
Aku saat mendengar perkataan 2 orang pribumi yang tiba - tiba saja datang ke kediamanku. Mereka menyebutkan Ningsih adalah gadis desa yang cantik bahkan kecantikanya tiada bandinganya dengan wanita bangsaku.
Salah seorang dari mereka membandingkan kecantikan Ningsih dengan katrin yang sedang duduk di bawah pohon.
Katrin dia begitu menginginkanku. Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Tapi jujur aku sama sekali tak mempunyai perasaan apapun padanya. Hingga ia mengikutiku sampai negri ini.
Tapi aku tak bisa melarangnya untuk mengejarku dan mengikutiku. Katrin adalah adik dari temanku Bruno.
Ketika aku mengambilkan makanan kecil untuk 2 orang pribumi itu aku melewatkan percakapan mereka yang sepertinya begitu serius. Lantas aku menjadi penasaran dan menanyakan perihal itu pada mereka. Alhasil mereka hanya bercerita tentang gadis desa yang bernama Ningsih. Yang kecantikan nya belum ada yang menandingi.
Bruno berencana datang ke desa dan melihat kecantikan Ningsih esok hari. Lantaran ini masih wilayahku dia juga sempat meminta pengawal untuk menjaganya. Akupun mengijinkanya membawa anggotaku mengawal Bruno ke desa.
Tapi lantaran pekerjaanku yang harus aku selesaikan esok hari, jadi akupun memberikan perintah padanya agar berangkat lebih dulu. Dan aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai.
Lewat tengah hari aku baru keluar dari ruang kerjaku. Aku segera memanggil pengawal untuk menemaniku. Setelah kucari sambil q tinggikan suaraku tetap tak satupun ada yang datang menghampiriku.
Tiba- tiba pembantuku yang tergopoh- gopoh menghadapku dan memberitahukan perihal anggotaku semuanya pergi ke desa bersenjata lengkap bersama Bruno.
Aku langsung curiga dan segera ku ambil kuda kesayanganku. Aku tanpa berpikir panjang langsung pergi kedesa Ningsih. Tak kesulitan bagiku untuk datang ke desanya karena masih dalam wilayahku.
Perjalanan dari kota ke desa lumayan menguras waktu. Sesampainya di desa aku terlambat. Instingku dan firasatku terbayar. Semua rumah dalam kondisi berantakan ada yang sebagian terbakar...mataku terus memandang betapa bengisnya anak buahku. Mereka menghajar, membunuh, dan memperkosa sebagian perempuan lalu dibunuhnya. Itu terlihat dari beberapa wanita yang mati dalam kondisi telanjang. Bekas ****** ada ditubuh mayat itu.
Aku memang pimpinan mereka tapi saat ini Bruno lah yang mengambil alih kuasaku. Jadi aku tak bisa menghentikan aksi mereka begitu saja. Karena nyawaku taruhannya.
Aku terus melihat dan menyaksikan pembantaian ini. Anak - anak dan bayi pun menjadi korban. Mereka menyapu semua penduduk desa ini. Semoga saja aku masih bisa menyelamatkan seseorang dari desa ini biar hanya seorang saja. Aku terus memandang dan menatap mencari keberadaan Bruno.
Alhasil aku mendengar tawa dari seorang pribumi yang tidak asing di telingaku. Setelah aku coba mengingat ternyata suara itu milik seorang lelaki yang datang di rumah.
Aku mencari sumber suara itu dan kudapati di sebuah rumah yang cukup besar. Dan sepertinya rumah ini habis mengadakan pesta. Itu terlihat dari sisa- sisa pesta yang belum selesai di bersihkan.
Aku langsung menerobos masuk ke dalam rumah itu. Hal yang cukup mengerikan juga terjadi disini. Penghuninya tewas bersimbah darah ,tapi masih ada pria yang hidup kondisinya terikat dan mulutnya tersumpal kain. Pria itu seperti habis di masa. Dia didudukkan didepan kamar, matanya berlinang air mata. Dan tubuhnya tak mampu berbuat apa- apa.
"Woi... Alex kawanku" ucap Bruno yang mengetahui kedatanganku.
Aku menatapnya dengan perasaan marah dan teramat kecewa padanya. Dia menggunakan wewenangku dengan seenaknya.
Bruno berada di dwpan kamar. Aku segera menghampirinya dan ingin minta pertanggung jawabanya atas kejadian ini. Sesampainya di depa kamar itu. Aku melihat seorang gadis yang begitu cantik. Dia terduduk dilantai samping ranjangnya.
"Ini pasti Ningsih" batinku.
Aku menyuruh Bruno agar menghentikan ini semua dan melepaskan pemuda serta wanita itu. Tatapan Ningsih begitu kosong dia menatap seseorang yang cukup tua mati bersimbah darah di hadapanya.
Bruno tak menghentikan aksinya dia malah menghardik dan mengancamku balik. Selama berteman dengannya baru kali ini kami berseteru. Dan baru ini juga dia berani mengancamku.
Aku disuruhnya untuk menyetubuhi Ningsih. Aku langsung menolak dengan tegas. Tapi dia mengancamku, jika aku tak melakukanya maka ke 5 anggotanya akan melakukanya sekaligus. Aku sangat kasihan menyaksikannya. Tapi aku juga tak bisa membiarkan dia digosok 5 orang sekaligus.
__ADS_1
Aku adalah pria normal, saat mataku menatap gadis itu ada perasaan berseteru dalam dadaku. Jiwa lelakiku meronta. Aku sebelumnya tak pernah seperti ini, Bahkan ketika katrin menggoda dan merayuku dengan pakaian yang begitu tipis,hingga menampakkan semuanya di depan mataku. Aku masih bisa menahan perjakaku. Aku tak goyah dan sentuhan tangan katrin pun tak berpengaruh padaku.
Tapi lain halnya dengan Ningsih. Wajah yang ayu tiada tertandingi ,kulit yang putih mulus menambah kecantikanya. Jiwa dalam dadaku seolah ingin memilikinya.
Dan saat aku mendengar ancaman dari Bruno, aku lantas tak terima jika lelaki- lelaki bejat itu menggauli Ningsih. Dengan sangat terpaksa aku menuruti perkataan Bruno.
Aku mengankat Ningsih dan merebahkanya di atas ranjang. Jantungku terus berdegup kencang saat mengangkat tubuh rampingnya.
Aku melangkahkan kaki segera menutup pintu, tapi pintu itu langsung ditahan oleh tangan Bruno hingga pintu papan itu tak dapat tertutup.
Bruno mengetahui niatku untuk membohonginya. Akhirnya Bruno lagi - lagi memaksaku untuk segera melakukanya di hadapanya. Dan kalau aku sampai mengelabuinya dia tak segan menyuruh anak buahnya menggauli Ningsih bersamaan.
Akhirnya aku menyanggupi permintaan Bruno dengan syarat, ia harus melepaskan kedua orang ini dan segera meninggalkan desa. Bruno memenuhi permintaanku...
Aku segera melakukan penyatuan dengan Ningsih dengan disaksikan Bruno dan lelaki yang terikat .
Aku terkejut saat mengetahui Ningsih ternyata masih tersegel dan aku lah orang yang beruntung membuka segel itu. Walaupun ada perasaan bersalah terhadap Ningsih, tapi aku sungguh menikmati permainan ini. Ini adalah kali pertama aku menyerahkan perjakaku padannya. Dan begitu juga ia.
Tanpa pemanasan dan memang agak kesulitan dalam memulainya. Tapi aku berhasil menerobosnya. Aku melakukanya dengan sangat hati- hati agar tak melukainya.
Awalnya dia sempat menjerit mungkin karena segelnya terbuka. Jeritanya disambut tawa Bruno dan tangis dari lelaki itu.
Sekitar 10 menit penyatuan kami, dan akhirnya kami berada pada puncaknya. Suara yang kami tahan pun keluar begitu saja. Tubuhnya agak bergetar, dan aku menanam benih dirahimnya sebanyak 7x.
Setelah selesai aku kemudian membenarkan pakaianya. Kututupi ia dengan kain dan aku juga membisikkan di telinganya. Aku meminta maaf padanya, dan berjanji padanya bahwa aku akan bertanggung jawab. Aku akan membawanya esok hari. Ya... Aku sudah bertekat akan kemari lagi esok hari.
Kami pun meninggalkan desa, tawa yang lepas keluar dari mulut Bruno dan 2 orang pribumi yang datang ke rumahku kemarin.
Sudah larut malam kami sampai di rumahku. anggotaku menuju ke messnya, nampak kebingungan di raut wajah mereka melihat aku dan Bruno yang sempat berselisih dirumah Ningsih tadi.
Aku duduk bersama Bruno dan kedua pribumi. Aku menanyakan kepadanya alasan dia mengancamku tadi. Dan ia menjawab semua itu dia lakukan karena kasihan padaku.
Aku tak puas dengan jawaban Bruno. Akhirnya aku memerintahkan pembantuku untuk mengambilkan minuman yang memabukkan serta makanan ringan.
Aku mempersilahkan mereka untuk menghabiskanya. Ku tuangi terus gelas Bruno dan orang pribumi itu. Mereka semua mabuk karena terlalu banyak minum.
Aku kembali mengulang pertanyaanku dan ternyata jawabanya mengejutkanku. Bruno selama ini sakit hati terhadapku lantaran aku tak menerima cinta katrin. Bahkan Bruno juga mengetahui kalau katrin sempat menggodaku dan menyerahkan tubuhnya bamun aku tetap menolaknya.
Mendengar kalimatnya, aku sudah menganggap Brunu bukan sahabatku lagi. Dia adalah seorang munafik dan akan terus dendam padaku. Dan aku kembali menanyakan alasan ke 2 lelaki pribumi ini menghancurkan desa yang penduduknya adalah bribumi juga. Alasan keduanya lantaran sakit hati dan balas dendam.
Aku kembali kedalam dan mengambilkan minuman lagi dengan menambahkan bubuk didalamnya.
"Ayok minumlah! Kita akan pesta malam ini" ucapku sambil menuangkan minuman dalam gelas mereka.
Mereka tanpa ragu menghabiskan isi dalam gelas itu.
__ADS_1
"Alex aku sangat lelah dan sangat mengantuk " ucap Bruno sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
"Iya Bruno aku mengerti semuanya. maka itu aku memberikan kau satu minuman lagi agar kau bisa tertidur dengan nyaman dan tanpa gangguan. Tidurlah kawan mimpi indah dan jangan bangun kembali ! Ucapku sambil berbisik."
Kedua pribumi itu mengalami hal yang sama seperti Bruno. Lantas aku meninggalkan ke tiganya di ruang tamu.
Aku mendatangi anggotaku di tempat peristirahatanya. Mereka sedang menceritakan peristiwa tadi, ya.. lagi- lagi tak ada raut penyesalan dalam wajah mereka. aku berjalan mendekati mereka semua yang sedang asik terbahak.
"Kalian semua ikut aku!" perintahku pada mereka.
"Baik Mr." jawab mereka dengan serempak, semua langsung patuh begitu saja tak seperti di desa tadi.
Mereka mengikutiku berjalan di belakangku. Akupun membawa mereka ke lapangan yang ada di belakang rumahku.
Aku menceritakan bahwa aku sangat menikmati peristiwa tadi sama seperti mereka. Mereka senang dan menganggapku bagian dari mereka.
Akupun lantas mengajak mereka untuk bersenang- senang malam ini. Aku akan memberikan imbalan berupa minuman agar menambah kesenangan kami. Tapi aku memberi syarat agar masing- masing orang membuat lubang sedalam 1 meter.
Alasanku adalah agar mereka tak mengotori halamanku jika mabuk nanti. Lubang itu digunakan untuk membuang kotoran mereka jika mabuk.
Mereka semangat seketika, 1 orang yang berpawakan besar dan terkuat itu dapat menyelesaikan perintahku dalam waktu 10 menit. Aku langsung memujinya dan memerintahkan untuk membuat 3 lubang lagi. Tentu saja aku harus memberinya sekantong emas.
Ia mengikuti perintahku. Ketika semuanya selesai. Aku memanggil pembantuku yang setia. Seorang perempuan pribumi berusia 40 tahunan.
Aku menyuruhnya untuk memberikan minumanbitu pada mereka semua. Dan memberikan sekantong emas pada orang yang bertubuh besar.
Mereka tertawa bersama- sama. Aku berjalan kedalam rumah dengan alasan ingin mengambil minuman lagi...
Saat itulah aksiku ku lancarkan. Kuberi tambahan bubuk yang sama pada minuman mereka.
"Maaf ... Mr itu bubuk apa ?" ucap pembantuku.
" Ini agar mereka bisa tertidur dengan tenang. Mereka semua lelah bi..." jawabku
pembantuku pun memahami dan tak berani bertanya lagi.
Aku kembali kelapangan sambil mem awa minuman ditangan ku. Lantas aku duduk di tengah- tengah mereka.
Satu persatu aku panggil mereka, lantas aku pun ingin mereka menceritakan hal yang tadi di lakukan di desa.
Semuanya bercerita dan semuanya melakukan pembunuhan. Mereka semua mengakui kalau mereka juga memperkosa perempuan yang ada di desa itu. Kami semua bertepuk tangan jika seorang telah selesai bercerita.
Minuman yang kubawa tadi ku suruh pembantuku untuk membagikanya pada mereka semua.
"Ok aku akan buat permainan. siapa orang yang tercepat menghabiskan minumannya? maka ia akan mendapat 2 keping emas." ucapku yang disambut tepuk tangan mereka.
__ADS_1
Tak butuh waktu 5 menit mereka semua menghabiskanya. Dan tak kurang dari 1 menit mereka semua tergeletak.