
Dan setelah berjalan cukup jauh, akhirnya xia mei bisa melihat sebuah papan yang bertuliskan paviliun Phoenix. Bukankah nama itu biasanya diperuntukkan untuk kediaman orang orang penting kekaisaran.
Dan benar saja seperti dugaannya, pelayan yang menjemputnya berjalan masuk kedalam kediaman tersebut. Dan sudah dipastikan jika ini adalah kediaman permaisuri xinxing
paviliun ini terlihat begitu megah dan luas, bahkan ada banyak prajurit dan pelayan yang bertugas disana. Namun itu tidak membuat xia mei tertarik, karna ia sendiri mempunyai ide tersendiri untuk kediamannya kelak, dan sepertinya itu akan menjadi syarat untuk pria akan menimangnya nanti.
"masuklah putri, yang mulia permaisuri xinxin telah menunggu anda"
Sahut pelayan tersebut.
Xia mei menganggukkan kepalanya, lantas mulai melangkahkan kakinya secara perlahan masuk kedalam ruangan tersebut.
dan kini matanya bisa menangkap seorang wanita paruh baya yang terlihat sibuk dengan kegiatannya, yang terlihat sedang menyulam kain bewarna merah
"hormat hamba yang mulia permaisuri"
ucap xia mei dengan penuh hormat, dia membungkukkan badannya.
Permaisuri xinxing lantas menghentikan kegiatannya, kemudian menatap xia mei yang kini berada dihadapannya. dan saat xia mei mengangkat wajahnya
dia terkejut untuk beberapa waktu, melihat penampilan xia mei tidak seperti biasanya. Kali ini gadis itu terlihat begitu cantik meski tanpa riasan apapun, dengan hanfu dengan potongan sederhana namun tidak menghilangkan kesan mewah bagi mata yang memandangnya.
"ahh tidak perlu sungkan xiaer, bukankah biasanya kau memanggil permaisuri ini dengan sebutan bibi"
ucap permaisuri xinxing setelah tersadar dari keterkejutannya, ia berusaha mengingatkan gadis itu, karna seperti berita yang tersebar jika xia mei mengalami lupa ingatan.
Lantas ia kemudian menepuk kursi disebelahnya, meminta xia mei untuk disana.
Xia mei jelas saja menurut, dengan langkah perlahan dan begitu anggun dia duduk didekat permaisuri xinxing
"kenapa tidak pernah menemui bibi? Bahkan ketika kau sadar kau langsung pulang tanpa bertemu denganku lebih dulu"
sahut wanita itu yang terdengar sedikit protes ketika mengingat pada hari itu pelayan memberinya kabar jika calon tunangan putranya pulang setelah sadarkan diri. Namun meski terdengar protes, tapi tangan wanita paruh baya itu mengelus rambut panjang milik xia mei yang dia biarkan terurai dan diberi hiasan jepitan rambut berbentuk bunga mawar
"maafkan aku bibi, aku rasa tertidur dalam waktu yang cukup hingga saat aku terbangun aku begitu merindukan orang tuaku"
Jelas xia mei dengan pelan, ia memasang wajah sedihnya dengan sealami mungkin.
"jangan bersedih sayang, hanya saja bibi ingin memastikan jika kamu baik baik saja sebelum kembali ke kediamanmu, bagaimanapun kecelakaan yang menimpamu itu terjadi di kawasan istana"
jelas permaisuri xinxing cepat, dia menghembuskan nafasnya kasar ketika mengingat kejadian tersebut, dia merasa bersalah karna xia mei lepas dari pengawasannya
"apakah kau tidak ingat apapun apa yang terjadi pada waktu itu, kau tidak mungkin jatuh ke kolam dengan sendirinya bukan?"
Tebak permaisuri xinxing kemudian
"aku tidak tau pasti soal itu bibi, tapi dalam ingatan ku samar samar aku merasa ada seorang gadis mendorongku, tapi aku melupakan wajahnya"
jawab xia mei yang mulai mengarang ceritanya, namun melihat respon permaisuri xinxing sepertinya dia percaya pada xia mei
"seorang gadis?"
Permaisuri bertanya, dia jelas saja terkejut mendengarnya
__ADS_1
Xia mei menganggukkan kepalanya
"apakah kau benar benar tidak mengingat apapun sampai sekarang, maksudku apakah kau juga melupakan putra mahkota?"
"iya bibi"
Xia mei berkata dengan lesu, andai saja saat ini dia berada dizaman modern sudah dipastikan dia akan dapat penghargaan menjadi aktris terbaik tahun ini.
"oo jangan bersedih sayang, bibi yakin ingatanmu tidak akan lama lagi akan kembali"
Sahut permaisuri xinxing yang berusaha menghibur xia mei yang terlihat sedih.
Xia mei lantas menganggukkan kepalanya, kemudian pandangnya kini tertuju pada sebuah lukisan yang terpampang di dinding dalam ruangan tersebut dengan ukuran yang cukup besar, dan memperlihatkan gambar keluarga yang begitu harmonis.
"pasti bibi begitu bahagia menikahi paman xiu bukan, bahkan sampai di hari tuanya paman masih setia pada bibi"
Permaisuri xinxing yang mendengar itu seketika merasa malu, semburat merah terlihat dikedua pipinya.
"ya bibi beruntung menikahi pamanmu, mengenai setia kau tau nak, pernikahan kami tidak semulus itu, ada banyak gadis yang tertarik padanya ,bahkan beberapa keluarga terhormat meminta pamanmu untuk mengangkat keturunan mereka meski hanya bergelar selir nanti"
Ucap permaisuri xinxing, kini otaknya seolah mengulang bagaimana lika liku kehidupan rumah tangganya.
"hanya saja pamanmu menolak keras untuk mengangkat seorang selir, bahkan sampai dia menentang orang tuanya"
xia mei mengembangkan senyumnya mendengar itu
"lalu sifat putramu yang gila perempuan itu menurun pada siapa permaisuri xinxing?"
Batinnya terkekeh membayangkan sifat dari putra mahkota Xiu ming dan kedua orang tuanya yang begitu berbeda.
Lirih xia mei, membuat permaisuri xinxing menatapnya kasihan.
Dia tau betul apa yang ada dipikiran xia mei kali ini, dimana putranya belum juga bisa menerima xia mei menjadi tunangannya
"bibi apakah putra mahkota akan mencintaiku seperti paman mencintai bibi?"
Dia kemudian memandang permaisuri xinxing dengan mata yang berkaca kaca.
"pasti, karna kau adalah gadis terbaik yang bibi pilih untuknya"
permaisuri xinxing berusaha meyakinkan xia mei yang kini terlihat rapuh dimatanya.
"ta tapi bagaimana jika putra mahkota Xiu ming memiliki wanita lain dibelakangku bibi, bibi tau rasanya pasti begitu menyakitkan aku tidak mau itu"
Kini air mata xia mei luruh membasahi pipi mulusnya.
"jangan menangis, jika itu terjadi maka bibi akan berada di pihakmu, dan jika itu terjadi sebelum pernikahanmu bibi yang akan berbicara pada kaisar"
timpal permaisuri xinxing yang kemudian menghapus air mata xia mei. Ia merasa bersalah akan kelakuan putranya, bagaimanapun dia mengerti perasaan xia mei, mencintai seseorang yang tidak membalas perasaan kita itu begitu menyakitkan
"bibi janji?"
"tentu bibi janji"
__ADS_1
Lantas xia mei masuk kedalam pelukan wanita itu, menyunggingkan senyum tipis.
"tahap satu selesai, maka kini tahap dua akan dimulai"
Batinnya senang.
kriekkkk
merasa ada seseorang yang masuk kedalam ruangan tersebut membuat kedua wanita itu melepaskan pelukannya.
dia adalah kaisar xiu chen.
"target kedua"
Batin xia mei yang bisa menebak siapa yang masuk kedalam ruangan tersebut
"apa yang kau lakukan pada xiaer, permaisuri?"
kaisar xiu bertanya dengan terkejut, kemudian menghampiri kedua wanita tersebut.
"bibi tidak melakukan apapun paman, hanya saja aku merasa iri dengan bibi yang memiliki pria yang setia sepertimu"
Jelas xia mei cepat.
Kaisar xiu yang mendengar itu seketika merasa besar kepala, dan merasa bangga ketika xia mei yang seolah memujinya secara tidak langsung.
"tentu saja, hanya pria sejati yang bisa setia pada satu wanita"
Timpal kaisar xiu yang menyombongkan dirinya.
"lalu apa yang membuatmu menangis?"
Tanya kaisar xiu kembali dengan heran
"aku hanya takut jika putra mahkota tidak bisa mencintaiku seperti paman mencintai bibi, atau bahkan memiliki wanita lain di belakangku"
cicit xia mei dengan menundukkan wajahnya
Melihat itu membuat permaisuri menggenggam tangan xia mei hangat
"tentu saja itu tidak akan terjadi, karna dia memiliki ayah yang setia pada ibunya"
Jawab kaisar xiu yakin
"tapi bagaimana jika itu terjadi, apakah paman tidak akan membelaku?"
Kini dia menatap kaisar xiu dengan mata berkaca kaca, dan tentu saja kaisar xiu merasa tak tega melihatnya
"jika dia yang bersalah tentu saja paman akan memihakmu nak, jangan berfikir terlalu jauh karna paman yakin meski sekarang minger belum mencintaimu dia pasti tidak akan bermain dibelakangmu"
Jelas kaisar xiu yang berusaha membuat xia mei yakin terhadap putranya.
"dan kini orang tuamu berada di pihakku putra mahkota"
__ADS_1
Batin xia mei senang