
"turunlah yue"
seru xia mei yang sedikit kesal karna yue masih berada diatas kuda dan tak kunjung turun.
Yue yang berada diatas kuda sedikit tersentak, kini dilihatnya xia mei yang saat ini memandangnya dengan kesal.
"ahh iya putri"
dengan perlahan ia mulai turun dibantu oleh xia mei yang telah turun lebih dulu.
"kedepannya kau harus berlatih menunggangi kuda yue, kita wanita bukan berarti tidak bisa berkuda dan hanya tau soal didapur"
Oceh xia mei yang saat ini tengah mengingat kuda miliknya disalah satu pohon yang ada disana
Yue hanya menganggukkan kepalanya, pikirannya masih berkelana membayangkan bagaimana junjungannya itu menunggangi kuda dengan begitu lihai seperti tadi. Ia fikir tidak mungkin jika seseorang bisa berkuda tanpa berlatih, Tapi ia tak pernah melihat xia mei berlatih selama ini. Ini benar benar membingungkan untuknya.
Sedangkan xia mei kini tengah merapikan penampilannya termasuk rambutnya yang sedikit berantakan karna diterpa angin saat berkuda tadi. Ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan yue saat ini.
Karna dia sendiri bukan tipe yang mementingkan orang lain, selagi dia tidak terganggu, xia mei tidak masalah akan hal itu. Ia terlalu mementingkan kenyamanannya.
Berbicara tentang penampilan membuat xia mei seketika tersadar jika dia belum melihat bagaimana penampilannya didunia ini. Apakah wajahnya sama? Atau berganti wajah yang baru. Memikirkan hal tersebut membuat xia mei ketar ketir, takut jika wajah yang diberikan tuhan padanya didunia ini tidak seperti yang diharapkan, karna sebagai gadis sejati, xia mei tentu saja menyukai kecantikan.
Dan ketika dirinya hendak berbalik dan pergi menuju tujuan utamanya, ia menatap yue dengan kesal
"berhenti memasang ekspresi bodoh seperti itu, yue"
sahut xia mei jengah ketika melihat yue yang masih terdiam dengan raut wajah yang penuh dengan kekosongan.
mendengar hal itu membuat yue segera tersadar dari lamunannya, kini ia baru mengedarkan seluruh pandangannya kesekitar. Yah saat ini pasar masih begitu ramai meski sudah sore.
Entah kapan ia terakhir kali ia kemari bersama junjungannya itu, mungkin sebelum xia mei di pilih menjadi tunangan dari putra mahkota Xiu ming, karna semenjak hari itu xia mei tak peduli dengan hal lain, ia hanya memikirkan bagaimana cara agar membuat xia mei tertarik.
Meski semua usaha yang dilakukan xia mei itu sia sia karna bahkan sampai di tragedi dimana xia mei jatuh di kolam ikan di hari itu putra mahkota Xiu ming masih menutup hatinya untuk xiu mei. Bahkan tidak tertarik sedikitpun
__ADS_1
yue menghembuskan nafasnya pelan, cukup prihatin dengan keadaan yang menimpa junjungannya itu saat ini, di saat dia belum bisa membuat pria yang dia sukai jatuh cinta dengannya dia malah mengalami lupa ingatan, bahkan melupakan cintanya.
Dan yakin saja, jika xia mei tau apa yang ada dipikiran yue saat ini mungkin saja ia akan mendapat pukulan yang cukup dikepalanya.
kehilangan cintanya?
Itu tidak ada dikamus seorang Alana Liora Davision, selama ini dia hanya mencampakkan laki laki bukan dia yang dicampakkan.
Lagi pula di zaman modern, dia menjadi primadona disekolahnya, dari SMP bahkan SMA. Kecantikan yang miliki oleh alana benar benar mampu membuat orang terpesona melihatnya. Bahkan ia kerap ditawari beberapa agensi untuk menjadi model, namun ia dengan tegas menolak, memilih untuk menjadi pebisnis dimasa depan.
"yue kurasa aku ingin membeli beberapa cemilan"
Ucap xia mei kemudian ketika melihat beberapa penjual cemilan yang menggugah seleranya. Sepertinya dia melupakan tujuan utamanya yang ingin membeli cermin
"tapi putri, sebaiknya kita menunggu prajurit yang dikirim jendral jiang untuk menjaga anda"
Usul yue ketika mengingat jika jendral jiang mengirim beberapa prajurit untuk menjaga mereka
"yang benar saja yue, mereka mungkin akan lama, lagipula tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku nanti"
Dan tanpa menunggu yue menimpali perkataannya, ia memilih jalan lebih dulu, karna ia tau yue pasti akan tetap mengikutinya dari arah belakang.
kini tujuan utamanya adalah membeli sesuatu yang manis, dan pada akhirnya ia membawa langkahnya ke salah satu penjual yang berada dibawah pohon, dia menjual gulali.
"paman beri aku satu"
Sahut xia mei yang menunjuk satu tusuk gulali yang berukuran besar dengan mata yang berbinar cerah.
Ohh dia fikir kapan dia menikmati kebebasan seperti ini? Mungkin saat dia kecil diusia tujuh tahunan, dimana pada saat itu orang tuanya belum mempublish wajahnya. Dan sebagai seorang pebisnis yang cukup berpotensi di negaranya, dan mempublis wajahnya menjadi hal yang menguntungkan untuk pesaing bisnis dari kedua orang tuanya.
Pedangan tadi yang tengah sibuk menata barang jualannya tak menyadari kedatangan xia mei.
Ia mulai mengangkat pendangannya, dan kini dilihatnya sosok gadis yang begitu cantik tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Untuk beberapa waktu pedangan itu termenung.
Wajah mungil dengan mata yang bulat, hidung mancung dan bibir yang Semerah buah chery, dengan rambut yang hanya diikat seperti ekor kuda, terkesan begitu sederhana namun begitu memukau dipandang mata, karna pedangan tersebut yakin jika gadis dihadapannya tidak menggunakan riasan apapun.
Jika kalian bertanya kenapa rakyat tidak akan mengenali putri xia mei sedangkan gadis itu merupakan putri jendral, maka jawabannya adalah xia mei kerap menggunakan riasan yang cukup tebal, dan semenjak menjadi tunangan putra mahkota xia mei tidak pernah lagi muncul di keramaian, ia hanya berada di istana dan kediaman miliknya.
setelah tersadar dari lamunannya, pedangan tersebut tersenyum ramah, kemudian segera mengambil pesanan xia mei.
"ini nona"
Sahutnya sembari menyodorkan satu tusuk gulali pada xia mei.
Xia mei mengembangkan senyum terbaiknya, senyum mempesona yang membuat pedangan tersebut kembali terpanah melihatnya.
"terima kasih"
Ucap xia mei dengan ramah
"sama sama nona"
Balas pedangan tersebut tak kalah ramah
"yue, tolong bayar untukku"
Yue yang ada dibelakang xia mei mengangguk, ia kemudian merogoh kantong dan membayarnya dengan koin sesuai harga gulali yang diambil oleh xia mei.
"yue, sepertinya aku akan membeli beberapa pakaian, hanfu milikku terkesan terlalu berlebihan aku tidak begitu menyukainya"
"baik putri"
Yue menurut saja, lagi pula dari banyaknya uang bulanan milik xia mei dari beberapa bulan lalu itu tidak pernah digunakan sebelumnya, dan tentu saja mampu membeli beberapa atau bahkan puluhan pakaian yang diinginkan nonanya.
pedangan tadi baru tersadar ketika menatap punggung xia mei dan yue kini mulai menjauh.
__ADS_1
"siapa gadis cantik itu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya, tapi kenapa aku merasa wajah itu tidak asing"
Gumam pedangan tersebut yang merasa penasaran, entah mengapa seolah ia pernah melihat wajah itu, tapi ia tidak mengingatnya sedikitpun.