SANG PEMILIK TUYUL

SANG PEMILIK TUYUL
Pembalasan yang Sempurna


__ADS_3

"Bi... Kau menyaksikan dan mendengar semua cerita mereka, itulah yang mereka lakukan pada desa Ningsih tadi siang. Bi... Salah kah aku melakukan ini pada mereka sekarang?" tanyaku pada pembantuku.


"Mr.... Kau sungguh orang baik, bahkan penduduk pribumi sendiri tak sebaik anda Mr. Aku sangat merinding mendengar cerita mereka Mr." jawab pembantuku dengan suara tergugu dan air mata yang deras mengalir dipipinya...


Melihat pembantuku menangis tak terasa mataku juga mengembun. Lantas aku menyuruh pembantuku untuk memanggil suaminya. Ya... Suaminya bekerja padaku. Dia adalah penjaga kudaku.


"Siap Mr.... Ada yang dapat saya bantu?"


" Cepat kau kubur mayat - mayat ini bersama istrimu. Dan ambillah emas yang ada pada kantong mereka. Dan satu lagi, Bawa ketiga mayat yang ada pada ruang tamuku kuburkanlah terlebih dahulu!"


"Baik Mr. Perintah anda segera hamba laksanakan. "


Aku lelah dan membaringkan tubuh ini pada kasurku yang empuk. Denganata yang terpejam aku membayangkan Ningsih dan Katrin secara bersamaan . Kalau Ningsih esok hari aku akan ke desa itu untuk membawanya. Dan bertanggung jawab.


Hanya membayangkan Ningsih saja aku bisa tersenyum sendiri. Tapi senyumku langsung menguap ketika katrin tiba- tiba menghampiri pikiranku. Dia pasti akan menanyakan keberadaan kakaknya.


Keesokan harinya aku keluar dari kamar dan aku berusaha tidak terjadi apa- apa. Katrin menghampiriku ketika aku sedang menikmati sarapanku. Sesuai dugaanku semalam katrin pasti akan mencari kakaknya.


Seketika aku memiliki ide agar aku bisa membuat nya tenang.


"Katrin sayang..... ? Kemarilah duduk bersamaku ! Kita nikmati sarapan pagi ini. Aku sangat lapar. " ucapku dengan lembut.


Benar saja dia langsung melupakan kakaknya. Dia menemaniku sarapan.


Dengan mata yang genit dan kaki nya yang tiba- tiba bermain dibawah meja.


Wanita ini memang sangat berani. Aku akan mengerjainya, aku tau yang dia mau dariku . Lantas aku menyambutnya dengan ledipan mata. Seolah menerima nya. Setelah sarapan pagi aku kembali ke kamarku sambil menggandeng tangannya.

__ADS_1


Dia langsung menutup pintu dan melepas bajunya hingga polos. Sebenarnya aku jijik padanya..


Akuemberikan minuman untuk menambah rangsangan pada permainan kami..


Aku berikan padanya tapi sebelumnya ku kulum bibirnya agar dia mau meminum dan agar dia tak curiga padaku.


Dia seperti kesetanan saat mendapat ciuman dariku.


Aku agak kualahan mendapat balasanya.


Aku mulai sesak napas dan sepertinya dia pun begitu. Akhirnya kami melepaskan ciuman. Dan bernafas dengan lega.


Langsung kusodorkan minuman itu dan ia langsung meminumnya hingga tandas. Tak bersisa sedikitpun.


Aku mengiringnya agar dia ter tidur di ranjang. Dan aku berdiri seolah akan melepas pakaianku . Kancing baju belum sempat terlepas semua. Dan dia sudah tidur dengan pulas.


Aku senang karena ini adalah rencanaku sedari dulu. Aku terlalu muak dengan Katrin. Aku kembali memanggil suami pembantuku untuk mengurusi mayat Katrin.


"Baik Mr."


Aku segera pergi menemui tokoh yang ada di kota ini. Kali ini aku tak mau melibatkan bangsaku. Aku sudah cukup muak dengan kejadian yang keji ini. Ya aku datang kenegri ini lantaran hasil bumi yang dapat ku jual di negriku. Aku datang kesini ingin membuat kerja sama pada pribumi ,tapi setelah sampai di sini kudapati bangsaku semakin tak tau diri. Mereka semua membodohi penduduk dan memperalat pribumi. Hingga pribumi menjadi takut dan segan terhadap kami.


Aku datang kerumah Kepala adat. Aku ceritakan semua kejadian yang menimpa kampung Ningsih.


Kepala adat sampai menitikkan air mata saat mendengar ceritaku. Karena dendam seseorang bisa memfitnah dan menghabisi sesama pribumi. Akhirnya kami memutuskan pergi ke kampung Ningsih dengan membawa warga.


Sesampainya di kampung Ningsih ku lihat raut kesedihan di mata mereka. Akhirnya Kepala Adat memerintahkan warganya untuk membuat lubang galian yang besar agar bisa menguburkan mereka semua sekaligus.

__ADS_1


Perintah itu segera mereka laksanakan. Mereka saling bantu dalam membuat galian dengan alat yang mereka bawa dari rumah.


Aku segera menuju kerumah Ningsih. Aku akan menepati janjiku padanya. Aku akan bertanggung jawab padanya.


Setibanya di rumah Ningsih aku lekas masuk dan mencari keberadaan wanita itu. Tapi sayangnya aku tak mendapatinya di mana pun. Pria itu juga sudah tak ada . Aku sangat menyesal lantaran kemarin aku tak langsung membawa nya . Ini kali pertama aku merasakan hati yang patah. Aku berjalan dengan lesu karena yang kuharapkan tak sesuai rencanaku.


kepala adat dan warga masih menguburkan semua mayat. Ada yang mengangkat kepala, ada juga yang mengangkat bayi, anak- anak dan bahkan bagian tubuh lainya yang terpisah. Pembantain ini memang sangat keji. Semua mayat di masukkan dalam lubang yang sama.


Kepala adat bertanya padaku.


"Mr. Sepertinya tak ada yang selamat. Bagaimana kalau kita mengambil harta mereka dan memanfaatkannya untuk kebaikan ? Dan kita bakar semua rumah warga. "


" Usulan yang bagus pak. Sebaiknya begitu,dari pada harta mereka jatuh pada orang yang salah dan serakah. Hewan peliharaan mereka kita lepaskan agar mereka bisa hidup di alam liar. Karena tak mungkin membawanya kekota dengan jarak tempuh yang lumayan ini. Rumah - rumah kita bakar dan kita kembalikan ke alam lagi. "


Lantas perintah itupun segera terlaksana. Kini kampung Ningsih hanya menjadi sebuah cerita saja . Kampung yang dulunya subur dan makmur kini menjadi rata dengan tanah.


Kemungkinan 5 sampai 10 th kemudian desa ini kembali menjadi hutan. Sapi, kambing dan hewan unggas mereka lepaskan dari kandang sebelum membakarnya. Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk segera kembali ke kota.


Dengan perasaan kecewa yang teramat karena aku tak dapat menemukan Ningsih. 7 hari setelah kejadian itu kepala adat menemuiku dirumah. Ia mengatakan akan memanfaatkan emas dan harta yang mereka peroleh dari desa Ningsih. Jumlahnya cukup lumayan 50kg emas dan sekarung uang koin.


Kepala adat ingin membamgun infrastruktur di kota. Dan mendirikan beberapa aula agar anak- anak dapat mengenyam pendidikan . Dia juga membangun tempat ibadah.


Aku sangat setuju, untuk mengusir bangsaku memang harus menggunakan otak yang cerdas.


"Jalankan saja apa yang menjadi rencana bapak. Aku sepenuhnya mendukung. Dan aku juga akan turut menyumbangkan rumahku untuk kota ini. Dua minggu lagi aku akan kembali ke negriku. Generasi penerus harus kuat dan cerdas pak agar negri bapak ini tak dimasuki orang- orang yang tamak yang ingin menguasai. "


"Baik Mr. ! Kau adalah orang asing yang sangat baik dan kau sangat berbeda dengan yang lainnya. "

__ADS_1


Kepala adat lantas pergi setelah pecakapan yang cukup lumayan . Aku segera mengatur kepulanganku. kebetulan akan ada kapal berlayar dua minggu lagi. Aku memanggil pembantuku dan suaminya. Aku mengatakn niatku. Lantaran mereka sudah cukup lama mengabdi padaku maka akupun memberi mereka bagian. Semua kuda yang kumiliki kuserahkan pada mereka dan 5 ha kebun kopi kuberikan padanya. Selebihnya rumah dan tanah yang kumiliki ku berikan pada kepala adat agar digunakan untuk kemajuan kota ini.


Tidak banyak hanya 100 ha saja tanah yang kumiliki. Sedangkan aku pulang membawa hasil bumi dan juga emas. Untuk memulai hal baru di negriku.


__ADS_2