SANG PEMILIK TUYUL

SANG PEMILIK TUYUL
Takdir


__ADS_3

Belum genap setahun mereka tinggal di lembah. Ningsih telah melahirkan seorang putri yang cantik Berambut pirang berkulit putih dan berhidung mancung. Ningsih menatap secara seksama pada putri kecilnya, ia merasakan ada kejanggalan pada putrinya itu. Setelah ia merenung dan berpikir, ternyata putri kecilnya lebih mirip orang asing itu. Putri Ningsih lebih mirip pada Alex.


"Tidak mungkin !... Bagaimana jika nanti suamiku tau kalau bayi yang ku kandung bukanlah bayinya? Akankah dia menerimanya ? Dan Jaka pasti akan sangat terpukul." ucap Ningsih pada dirinya sendiri.


Jaka yang masih di rumah Jumirin mengetahui kenyataan bahwa Plenik sudah tak bernyawa lagi. Tak ada denyut nadi yang dirasakanya dan tubuhnya sudah kaku. Jaka kembali memeriksa perut Plenik ia mencoba mencari kehidupan didalamnya. Sayangnya sedikitpun tak ada tanda- tanda kehidupan disana.


"Maafkan aku Jumirin sepertinya aku tak dapat membantumu ?"


"Apa yang terjadi pada istriku Jaka?"


"Kita terlambat Jumirin , Plenik sudah pergi sebelum kita sampai di sini. Bayinya pun tak dapat ku selamatkan. Ia pergi bersama ibunya... Mereka sudah terbang ke langit Jumirin."


" Tidak mungkin....! Itu tidak mungkin Jaka ! Kau pasti membohongiku ! Katakan Jaka ! Istri dan anakku baik- baik saja kan! "


" Sabar... Jumirin... , relakan semuanya.... Kau harus kuat teman."


Sambil menangis dan memeluk istrinya air matanya tumpah begitu saja, Jumirin tak mampu membendung perasaanya."Tapi Jaka ..... hanya dia yang ku punya didunia ini. Aku tak tau harus bagaimana menghadapi hidup ini. "


Pria yang kuat dan memiliki jiwa kepemimpinan itu terduduk lesu disamping mayat istrinya . Dia terus saja merutuki dirinya lantaran tak mampu menjaga istrinya itu.


"Jaka tolong jelaskan padaku kenapa istri dan anakku bisa tak selamat? Aku ingin penjelasanmu? "


"Begini Jumirin, posisi anakmu sepertinya melintang dan istrimu sudah pecah ketuban sejak pagi. Jadi Anakmu sudah kekeringan dari tadi. Istrimu sudah tak mampu lagi. Kalau pun dia masih hidup akupun tak bisa menolongnya. Aku hanya bisa membantu persalinan normal. Selebihnya aku juga belum menguasai. Tapi yang saya tau, istrimu seharusnya cepat mendapat penanganan. Jika tabib yang handal maka ia mampu merubah posisi anakmu. Jika tidak kamu harus merelakan istrimu untuk dibelah perutnya dan menyelamatkan bayinya. Hanya itu yang saya tau. Tapi kau harus tau ilmuku tak sejauh itu!


Jadi apa rencanamu selanjutnya ?"


" Pantas dia sangat merasa kesakitan dari pagi tapi aku tak mampu berbuat banyak. Saat pagi tadi aku kerumahmu, tapi ku lihat posisimu pun sama denganku, dan aku pun kerumah Jaenah ,Wagirah dan Suyanti tapi mereka tak ada di rumah. Aku pun kembali dan mendapati istriku sudah lemah dan kesakitan aku langsung kerumahmu lagi meminta bamtuanmu. Tapi semuanya terlambat. Aku tak tau harus berbuat apa Jaka. "


"Sebaiknya kita segera menguburkanya?"


"Tapi Jaka kita tak ada yang membawa cangkul. Dan sepertinya aku tau harus membawanya kemana. "

__ADS_1


"Kau benar kita tak mungkin menguburkanya. Jadi kita akan membawanya kemana?"


"Kau harus membantuku Jaka mengangkat istriku dan membawanya ketebing di sebelah sana."


"Iya aku akan membantumu teman".


Mereka secara bersama- sama mengangkat mayat Plenik yang dalam posisi hamil. Mereka membawanya ke sebuah tebing. Dan meletakkan nya di sebuah batu yang besar dan datar. Mereka tak menguburkanya hanya meletakkan saja.


"SEMUA DARI ALAM KEMBALI KE ALAM , SANG PENGUASA ALAM TERIMALAH ISTRI DAN ANAKKU"


Itulah yang mereka ucapkan secara bersama- sama.


...----------------...


Kembali dirumah Ningsih. Ningsih yang ketakutan lantas ia pergi ke dapurnya dan mengambil arang. Arang itu dia gunakan sebagai pewarna rambutnya yang pirang. Ningsih merubah warna rambut anaknya sebelum suaminya pulang.


Ningsih berjalan sambil kesakitan. Ia duduk disamping anaknya. Ia terus berpikir bagaimana agar rambut anaknya tetap hitam. Arang memang sudah menhitamkan rambut anaknya, tapi arang hanya bersifat sementara.


Ningsih berfikir keras, akhirnya ia menemukan ide. Dari ilmu yang ia punya, ada beberapa tanaman yang mampu menghitamkan rambut. Pewarna alami,dia akan menyuruh Jaka untuk mencarikanya besok.


"Maaf sebelumnya kawan,tetapi hari sudah hampir malam. Aku harus segera pulang karena anak dan istriku sedang membutuhkanku"


"Pulanglah Jaka, aku ucapkan terima kasih banyak kau telah membantuku hari ini. Oh ya... ini tolong diterima! Ini semua adalah kain dan pakaian Plenik. Bawa lah ! Aku tau kau sangat membutuhkan ini semua nanti." ucap Jumirin sambil menyodorkan bungkusan yang cukup besar.


"Aku terima dan terima kasih banyak untuk semuanya."


"Iya sama- sama...."


Jaka akhirnya telah sampai dirumahnya. Ia langsung menemui istri dan anaknya yang ada di dalam kamar.


"Istriku terimalah ini, Jumirin memberikanya padaku."

__ADS_1


"Tapi mas bukanya ini pakainanya mbak Plenik? Kenapa dibawa kesini semua? Aku jadi merasa tak enak sama mbk. Plenik."


"Istriku ketahuilah Plenik dan anaknya tak selamat"


" Appa...' mas ! Mas serius dengan yang dikatakan bukan?"


"Iya Istriku mas serius dengan semunya .Bahkan kami pun membawa mayatnya ke atas sebuah bukit. Jadi semua pakaian dan kain milik Plenik diberikan padaku."


Sambil terisak "ini semua seperti mimpi buruk mas! Kita belum ada setahun disini dan temanku sudah pergi untuk selamanya."


" Tenangkan dirimu Ningsih! Sudah lah berhentilah menangis ,relakan semuanya, semua ini sudah menjadi nasibnya. Kasihani Putrimu ! nanti susu yang ia minum akan terasa Asin."


" Mas pergilah makan !"


"heum"


Jaka lantas mencium putri dan istrinya. Kemudian menuju dapur dan melahap nasi serta ikan bakar.


Selama di lembah ini mereka melakukan transaksi dengan cara barter yaitu saling tukar hasil bumi. Selama ini Jaka menanam padi dan sebagian sayuran ia tanam juga.


Terkadang orang pergi berburu untuk makan daging. Dan kadang orang tak langsung pulang jika hari itu dia belum mendapatkan yang mereka inginkan. Mereka rela menginap dihutan, pantang pulang dengan tangan kosong.


Terkadang mereka juga mencari madu. Dan menukarnya dengan beras. Jaka adalah orang yang ulet ia rajin dalam berkebun. Dia lebih banyak dirumah mengurusi tanaman nya. Walaupun begitu Jaka terkadang pergi berburu untuk melepas penat dan menghibur diri.


Dari keempat temanya hanya rumah Jaka yang lebih terlihat besar dan rapi. Jaka melakukan semua itu untuk menyenangkan istrinya Ningsih.


"Kau sudah makan istriku? Kalau belum aku akan menyuapimu."


"Sudah mas , tadi aku sudah makan . Mas anak kita akan ku beri nama WELAS ?"


" Kau berhak memberikan nama untuk anak kita, kaulah yang telah melahirkanya."

__ADS_1


" Iya mas terima kasih. Bayi ini sangat kasihan lahir ditengah hutan mas. "


"Iya Ningsih ... Tapi kita akan memberinya kasih sayang yang banyak untuk anak kita. Kita akan membesarkanya di lembah yang indah ini. "


__ADS_2