
Setelah 2 minggu akupun lantas pergi meninggalkan negri ini dengan hati yang hancur. Aku telah jatuh cinta pada seorang wanita pribumi bernama Ningsih. Da aku pun juga telah menanamkan benihku padanya. Apa jadinya jika dia hamil ,sudah pasti itu adalah anakku. Aku adalah seorang ayah yang tak berguna.
Aku masih terus membayangkan kejadian yang singkat namun membekas sempurna di hatiku. Berbeda dengan katrin ia adalah perempuan yang gila. Dia rela menyerahkan tubuhnya bahkan untuk orang yang baru saja ia kenal. Memang katrin selalu mengejarku dan mengikutiku kemana ku pergi. Tapi sangat disayangkan ia tak mampu menjaga tubuhnya. Bahkan ketika aku baru saja sampai di kota ini.
Aku pernah mendapatinya sedang asik bercumbu dengan lelaki pribumi yang kutau dia adalah anak buahku.
Ada sekitar 50 orang anak buahku yang diberikan pimpinanku untuk membantu dan menjaga wilayahku.
Dari semua anggotaku mereka pernah mendapatkan pelayanan gratis bahkan sekantung emas dari Katrin. Hanya untuk memenuhi syahwatnya. Bahkan dia juga pernah beberapa kali mengajakku bercumbu. Dan aku menolaknya secara halus agar kawanku Bruno tak sakit hati.
Sayangnya Bruno yang pernah melihat penolakanku pada Katrin, dia sakit hati dan ingin membalas dendam padaku. Apalagi saat aku antusias mendengarkan orang pribumi itu membicarakan Ningsih pada kami.
Katrin akan nampak anggun pada siang hari. Keanggunannya seolah topeng yang ia gunakan pada siang hari. Ya saat siang itu Katrin yang tengah duduk dibawah pohon . Menjadi perbandingan terhadap Ningsih. Orang pribumi itu mengatakan tanpa sungkan padahal kakak dari Katrin sedang duduk bersama kami. Itu semua membuat Bruno menjadi kejam lantaran harga diri adiknya di injak pribumi.
...****************...
Perjalanan yang panjang dari negri ini ke negri kelahiranku sangatlah panjang bahkan sampai berbulan bulan. Yang dapat kulakukan hanyalah membayangkan Ningsih. Membayangkan kejadian yang merenggut perjaka ku.
Aku tak kan bisa menemuinya lagi. Dan aku harus bisa melupakanya. Walaupun itu teramat sulit...
Seperti mau gila aku ini, aku seolah melihatnya dimana - mana. Dalam kapal ini seolah Ningsih menemaniku. Semua aktifitasku ditemani Ningsih. Apalagi saat aku mulai memejamkan mata, ia seolah hadir di setiap mimpiku. Dan kami memadu kasih.
Ya aku jadi sering melakukannya dalam mimpiku bersama Ningsih. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akupun tiba dirumahku. Tanah kelahiranku, aku disambut hangat keluargaku.
Beberapa bulan aku di kampungku. Aku dijodohkan oleh orang tuaku dengan gadis yang wajahnya mirip dengan Katrin. Aku langsung menolaknya mentah- mentah. Aku sangat marah terhadap orang tuaku. Hingga akhirnya mereka minta maaf dan tak kan mengulanginya lagi. Akupun hidup dalam kesendirianku bersama bayangan Ningsih. Aku merasa cukup dengan kehadiran Bayangan Ningsih.
Dalam bayanganku aku telah menikah bersama Ningsih dan kami hidup bahagia. Karena peristiwa penyatuan yang terpaksa itu Ningsih pun hamil serta melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Paras nya adalah gabungan dari kami.
Hingga ajal menjemputku aku hanya ditemani
__ADS_1
bayangan Ningsih yang tetap cantik dimataku.
...****************...
Perjalanan Jaka dan Ningsih
Setelah kepergian para pembantai itu. Tangis Ningsih pecah ia bisa menangis sekuat tenaga dan meraung . Meluapkan emosi yang memuncak. ia lantas bangun dari tempat tidur ia lantas mencari orang- orang terkasihnya.
Ningsih memeluk dengan erat orang tua yang telah terbujur kaku.
Dia lantas keluar kamar dan mencari keberadaan ayahnya. Ketika dia berada di pintu kamar. Tatapanya terhenti saat melihat lelaki yang telah resmi menikahinya. Dia dalam kondisi terluka dan terikat.
Ia langsung membuka ikatan dan penutup mulut Jaka. Mereka langsung berpelukan dan menangis tergugu.
"maafkan aku mas... ? Aku sudah tak suci lagi. Kau berhak meninggalkanku. Aku kotor mas..."
"Sudahlah Ningsih, aku yang payah ,tak bisa melindungimu dan keluarga kita. Akulah suami tak berguna. Maafkan mas Ningsih?"
"Ningsih!"
"Wagirah!"
"Syukurlah kau masih hidup Ningsih. "
"Kau juga bisa selamat Wagirah"
"Iya Ningsih tadi pagi- pagi sekali aku pergi kekota bersama ketiga teman kita. Kami pergi bersama suami kami, sedangkan anak- anak sengaja kami tinggalkan bersama orang tua di rumah. Lantaran tak memungkinkan membawa mereka untuk perjalanan jauh. Kami baru saja sampai dan mendapati kondisi desa yang seperti ini. Anakku mati Ningsih, Keluargaku mereka semua kini telah pergi. Jaenah, Suyanti dan Plenik mereka semua sedang bersiap meninggalkan kampung ini.
Jumirin suami Plenik yang mengusulkan agar kita segera meninggalkan kampung ini. Kebetulan aku tadi sempat mendengar suara tangis dari rumahmu. Mangkanya aku kemari untuk mencari tau orang yang masih hidup. Aku bersyukur kalau kau masih hidup. "
__ADS_1
"Tapi wagirah, rasanya aku ingin ikut orang tuaku saja. Aku ingin mati bersama mereka. "
"Ningsih, aku mohon kita sedang dalam keadaan yang sama sekarang. Tapi kita harus tetap hidup. Aku mohon janganlah menyerah. Kau baru saja menikah kemarin."
"Ningsih istriku, tolong pertimbangkan ucapan Wagirah. Yang diucapkanya ada benarnya. Kita harus kuat dan kita harus tetap hidup, Kita tak boleh menyerah dan berputus asa."
"Baiklah , aku akan mengikutimu, jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Ningsih kita tak punya cukup banyak waktu. Segeralah kau berkemas dan membawa semua benih tanaman dan bahan makanan dan apa saja yang berguna ditempat baru kita! Aku akan menemui Jumirin dan yang lainya. Mereka harus tau kalau kalian masih hidup. "
Wagirah lantas meninggalkan Ningsih menuju rumah plenik dan Jumirin. Sesampainya dirumah Plenik ,ternyata Suyanti dan Jaenah sudah berkumpul disana dan menantikan kehadiran Wagirah.
" Maaf aku agak terlambat? Aku baru saja bertemu dengan Ningsih. "
"Ningsih masih hidup?" tanya Plenik.
"Ya Ningsih dan suaminya masih hidup. Aku baru saja dari sana."
"Kalau begitu mari kita pergi ke sana? "ucap Jumirin.
Mereka semua pergi ke rumah Ningsih dengan membawa bekal dan persiapan. Wagirah dan suaminya lantas pulang kerumahnya yang tak jauh dari rumah Ningsih.
"Ningsih kamu selamat?" tanya Plenik.
"Iya... Tapi keluargaku. Huhu huuuu" kembali tergugu.
"Kamu tenanglah kita semua sama disini. Kita kehilangan orang yang dicintai. Tapi asal kamu tau kita harus meninggalkan kampung ini sekarang juga. Saat perjalanan pulang tadi kami bertemu dengan rombongan orang yang telah membantai keluarga kita. Lantas kami bersembunyi di semak- semak agar mereka tak mengetahui keberadaan kami. Kami mendengar pembicaraan mereka. Mereka semua akan kembali kesini dan menjarah kita semua. Jika kita besok masih ada di sini sudah pasti kita akan bernasib sama seperti orang- orang ini."
"Aku memgerti maksudmu Jumirin. Baiklah aku akan segera bersiap , tapi tunggu sebentar !" ucap Jaka
__ADS_1
Jaka meyakinkan istrinya dan menguatkanya. Mereka pun segera berkemas dan makanan sisa hajatan pun dibawanya. Saat mereka berkemas Wagirah dan suaminya telah tiba di rumah Ningsih.