SANG PEMILIK TUYUL

SANG PEMILIK TUYUL
Pesta yang berujung Tragis


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu.. Jaka setelah memimta ijin kepada kedua orang tuanya ia lantas datang seorang diri kerumah Ningsih. Oramg tua Jaka sangat senang atas niat anaknya ,ia pun memberikan 1kg emas yang ia kumpulkan dulu sewaktu ia masih sehat. Emas - emas itu ia simpan di bawah tempat tidurnya.


"Maafkan kami orang tuamu nak... Kami tidak bisa menemanimu dihari yang sangat membahagiakan buatmu. Bahkan kami juga tak sanggup merawatmu dulu sewaktu kamu masih keci. Sebenarnya kami ingin pulang kerumah nenekmu dengan membawa emas ini tapi saat itu kondisi ibumu ini sedang hamil adikmu. Sehingga tak memungkinkan kami untuk perjalanan yang jauh karena sangat beresiko... Tapi benar saja waktu ibu sedang hamil 5 bulan, ibu memaksakan diri ingin pulang bertemu kamu... Ibu sangat rindu nak... Tapi takdir berkata lain, di perjalanan yang baru sampai di depan desa ibu mengalami keguguran dan orang tua Ningsihlah yang menolong kami. Semenjak kejadian itu , ibu menjadi seperti sekarang ini. Bapakmu ingin memberitahukan kejadian ini pada nenekmu ,tapi ibu melarangnya karena usia nenek yang tak lagi muda ... Ibu tak mau menjadi beban dalam hidupnya. Sekarang kau sudah dewasa... Dan ini adalah hari yang membuat ibu sangat bahagia. Pergilah nak ... Lamarlah ia dan jadikan emas ini sebagai maharnya! "


"Terimakasih banyak bu... sesungguhnya bagiku kau adalah ibu yang sangat aku sayangi... Meski kecilku tak bersamamu tetapi nenek selalu menceritakan tentang kebaikan ibu dan bapak... Nenek pun tau... Kenapa ibu dan bapak tak mengunjunginya. Nenek tau ibu pasti memiliki alasan yang sangat jelas hingga sewaktu nenek sakit ibupun tak datang. Di hari menjelang nenek meninggal ia menyuruhku untuk segera menemui ibu dan bapak setelah ia pergi. Dan aku pun kesini melihat kondisi ibu yang seperti ini... Aku membenarkan ucapan nenek. Kini aku sudah besar... Dan aku akan selalu merawat ibu dan bapak... Dihari yang spesialku,restu ibu dan bapak itu sudah cukup. Aku tak meminta apapun selain restumu. Tapi ibu memberiku emas ini... Aku tak sanggup berucap lagi.. Betapa senangnya aku... Sekali lagi jaka ucapkan terima kasih buat ibu dan bapak.. Jaka pamit ya bu... ?"


"iya nak berhati- hatilah di jalan. Semoga lamaranmu lancar. "


Jaka lantas berjalan kerumah Ningsih... Tak ada acara apapun disana ... sesampainya dirumah Ningsih dia disambut oleh ayah Ningsih... Ningsih langsung membawakan teh hangat serta makanan untuk ayahnya dan Jaka... Ibu Ningsih pun duduk di samping suaminya.


Lamaran itu sangat sederhana.... Akhirnya diputuskan bahwa acara pesta kawin itu akan diadakan 2 minggu lagi. Jaka lantas memberikan emas - emas tadi pada orang tua Ningsih.


Acara akan diadakan sangat mewah lantaran Ningsih adalah anak semata wayang. Jaka pun setuju... Karena ia menginginkan yang terbaik buat Ningsih...


Jaka pamit undur diri... dia memceritakan semuanya pada orang tuanya. Mereka lantas berpelukan dan terharu.


"Jaka anakku ,7 hari dari sekarang pergilah kamu kekota dan bawalah emas ini untuk membeli perlengkapanmu. Dan sekali lagi kami tidak bisa menemanimu." ucap ibu jaka pada anaknya sambil memberikan emas terakhir simpanannya.


"Terimakasih ibu.... Aku tak tau harus bilang apalagi hanya mampu berucap terimakasih. Dan aku akan melaksanakan perintahmu."


"Sekarang istirahatlah nak!"


"Baik bu.... Jaka permisi... Dan jika ada yang dibutuhkan bapak sama ibu panggillah Jaka... Maka Jaka akan segera datang. "


Keesokan harinya... Orang tua Ningsih segera mempersiapkan untuk acara... Pernikahan Ningsih... Kabarpun langsung cepat beredar... Orang tua ningsih menginginkan acara pernikahan anaknya sangat megah... Hingga satu kampung dapat merasakan betapa senangnya ia..

__ADS_1


Oramg tua Ningsih menyuruh orang agar mempersiapkan segalanya yang dibutuhkan untuk pesta anaknya. Ia juga membayar orang untuk membuat hidangan pesta.


Semuanya dikerjakan oleh orang suruhan orang tua Ningsih. Karena ia menyadari kalau dirinya sudah tak mampu lagi untuk mengurus semuanya.


7 hari berlalu... Ini adalah hari dimana Jaka harus pergi ke kota... Untuk membeli perlengkapan nya..


Ia juga membelikan kain serta baju yang bercorak sama untuk orang tuanya.


perjalanan dari desanya ke kota ditempuh selama 2 hari sesampainya di kota ia pun segera memilih dan membeli segala keperluannya. Tak lama Jaka di kota... Ia lantas bergegas pulang karena ia teringat akan orang tuanya dirumah.


Saat perjalanan pulang Jaka bertemu dengan seorang pemuda yang menggunakan sorban dikepalanya. Pemuda itu nampak berhenti di sebuah pertigaan jalan. Ia nampak ragu melangkahkan kakinya.


"Maaf mas ada yang bisa saya bantu...?" ucap jaka pada pemuda itu...


"Oooo kita berarti satu arah mas... Mari jalan bersama saya saja. ?"


"wah ... Kebetulan sekali kalau begitu. Nama saya Ahmad... Mas sendiri siapa nama nya?"


"Saya Jaka mas."


Saat diperjalanan mereka saling mengobrol panjang lebar. Akhirnya ia pun sampai di desa. Jaka lantas mengajaknya untuk bermalam dirumahnya... Ahmad merasa senang karena tugasnya untuk menyebarkan agama islam dimudahkan.


Ahmad juga menjelaskan tentang Islam pada Jaka. Jaka yang sedari kecil tak pernah memiliki agama... Ia lantas merasa tertarik. Selama di desa ,Ahmad menginap di rumah Jaka. Saat itu Jaka dan kedua orang tuanya sudah mengucapkan syahadat.


Ahmad juga menyarankan agar acara pernikahanya dilakukan secara islam ... Ia lantas menyetujui... Tetapi dia juga harus menanyakan dulu pada keluarga Ningsih... Satu hari sebelum pesta di gelar.. Jaka datang kerumah Ningsih dan memberitakan pada keluarga Ningsih bahwa acaranya akan digelar secara islam. Orang tua Ningsih pun menyetujuinya... Baginya ijab kabul bukanlah sesuatu yang rumit.

__ADS_1


Selama Ahmad disana dia belum mengajar kan semuanya tentang islam.. Pada Jaka... Lantaran pesta pernikahan yang sebentar lagi maka semua orang sibuk dan larut dalam persiapan pesta kawin Ningsih.


Hari pernikahan pun tiba... Acara digelar sangat mewah... Ningsih yang memakai kain dan hiasan bunga melati itupun menjadi sangat cantik...


Acara ijab kabul dimulai... Ini adalah acara pernikahan pertama kali yang menggunakan ijab kabul didesa mereka... Tamu undangan yang sebanyak 1000 orang pun datang... Acara dimulai dari pagi hingga tengah malam.


Orang tua Jaka pun datang dengan ditandu... mereka menyaksikan pernikahan anaknya. Semua larut dalam kebahagiaan.


Malam pertama yang begitu melelahkan hingga Jaka pun belum sempat menyentuh Ningsih.. Karena mereka sangat lelah... Mereka semua beristirahat dirumah Ningsih. Termasuk Ahmad dan kedua orang tua Jaka.


Paginya mereka bersama -sama membereskan sisa pesta. Saat hari menjelang sore 50 orang asing datang ke desa itu dengan bersenjatakan lengkap. Mereka membantai semua penduduk kampung, kemudian menjarahnya. Sesampainya dirumah ningsih mereka membantai habis keluarga ningsih dan jaka... Ahmad pun yang sedang sholat ditembak dari belakang. Mereka semua hanya menyisahkan Jaka dan Ningsih... Jaka yang sedang dalam posisi y tidak siap ia di hajar 10 orang... hingga Jaka tak sanggup lagi membela diri... tangan dan kakinya di ikat... Hingga ia hanya dapat menyaksikan pembantaian itu...


"Rasakan pembalasanku anak muda... Kau dulu yang telah membantai teman- temanku... 15 tahun yang lalu... Kini aku datang membuatmu merasakan apa yang kurasakan dulu ... Melihat orang terdekatmu mati... Aku berhasil meyakinkan orang asing itu agar mereka semua datang kesini... Aku sudah mengintaimu dari 2 minggu yang lalu.. Dan saat kau pergi ke kota aku pun kekota dan meyakinkan mereka semua... Termasuk orang asing itu. Agar mereka datang kesini tepat hari ini... Karena aku akan memberikan kado yang istimewa buatmu."


"Benar sekali ..... Sekali Jaka ... Asal kau tau.. akulah orang Tua yang dulu lamaranya ditolak oleh orang tua Ningsih. Aku harus menyaksikan anakku mati bunuh diri... Karena cintanya tak di sambut oleh Ningsih. Akulah orang yang menyembuhkan lelaki ini... Yang kau hajar sewaktu dihutan dulu. Sekarang kau dan Ningsih akan menikmati kepedihan kami... Hua haha ha ha.... Aku puasss... Sekarang."


Pimpinan orang asing yang memang diiming- imingi wanita cantik waktu ia di kota... Lantas ia pun mencari Ningsih...


Ningsih tak sanggup berucap lagi dia hanya mampu duduk terpaku... Menyaksikan orang tuanya meregang nyawa, dihadapanya ia tak sanggup lagi untuk menangis...


Sedangkan Jakka ia Juga tak mampu untuk membela diri apalagi melindungi orang- orang terkasihnya. Kaki tangannya di ikat mulutnya dibekap menggunakan kain. Jaka hanya bisa terdiam dan menyaksikan semuanya...


"Mr. Inilah Ningsih...."


Kecantikan Ningsih yang tiada bandinganya... Langsung membuat sang pemimpin menatapnya dengan tatapan yang penuh nafsu.

__ADS_1


__ADS_2