
Hening
Tak ada gerakan apapun membuat xia mei semakin waspada.
"ke"
Wushhhh
Dirinya seketika terkejut ketika tubuhnya melayang begitu saja, bahkan dalam hitungan detik kini tubuhnya berada ditempat yang berbeda dari sebelumnya.
dia membulatkan matanya ketika menyadari hal tersebut, dilihatnya kini pria tampan yang ada dihadapannya mendekap pinggangnya dengan erat.
untuk sesaat netra mereka saling beradu, hingga xia mei memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.
"siapa"
Ketika hendak melayangkan pertanyaan,pria tersebut menekan jari telunjuknya dengan lembut didepan bibir gadis itu seolah memberi isyarat agar gadis itu mengunci mulutnya.
Xia mei mengerti akan hal itu, kemudian matanya mengikuti pandangan pria dihadapannya dimana ketika dirinya melihat sesuatu didepan sana membuat dia tercegang tidak percaya.
Seekor ular raksasa, dengan tubuh yang begitu besar
Ohh god
xia mei menatap ular tersebut dengan kagum, ini pertama kalinya dia melihat ular sebesar itu.
Dan beberapa saat kemudian, xia mei merasa belitan pria itu mulai melonggar. Dan yah ular tersebut juga kini hilang entah kemana.
"siapa kau?"
kini xia mei bertanya dengan penuh penasaran, yang kemudian menatap intens pria dihadapannya.
"ohh god, dia lebih menabjukan dari ular itu"
Batin xia mei seolah ingin menjerit ketika menyadari betapa tampannya pria dihadapannya kali ini
Alis tebal namun terlihat rapih, hidung mancung dengan bibir yang sedikit tebal, rahang tegas yang seolah menambah karisma pria dihadapannya.
"dia pria tertampan dari semua pria yang pernah aku temui"
Batin xia mei kembali terkagum kagum.
Sedangkan pria dia dihadapannya tampak mengangkat ujung alisnya ketika menyadari gadis yang ia tolong kini menatapnya tanpa berkedip.
"aku tidak menyangka jika bibi meilan mengizinkan putrinya untuk bepergian ditempat yang berbahaya seperti ini terutama dimalam hari"
Ucap pria itu kemudian, tanpa berniat menjawab pertanyaan xia mei yang menanyakan siapa dirinya.
__ADS_1
xia mei jelas saja melototkan matanya, tak menyangka jika di bertemu dengan pria yang mengenal ibunya dan bahkan dirinya ditengah hutan seperti ini.
"siapa kau? dan bagaimana bisa kau mengenal ibuku?"
Kini tatapan terpesona itu hilang begitu saja, digantikan dengan tatapan penuh selidik.
Sedangkan pria tadi merasa tak perlu menjawab pertanyaan gadis itu, ia kemudian membalikkan badannya berniat meninggalkan gadis itu.
Namun berikutnya dia terkejut ketika gadis itu menggaet lengannya dengan erat.
Xia mei menatap pria dihadapannya dengan intens, dan ketika menyadari jika pria itu akan pergi dia segera melakukan aksinya.
ini berbahaya
Begitu pikirnya.
jika pria itu mengenal ibunya, maka celakalah dia jika pria itu juga akan mengadukannya jika dia pergi dihutan ditengah malam seperti ini.
Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.
"lepaskan tanganmu"
pria tersebut berkata dengan datar
"tidak, sebelum kau memberitahu siapa dirimu"
Kekeh xia mei yang seolah tidak takut dengan tatapan tajam yang dilayangkan pria itu kepadanya.
mendengar hal tersebut membuat xia mei mendengus tak percaya.
"hei tuan, aku bahkan tidak meminta dirimu untuk menolongku, dan untuk pertanyaanku tentu saja itu penting, aku tidak ingin kau mengadu pada ibuku tentang hal ini"
Cerocos xia mei dengan kesal.
"ada banyak hal yang lebih penting untuk kulakukan dari pada mengadukanmu pada bibi meilan"
ucap pria itu dengan datar, dia tidak percaya jika gadis itu berfikir dia akan melakukan tindakan kekanak kanakan seperti itu
Dan pria itu adalah Liang hangli, yang saat ini menjadi raja dari ras demon yang menggantikan ayahnya.
Tadi setelah dia berdebat dengan ibunya, ia memutuskan untuk pergi menenangkan diri, hingga tanpa sadar ia teringat akan gadis yang memarahi prajurit dipasar pada saat itu. Namun mengingat jika pengawalnya mengatakan jika gadis itu adalah xia mei putri dari sahabat ibunya ia merasa tidak percaya akan hal itu, hingga memutuskan untuk mencari taunya sendiri.
Dan ketika dirinya tiba didepan gerbang kediaman jiang, dia mengerutkan keningnya ketika melihat seseorang yang memanjat gerbang dengan begitu hati hati.
Ia fikir itu adalah seorang perampok, namun ketika dia kembali menajamkan penglihatannya ia terkejut ketika menyadari sosok tersebut adalah seorang wanita yang bahkan merupakan gadis yang dia lihat dipasar pada waktu itu.
Ada rasa tak rela dihatinya, karna pada waktu itu dia berharap jika gadis yang dia lihat dipasar adalah gadis yang ditakdirkan untuknya. namun melihatnya secara langsung membuat harapannya itu pupus.
__ADS_1
hangli tampak mengerutkan keningnya ketika menyadari gadis itu bergerak masuk kedalam hutan bahkan jika menurut perkiraannya gadis itu akan menuju kehutan kematian.
Dengan rasa penasaran yang menghantam dirinya, membuat pria itu memilih mengikuti xia mei diam diam, namun ia tidak menyangka jika gadis itu menyadari keberadaannya.
"lalu apa susahnya memberitahu siapa namamu, dan bagaimana bisa kau mengenal ibuku"
Timpal xia mei kemudian tanpa berniat melepaskan pria dihadapannya sedikitpun.
"ini menyangkut masalah kebebasan"
Batinnya
Karna yakin, jika saja orang tuanya mengetahui jika dirinya keluar dimalam hari, sudah dipastikan jika orang tuanya itu akan memberikan pengawasan yang begitu ketat, dan tentu saja xia mei tak mau hal itu.
"namaku liang hangli, dan bibi meilan berteman dengan ibuku"
jawab hangli ketik merasa tidak ada pilihan lain selain menjawab pertanyaan gadis yang masih menggaet lengannya dengan begitu erat.
Entahlah mengapa dirinya bisa memilih mengalah pada seorang gadis, yang bahkan selama ini dia selalu hindari.
"lalu apakah kau tidak akan memberitahu ibuku tentang hal ini"
Hangli mengusap wajahnya kasar ketika mendengar ucapan gadis disampingnya.
"aku bukan anak anak yang biasa melakukan tindakan konyol seperti itu, lagi pula aku sudah lama tidak bertemu ibumu, jadi sekarang lepaskan aku"
sentak hangli yang merasa kesabarannya mulai menipis, hingga secara tak sadar menghempaskan tangannya membuat xia mei terhuyung seketika
Srakkk
Brughh
"argghhhh, sialan"
Xia mei mengumpat ketika tubuhnya terhempas ditanah.
Namun ia kembali meringis ketika menyadari bagian belakang dekat lehernya terasa perih.
Tangannya terulur memeriksa bagian tersebut, dan tanpa sadar membuka sedikit hanfu bagian atasnya sehingga memperlihatkan pundak mulusnya.
"ohh shittt"
xia mei kembali mengumpat ketika menyadari bagian belakangnya berdarah yang mungkin tanpa ia sadari tergores sebuah ranting ketika hangli menghempaskan tangannya.
Namun berbeda dengan xia mei yang sibuk dengan lukanya, hangli sendiri terdiam kaku ditempatnya ketika melihat sebuah tanda lahir dipundak xia mei yang berbentuk burung Phoenix.
itu adalah tanda lahir yang sekian lama ia cari. Dimana gadis yang memiliki tanda tersebut merupakan gadis yang ditakdirkan untuknya.
__ADS_1
Namun dalam otaknya yang berkecamuk, ia segera menyadari satu hal, dimana perilaku kasarnya pada xia mei yang merupakan gadis pemilik tanda tersebut.
Seketika dia meneguk ludahnya kasar ketika melihat xia mei yang kini menatapnya dengan tatapan membunuh.