SANG PEMILIK TUYUL

SANG PEMILIK TUYUL
Hari yang Melelahkan


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang saat Cakra masih kusyuk dalam dzikirnya. Ia lantas segera melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama para pelayan.


Sedang kan dikamar utama Ria masih terlelap dalam mimpinya.


Selesai melakukan sholat subuh Cakra langsung menuju ke kamar utama ia lalu mengecup kening Ria. Sentuhan itu membuat Ria terbangun.


"Selamat pagi istriku?" sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga suamiku . Astaga seharusnya aku bangun lebih pagi dan membuatkanmu segelas air hangat. " Ria langsung bangun dari tidurnya dan menatap lekat suaminya.


"Sudah lah istriku kau tak perlu melakukan itu?" sambil terkekeh geli melihat tingkah istrinya.


"Tapi Ambu dulu selalu seperti itu ."


"Tidak usah istriku. Aku tak mau melihatmu terlalu lelah. Kau adalah tanggung jawabku."


"Hanya membuat segelas air hangat tak membuatku lelah suamiku."


"Iya sayang aku mengerti. Tapi biarkanlah semua itu menjadi urusan para pelayan kita."


"Jadi apa yang harus aku lakukan sebagai istrimu?" tanya Ria sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kau cukup belajar dan terus berada disisiku. Aku akan mengerti nanti. "


"Ok baiklah suamiku. Sekarang aku akan mandi terlebih dahulu dan bersiap untuk menemanimu." ucapnya bersemangat dan langsung berdiri dari ranjangnya hingga ia bergegas masuk kamar mandi.


Cakra yang masih terduduk di pinggir ranjang pun segera bangkit dan keluar kamar untuk menemui pengawalnya.


"Pengawal cepat kau panggil Candra menghadapku!"


ucap Cakra sambil melangkah menuju ruang kerja.


"Baik Baginda...." membungkuk hormat dan berlalu melaksanakan perintah Rajanya itu.


Candra adalah salah satu tangan kanan Cakra dan termasuk kepercayaan.


" Assalammualaikum Baginda..?"


"Walaikum salam ,masuklah Candra...! Jadi bagaimana dengan tugas yang telah ku berikan padamu kemarin.?"


"Semuanya berjalan sesuai perintah baginda. "


"Kalau begitu kau boleh pergi dan tetap awasi semuanya !"


"Siap baginda !" Candra pun mulai beringsut mundur dan meninggalkan Cakra diruang kerja.


"Braaaakkk.... "pintu ruang kerja Cakra kembali terbuka dan ......


"Ada apalagi Candra? kenapa kau tak mengetuk dulu!" ucapnya dengan nada sedikit tinggi. Dengan tangan yang masih dilipaat didadanya dan pandangannya menatap jauh keluar jendela.

__ADS_1


"Maaf suamiku ini aku Ria bukanlah Candra? " Dengan wajah yang cukup tegang.


"Ada apa istriku? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" sambil menoleh dan menatap istrinya lalu jalan mendekati Ria.


"Suamiku Tiba- tiba pagi ini Lina menelfonku dengan suara yang seperti menangis. Dia telah di pecat dari kantornya. "


"Baguslah dengan begitu ia tak kan lagi dekat dengan Hendra."


"Tapi suamiku? Lina memiliki adik banyak. Dan dia adalah tulang punggung dalam keluarganya. Dulu pertama kali aku jumpa ,dia terlihat sangat murung lantaran dia tak pernah berhasil menjual 1 unit rumah. Dia murung lantaran akan dipecat jika ia masih belum berhasil dalam waktu yang telah ditentukan. Kini aku mendapat kabar kalaudia dia telah resmi dipecat. "


"Ria istriku tolong dengarkan aku, Lina lebih baik keluar dari kantornya. "


"Tapi kenapa?"


"Aku tak bisa membantunya jika sudah berurusan dengan Hendra. Karena mau bagaimanapun Hendra masih keturunan dari raja iblis."


"Kau masih ingat kan tentang ceritaku sebelumnya?"


"iya aku masih mengingatnya, tapi apa hubunganya dengan peristiwa pemecatan dirinya?"


"Aku sengaja menugaskan Candra agar Lina tak lagi bekerja disana. Hanya itu saja yang dapat aku lakukan untuk melindungi Lina. Pengaruh Hendra sangat besar di kantor itu. Kita tak kan mampu menolong semua orang dari pengaruh Hendra. Karena seperti yang kau ketahui keturunan dari Dajali sangat banyak dan sekarang sudah menyebar hingga kepelosok negri."


"Jadi bagaimana kita bisa terhindar dari mereka?"


"Hanya dengan memperkuat keyakinan dan iman kita. Maka kita akan terhindar dari pengaruh maupun hasutan dari mereka. Dan kalau masalah Lina kau lebih mengerti jalan keluarnya...."


"Aku !" sambil telunjuk tangan nya menunjuk dirinya sendiri.


"Tunggu sebentar ! Lina menelfonku aku mau mengangkatnya terlebih dahulu. " sambil berjalan agak menjauh dari Cakra.


"Hiks... Hiks... Hiks . ....."


"Lina kamu kenapa ? Kenapa menangis?"


"Aku bingung mbak mau curhat sama siapa lagi.."


"memangnya ada apa....?"


"Hendra mbak dia selingkuh. Padahal kami sudah berencana akan menikah akhir hulan ini. Tapi dia.... Hiks..."


"sudah lah tenangkan hatimu biarkan saja mungkin ini yang terbaik buatmu. Bersyukur saja kau belum sempat mejikah dengan nya. "


"Begitu ya mbakk ?"


"Iya Lin , sekarang hapus air matamu dan tetap semangat untuk keluargamu. Adikmu masih sangat membutuhkanmu."


"Makasih ya mbak sekarang aku lebih lega. sepertinya besok aku harus mencari kerja baru mbak."


"Nah begitu lebih baik. Nanti sore datang lah kerumahku!"

__ADS_1


"iya mbak insyaallah, kalau gitu saya pamit dulu ya mbak. Dan makasih buat masukanya. "


"oh iya silahkan. Tapi inget Lin kamu harus lebih mendekatkan diri sama sang pencipta. Agar kamu terhindar dari orang- orang seperti Hendra."


"Iya mbak.."


"Tut tut tut" suara panggilan terputus.


Ria pun kembali mendekati suaminya.


"Suamiku aku menyuruh Lina untuk datang kerumah nanti sore. Tidak apa-apa ya..?"


"Iya istriku aku tak masalah. Dan berilah ia solusi yang terbaik, tapi kau juga harus ingat jangan memaksa orang dengan solusimu meskipun kamu dipihak yang benar. "


"Siap Tuan! " ucap Ria sambil berdiri tegak .


"Kalau begitu kau ikut dengan ku sekarang !"


"Kemana?"


"Kita akan menemui guru agama"


"Apa itu Agama?"


" Nanti kau boleh tanyakan padanya."


"Begitu ya ! Kalau begitu ayoklah !"


"Sekarang kau tutup matamu ! Jangan dibuka sebelum ada perintah dariku ! "


Cakra kemudian mendekap istrinya dan melakukan teleportasi.


"Bukalah"


Ria pun membuka matanya. Dan sampailah ia di sebuah ruangan khusus sebuah pesantren. Di ruangan itu sudah ada seorang pria paruh baya yang duduk bersila menunggu kedatangan seseorang.


"Assalammualaikum?"


" wa'alaikumsalam, silahkan duduk. Aku sudah menunggu kedatanganmu."


"terima kasih pak kyai....perkenalkan ini istri saya namanya Ria. Dia seorang yatim piatu dan sebatangkara. Dan dia juga yang telah membebaskanku dari kutukan itu."


" Nama saya Ahmad. Saya adalah pemilik pondok pesantren ini. Dan saya juga sudah mengenal Cakra dari guru saya. Yang sekarang sudah almarhum. " ucap kyai Ahmad sambil menatap Ria.


"Iya pak kyai salam kenal. " ucap Ria sambil menakubkan kedua tangannya di depan dada dan sambil menundukkan kepalanya.


" Aku sudah mengerti akan maksud dan tujuanmu Cakra. Tapi kita tak bisa langsung- langsung. Untuk awalnya mari kita mulai dengan membaca syahadat. Agar dia resmi menjadi orang muslim. Dan selanjutnya kau bawa istrimu setiap habis subuh kemari untuk belajar mengaji. Karena kita harus istikomah dalam menuntut ilmu. "


"iya pak kyai saya paham. "

__ADS_1


Kyai Ahmad pun menuntun Ria mengucapkan kalimat syahadat. Ria pun mengikuti ucapan kyai Ahmad dengan sedikit terbata.


__ADS_2