
Semua sudah siap di rumah Ningsih.
"Bagaimana dengan mayat ibu sama Ayaah mas?"
" Sudahlah Ningsih relakan saja. Kita tak punya banyak waktu sekarang dan kita juga tak mungkin menguburkanya..."
" Iya Ningsih biarkan mereka semua kembali pada Sang Penguasa Alam dengan damai. Teman - teman semuanya marilah kita rapatkan barisan serta menunduk memohon kepada Sang Penguasa Alam. Supaya langkah kita dipermudah dan dilindung. Serta berdoa padaNya agar keluarga kita diampuni dan mereka diangkat menuju Nirwana yang Agung." ucap Jumirin
Untungnya masih ada sisa makanan pesta. Ningsih dan suaminya membawa semua bahan makanan yang sudah masak dan yang masih mentah.
"Baik semuanya kita harus meninggalkan desa ini sebelum malam semakin larut. Kita akan bermalam di tengah hutan. Jadi bawalah barang -barang yang sekiranya dapat berguna di dalam hutan. "
"Kami semua suxah siap Jumirin" ucap Jaka.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Jangan menunda -nunda waktu. Lebih cepat lebih baik."
Mereka semua akhirnya berangkat menuju hutan yang ada di belakang rumah Ningsih.
"Ayah maafkan Ningsih... ? Ningsih meninggalkanmu dan tak mengurus jenazahmu. Ningsih pamit dan semoga kita dapat berkumpul lagi. "ucap Ningsih sambil menoleh ke mayat ayahnya yang terbujur kaku di ruang tamu..
Ningsih pun segera berlalu berjalan meninggalkan kenangannya yang indah bersama orang tuanya. Ningsih berjalan beriringan bersama Jaka. Jaka berjalan tertatih sambil membawa barang- barang.
Ia mencoba menguatkan tubuhnya agar bisa melindungi istri tercintanya.
"Sayang kita harus kuat dan kita akan memulai hidup baru bersama!"
"hemmm"
Ucapan Jaka yang mencoba menghibur Ningsih. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat mencekam bagi mereka semua. Sehinģga mereka lebih memilih untuk meninggalkan tanah kelahiranya.
__ADS_1
Cukup lama mereka berjalan menerobos gelapnya malam di dalam hutan . Sinar rembulan yang terang menemani langkah mereka tapi tatkala mereka memasuki hutan yang rimbun sinar itu tak mampu menembusnya.
Untung saja mereka membawa api untuk penerangan. Dan api yang mereka bawa menghalau kedatangan hewan buas yang tinggal di hutan. Hewan- hewan itu seolah pergi meninggalkan rombongan Jumirin.
Jumirin melangkah paling depan bersama Plenik. Dibelakangnya ada wagirah dan suaminya terus di ikuti Jaenah dan suami . Lalu suyanti dan suami. Terakhir Ningsih dan Jaka..
Ningsih berada di urutan terakhir lantaran kaki Jaka yang sedukit sakit sehingga tak dapat berjalan dengan cepat.
Berangkat jam 8 malam meninggalkan kampung halamannya. Mereka berjalan tanpa istirahat. Saat mereka menemukan tempat yang cukup lapang mereka pun berhenti dan memutuskan untuk istirahat.
Mereka meletakkan barang bawaannya dan mereka bekerja sama. Jumirin yang memiliki sifat kepemimpinan mulai bersuara.
"Kita istirahat disini ! Dan kita lanjutkan esok hari ! Sepertinya tempat ini sudah lumayan jauh dari jangkauan desa kita. Kita akan membagi tugas agar cepat selesai dan kita dapat segera istirahat. Jaka sebaiknya kau dan istrimu memasang alas ini saja agar kita dapat beristirahat ! Sepertinya malam ini sangat cerah dan tak kan turun hujan . Cukup kita menggunakan alas saja kita akan beratapkan langit malam ini. Ketiga wanita tolong bantu istriku Plenik untuk menyiapkan makanan ! Sisanya ikut bersamaku mencari kayu bakar kita akan membuat api unggun !" ucap Jumirin .
Mereka pun langsung melakukan perintah Jumirin. Jaka dan Ningsih mengambil barang yang di bawa masing2 kepala keluarga jumlahnya ada 5 buah tikar untu lantas dipasang membentuk lingkaran dan ditengahnya terdapat api unggun.
"Baiklah.... "
Tugas yang diberikan Jumirin berjalan dengan cepat mereka menyelesaikanya. Ketika semua selesai mereka pun menyantap hidangan yang di siapkan. Lantas mereka istirahat sambil berpelukan dengan pasanganya masing- masing.
Saat Ningsih memeluk suaminya pikiranya langsung tertuju pada Alex. Ia seolah merasakan sentuhan Alex. Entah kenapa saat ia mengingat peristiwa tadi sore ia merasa terpaksa namun menikmatinya.
Dia juga mengingat bisikan Alex ditelinganya. Ucapanya masih teringat jelas di pikiran Ningsih.
Ada semburat kangen dan menginginkan lagi sentuhan Alex. Ningsih berusaha melupakan kejadian sore itu tapi semakin dia ingin melupakanya ingatanya malah semakin nyata.
Ningsih tak mampu menahan dirinya tiba - tiba saja tanganya memelintir buah dadanya. Ia menahan gekjolak itu, melihat lelaki yang dihadapanya tertidur. Ia tanpa ragu mengecup bibir suaminya.
Jaka mendapat sentuhan yang baru pertama kali langsung menerima dan membalas ciuman istrinya. Mereka sama- sama menikmati malam . Tapi saat mereka hendak melakukan lebih dari itu. Tiba- tiba Wagirah terbatuk- batuk seperti tersedak . Dan suara batuknya menyadarkan Ningsih dan Jaka. Mereka menghentikan kegiatanya lantas memejamkan mata dan tertidur.
__ADS_1
Sinar mentari yang terbit membangunkan mereka dari mimpi indah. Cukup banyak makanan yang di bawa Ningsih. Plenik menjatah makanan yang dibagikan . Setiap orang mendapat seporsi kecil makanan agar makanan yang dibawa Ningsih cukup untuk beberapa hari lagi.
Makanan yang di bawa Ningsih sejenis kue goreng, ketan yang berisi ayam dan dibungkus daun pisang yang besarnya sekepal tangan orang dewasa. Cukup untuk mengenyangkan. Dan telur rebus. Semuanya berjumlah 100.
Setelah menikmati makanan mereka . Mereka segera berkemas dan membawa lagi barang - barang mereka. Kemudian melanjutkan perjalanan melewati sebuah bukit. Sesampainya di atas bukit mereka bisa melihat kampung halamanya. Mereka semua termenung menatap desanya. Lantas seperti segerombolan semut yang mendekat ke kampungnya itu. Dan tak butuh waktu lama saat mereka masih menatap desanya.
Sebuah kepulan asap hitam yang besar keluar dari desa mereka.
"Kampung kita dibakar... "
" Iya .. Sekarang sudah benar- benar habis kenangan kita disana ."
"Kenangan saat kita sering bermain bersama dan menghabiskan waktu secara bersama - sama."
"Sudahlah relakan semua ! Mari kita lanjutkan perjalanan lagi ibu- ibu? Jangan terlalu lama meratapi karena waktu terus berlalu." ucapan Jumirin menyadarkan Plenik, Jaenah dan Ningsih saat menatap desa mereka sambil termenung.
"Benar itu ucapan Jumirin . Ayok lah kita harus berjalan lagi ! Masih ada bukit yang harus kita lewati di depan sana." ucap Jaka mensetujui ucapan Jumirin.
Mereka lantas melanjutkan perjalanan melewati anakan sungai. Tebing yang cukup ngeri pun ber hasil mereka lewati. Dan mereka berhenti lagi di sebuah lereng Gunung . Saat hendak menurunkan muatanya, tiba- tiba Jaka mendengar sesuatu.
"Tunggu jangan diturunkan dulu ! Aku mendengar sesuatu."
Dia berucap sambil menempelkan telinganya pada tanah.
" Ada serombongan babi hutan yang berjalan kearah sini. Sepertinya lebih dari 5 ekor dan mereka datang dari arah kanan. Sebaiknya kita berjalan lurus dan harus berjalan dengan cepat sebelum mereka semua menemukan kita. " ucap Jaka menganjurkan.
"Semuanya kita ikuti saran Jaka demi kebaikan semuanya !"
Mereka semua lantas terus berjalan dan melewari tebing saat di atas tebing. Mereka bisa melihat segerombolan babi hutan yang datang di area tadi.
__ADS_1