
Dan keesokan harinya, dimana kini xia mei masih betah bergulung dibawah selimutnya. Gadis itu seolah berubah menjadi beruang yang sedang hibernasi saat ini. Buktinya matahari sudah muncul dengan teriknya yang cukup membuat keringat menetes tapi gadis itu belum menunjukkan tanda tanda untuk bangun.
Jendral jiang dan nyonya Meilan yang sedari telah menunggu putrinya dengan perasaan was was, entah sudah berapa kali dia bolak balik ke kamar putrinya tapi gadis itu masih di posisi yang sama.
Dan kini dia kembali kekamar putrinya, tapi tidak hanya sendiri melainkan bersama suaminya yang juga merasa panik karna putrinya tidak kunjung bangun sedari tadi.
"apa putriku belum bangun?"
Tanya nyonya meilan kemudian, bisa mereka lihat guratan kekhawatiran terlihat di wajah wanita paruh baya itu.
"belum nyonya"
Jawab yue yang juga merasa khawatir, dia telah berulangkali membangunkan nonanya itu tapi tetap saja gadis cantik itu seolah pingsan dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"apakah dia tidak memakan makanan yang salah?"
Jendral jiang bertanya dengan khawatir, dia takut jika kejadian lalu terulang lagi, dimana putrinya baru bangun dari tidur panjangnya
"tidak jendral, putri makan seperti biasanya hanya saja putri makan lebih banyak dari biasanya"
jelas yue kemudian.
"apakah kita perlu memanggil tabib?"
Tanya nyonya meilan yang semakin panik saja.
Tapi belum sempat mereka bereaksi suara dari dalam kamar terdengar membuat mereka mengalihkan perhatian mereka semua.
Didalam kamar xia mei, perlahan bulu mata lentik gadis itu mulai bergerak dengan indah, dengan secara perlahan kemudian membuka matanya.
"hoammmm"
Gadis menguap kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. entahlah dia tidak tau apa yang terjadi disekitarnya sekarang ini, hanya saja dia merasa tubuhnya begitu segar.
perlahan kaki jenjang itu mulai menjuntai kebawah.
"yue"
Dia berteriak dengan serak mencari sosok pelayan yang biasa berada disekitarnya ketika dia bangun.
Namun selang beberapa saat, tidak hanya yue yang datang tapi orang tuanya juga masuk kedalam ruangan tersebut.
xia mei menatap mereka dengan heran, karna merasa dengan aneh melihat ekspresi mereka.
"ada dengan wajah mereka"
Batin xia mei bertanya.
__ADS_1
Nyonya meilan tanpa aba aba segera mendekati putrinya.
"apakah semuanya baik baik saja? tidak ada yang sakit?"
Tanya nyonya meilan dengan cepat, sembari memeriksa tubuh putrinya.
Xia mei semakin tidak mengerti mendengar pertanyaan ibunya, dia pikir ya semua baik baik saja, memangnya apa yang terjadi.
"aku baik baik saja, kenapa dengan ekspresi kalian? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?"
xia mei berbalik bertanya.
"tidak ada, hanya saja ayah dan ibumu khawatir karna kau tidak kunjung bangun sedari tadi"
jelas jendral jiang kemudian.
"ahh jangan khawatirkan apapun, aku hanya merasa lelah"
Jawab xia mei kemudian, setelah meyakinkan kedua orang tuanya jika dirinya baik baik saja, xia mei kemudian meminta makan lebih dulu dia terlalu lapar saat ini.
Hingga disinilah mereka menikmati makan disebuah gasebo kediaman jiang. Xia mei meminta untuk mengubah suasana makan mereka yang terlalu monoton disebuah ruangan yang tertutup.
Ia begitu merindukan suasana di dunia modern, dimana manshion miliknya dulu didesain begitu keren hingga menjadi sorotan media beberapa tahun yang lalu, terutama ruang makan alana di beri dinding kaca dengan disuguhkan pemandangan danau buatan untuk menyejukkan pandangannya.
"apa yang membuatmu begitu lelah xiaer? kau tau kau membuat kami khawatir"
"ahh aku melewatkan tidur siangku ibu, jadi aku merasa kurang tidur"
kilah xia mei, dia kemudian mengambil lauk yang ada dihadapannya.
Setiap gerakan xia mei tidak luput dari pandangan jendral jiang, hingga ketika melihat tangan putrinya dia menyadari ada sesuatu yang baru.
"dari mana kau dapatkan cincin itu?"
Tanya jendral jiang kemudian, dia rasa dia pernah melihatnya tapi entah dimana, dia berusaha mengingatnya.
nyonya meilan turut melihat kearah tangan putrinya, dan benar saja sebuah cincin permata terlihat menghias dijari manis putrinya.
"ibu merasa familiar dengan cincin itu"
timpal nyonya meilan kemudian, ia merasa pernah melihat cincin itu.
Sedangkan xia mei merasa bingung harus menjelaskannya bagaimana, Saat dia hendak membuka mulutnya dia terkejut ketika ibunya sedikit berteriak.
"itu adalah cincin turun temurun dari ratu ras demon, kenapa bisa ada ditanganmu?"
Tanya nyonya meilan dengan cepat, jendral jiang juga kini menyadarinya. Mereka pernah melihat cincin itu digunakan saat kunjungan besar besaran diadakan beberapa tahun yang lalu dimana ratu dari ras demon menggunakannya, lalu bagaimana cincin turun temurun itu bisa ada ditangan putrinya.
__ADS_1
"ahh ini diberikan oleh temanku"
Jawab xia mei yang merasa kikuk ketika mendengar perkataan ibunya, kini dia benar benar percaya jika kini hangli telah menganggap dirinya sebagai calon ratunya dimasa depan.
"kau yakin? Temanmu dari ras mana? Ibu rasa kau tidak memiliki teman, kau sulit berbaur selama ini"
Cecar nyonya meilan kemudian, dia cukup takut jika seseorang menggunakan putrinya sebagai alat untuk membuat pertengkaran dengan ras demon yang begitu disegani di benua ini.
Dia berfikir mungkin saja ada orang lain yang mencuri cincin berharga itu dari ras demon kemudian memberikannya pada putrinya agar bisa menciptakan kesalahpahaman antara ras demon dan ras manusia. Terutama ada banyak ras demon yang tidak menyukai ras mereka karna dianggap lemah.
"xiaer jawab dengan jujur, kau tau jika kau berbohong ini akan berdampak buruk bagi semua ras kita"
ucap jendral jiang dengan tegas, dia juga takut dengan kemungkinan buruk yang ada.
Xia mei menghembuskan nafasnya kasar, dia rasa kini dia tidak bisa lagi mengelak kali ini.
"aku tidak bohong jika ini berikan oleh temanku"
Jawab xia mei, dia menghembuskan nafasnya pelan
"pada saat itu aku ingin menuju hutan kematian, dan aku bertemu dengannya, dia juga mengenal ibu, dia berasal dari ras demon"
Lanjut xia mei yang menyatukan jari telunjuknya.
Sedangkan nyonya meilan terkejut bukan main ketika mendengar putrinya yang pergi kehutan kematian yang terdapat banyak bahaya didalam sana, dia kesulitan bernafas kali ini.
"kau, kau bagaimana bisa kau pergi kesana xiaer kau tau disana sangat bahaya banyak orang yang datang kesana dan tidak kembali lagi"
lirih nyonya meilan, wanita itu tampak menatap putrinya dengan mata berkaca kaca. Xia mei yang melihat itu seketika panik.
"ibu maafkan aku, aku janji tidak akan membuat kesalahan seperti ini lagi"
Bujuk xia mei, dia menggenggam tangan wanita itu.
"lalu bagaimana dia memberikanmu cincin itu? Dan siapa dia?"
Kini jendral jiang bertanya, dia ingin tau bagaimana benda berharga itu ada ditangan putrinya.
xia mei mengalihkan perhatiannya dan menatap ayahnya beberapa waktu kemudian berkata.
"nama dia hangli, dia bilang cincin itu memang untukku karna aku adalah calon ratunya, aku tidak begitu mempercayai perkataannya tapi karna cincin ini begitu indah aku ambil saja"
"sayang jika dibuang bukan"
cicit xia mei kemudian.
Jendral jiang dan nyonya meilan tampak terkejut ketika mendengar penjelasan putrinya. dia mengenal nama yang disebutkan oleh xia mei
__ADS_1
ketika menyadari sesuatu nyonya meilan dengan cepat memeriksa bagian pundak putrinya, dan ketika melihatnya dia terdiam beberapa waktu.