan tubuhnya semakin menurun dengan berat badan yang juga menurun. Walau sering kali Sena mengingatkan jika anak-anaknya masih membutuhkan kasih sayangnya juga memenani mereka hingga sukses nanti.


...****************...


Sefia dan Sena berjalan mencari kantin yang ada di rumah sakit.Dia memaksa yang awalnya menolak untuk di ajak sarapan.


"Bukankah kita juga butuh tenaga untuk menjaga ibu Sen.Kamu nggak kasian sama kakak,bagaimana kalau kamu juga ikut sakit,karna kamu tidak makan!" mengingatkan Sena."Ayolah kita akan segera kembali setelah sarapan selesai"

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati Sena beranjak meninggalkan tempat yang ia duduki dari tadi malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari sudah berlalu.Sefia sudah meminta izin pada mami beberapa hari untuk menjaga ibunya.Tidak ada perkembangan dari ibu. Beliau tetap tertidur seperti bayi tanpa mau membuka mata. Dokter menyuruh mereka untuk berbicara pada ibunya.Mencoba memberikan rangsangan,siapa tau ibu mau membuka mata. Namun seolah-olah ibu lebih nyaman dengan tidurnya.


Sefia meminta Sena untuk tetap masuk sekolah mengingat Sena yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian untuk kelulusannya.Juga Sena harus tetap belajar, demi bisa mendapatkan nilai yang baik untuk bisa masuk ke perguruan tinggi.Sefia yang akan menjaga ibu sendiri di pagi sampai sore hari. Dan Sena akan datang pada malam hari dengan membawakan apa yang dibutuhkan Sefia disana.


Aldrick juga sudah beberapa kali menghubunginya,menanyakan bagaimana kabar ibu.Sudah ada perkembangan atau belum?.Namun jawaban yang dia dapat tepat sama.Tak ada perkembangan dari ibu sama sekali bahkan keadaan ibu menurun akhir-akhir ini.Aldrick juga menghawatirkannya,bahkan sering menghubunginya agar tidak lupa makan dan tetap menjaga kesehatannya.


Sedikit perhatian kecilnya pada Sefia.


Masuk keruangan ibu dengan memakai pakaian steril yang sudah disediakan di sana.


"Buu,, bangunlah!. Apakah ibu tidak ingin melihat Sena sukses kelak.Apakah ibu tidak mau menemaninya untuk melanjutkan sekolahnya"Berbicara sendiri di samping tempat tidur sang ibu.Bercerita pada sang ibu, menceritakan bagaimana kehidupan mereka dulu sewaktu masih tinggal bersama. Dia mencoba berbicara pada ibu,berharap ibu mau membuka matanya.Namun ibu tetap diam,tidak memberi respon pada cerita Sefia. Tanpa Sefia sadari keluar bulir seperti kristal dari sudut mata ibu.


Sesampainya di apartement setelah pulang kerja.Malam ini Aldrik menghubungi Sefia.Bertanya lagi bagaimana kabar ibu Sefia.


Tut.. tut.. tut.


Pada dering ke tiga,akhirnya Sefia menjawab panggilannya.


"Halo! "


"Halo kak! "

__ADS_1


"Bagaimana dengan perkembangan kesehatan ibu kamu? "yang tidak sabar ingin tahu.


"emm,, ibu masih belum ada perkembangan kak. Dia seperti nyaman dengan tidurnya.Bahkan kesehatannya juga sempat menurun kak."menuturkannya pada Aldrick dengan menahan tangisnya yang hampir saja luruh.


Bla,, bla,, bla.


Sampai selarut ini, Aldrick yang mencoba memejamkan matanya.Namun tetap terjaga dengan pikirannya melayang memikirkan tentang Sefia dan keadaan ibunya.


Berfikir sebentar, dia pun segera turun dari ranjangnya. Dia bergegas keluar dari apartemennya. menuju tempatnya memarkirkan mobilnya.


Memacu mobilnya dengan cepat.Mengingat rumah sakit yang ada di kampung halaman Sefia yang peralatan medisnya tidak memadai.Aldrick berencana akan memindahkan ibunya Sefia ke rumah sakit yang ada di kota dengan fasilitas yang lebih memadai. Tentu saja setelah mendapat persetujuan dari Sefia. Tapi dia juga belum mengungkapkan maksudnya pada Sefia.


Dia sampai dirumah sakit dimana ibu Sefia dirawat menjelang tengah malam.Bergegas turun setelah menurunkan mobilnya.Menuju kamar rawat tempat di mana Sefia menunggu ibunya. Melihat Sefia yang duduk terkantuk-kantuk di depan kamar itu muncul rasa iba dalam hatinya.Seperti ikut merasakan apa yang di rasa gadis itu. .


Sefia terlihat bimbang dengan keinginan Aldrick.Di sisi lain dia memikirkan Sena yang akan berada dirumah sendiri.Tapi dia juga memikirkan ibunya yang akan mendapatkan perawatan yang lebih baik.


"Aku akan membicarakannya dengan Sena dulu kak" setelah Aldrick mengatakan maksud kedatangannya malam ini.


"Baiklah,,kalau bisa secepatnya lebih baik."


Besok pagi-pagi sekali dia berencana untuk pulang kerumahnya.Berniat memberitahukan rencana Aldrick yang akan membawa ibu berobat ke kota. Hari ini Sena juga tidak menyusulnya ke rumah sakit, karena banyaknya tugas dari sekolah yang harus dikerjakan.


"Sen, ada yang ingin kakak bicarakan padamu"dengan sedikit rasa bimbang berusaha mengatakannya.


"apa yang ingin kakak katakan."

__ADS_1


"tapi kakak sedikit bimbang,jika harus meninggalkanmu sendiri di rumah."ucapnya dengan sendu.


__ADS_2