
Kereta berhenti di sebuah pondok makan, Ming Hui berjalan riang masuk dan tampa sengaja memijak ujung jubahnya sendiri hingga ia kehilangan keseimbangannya,
Berterimakasih pada sebuah tangan kokoh yang dengan suka rela menyambut tubuhnya hingga ia tak perlu merasakan berciuman dengan lantai,
Adegan yang begitu klise di dalam drama, saat pemeran utama wanita jatuh maka akan ada tangan besar Seorang pemeran utama pria yang menyambutnya
"Tuan, syukurlah tuan baik baik saja"
Ming Hui menghela nafas dengan begitu lega saat tak merasakan apapun, dan perlahan membukakan matanya,
Yang pertama kali ia lihat adalah seorang pria berpakaian serba putih dan sepasang netra emas yang bahkan dalam sekejap mampu membuatnya menjadi begitu terpikat
Ming Hui terdiam sejenak, ia mengerjapkan matanya beberapa kali apakah ia sedang bermimpi?, Atau mengigau, bagai mana mungkin ada manusia seperti ini
"Apakah ini yang di sebut seorang dewa yang turun ke dunia nan fana ini?, sangat indah dan sangat mempesona" Batin Ming Hui berteriak penuh kegembiraan,
Pesona seorang pria tampan memang sangat sulit untuk di bayangkan, karena itulah ia hanya bisa berpura pura santai dan baik baik saja, ia tak boleh mempermalukan diri apa lagi gugup
Dalam sekejap bahkan ia merasa ada hal aneh pada dirinya saat melihat netra itu, ini terlalu dini untuk di sebut cinta, namun?,
Pada kenyataanya ia merasa begitu tertarik dengan netra indah itu,
Setelah kesadarannya pulih ia segera berdiri tegak, ia berdehem pelan sembari membenahi penampilannya,
"Tuan" Lin berucap pelan
"Ah, Lie Lin, aku baik baik saja, dan kau, ini tak pantas, kau sedang melecehkan ku?" Ming Hui yang kepalang malu hanya bisa berucap sembarangan
"Tuan" Lin berusaha untuk mengingatkan sang tuan
Pelecehan apa yang bisa di lakukan antara pria dan pria, tuanya terlalu marah hingga bahkan lupa jika saat ini mereka sedang menyamar menjadi seorang pria
__ADS_1
"Eh, rupanya kau pria rumah bordir?, kau terlihat begitu pendiam dan baik sebelumnya dan kali ini malah melakukan hal tercela seperti ini" Ming hui berucap dnegan anda pelan
Meskipun pada awalnya ia mengganggumi keindahan pria ini hanya saja tetap saja ia tak bisa menerima jika dirinya di perlakukan seperti itu, citranya sebagai gadis kuat seketika melorot dengan begitu kejam
Ming Hui terus saja mengoceh, namun pria itu malah mendiamkannya begitu saja, tak ada perubahan ekspresi di wajahnya
Hanya mendapat balasan dengan wajah datar sambil menggunakan kepalanya, pria putih itu berlalu meninggal Ming Hui begitu saja dan hal ini bahkan membuatnya menjadi kesal setengah mati
Pria ini setelah melecehkannya malah meninggalkannya begitu saja, dan lihatlah wajah menyebalkan itu
"Lie, Lin, apa kalian bisa melihatnya?, Dia malah mengabaikan ku begitu saja, ia malah melangkah Tampa melirik ku sedikit saja, menyebalkan sekali, padahal ialah yang melecehkan ki" Yang berbalik arah mengikuti langkah pria putih itu keluar pondok makan,
Ia di lecehkan, oh tidak bukan karena itu saja, ia Bahakan telah di abaikan bukan, tentu saja ia tak bisa menerima itu, sejak kapan ia di tolak?, sejak kapan ia di abaikan dengan begitu tak berperasaan
Ia di ditinggikan tampa expresi dan pria mana yang berani mengabaikan pesonanya?, Benar benar menyebalkan
"Berbicara lah, apakah kau bisu?, Apakah kau benar benar bisu" Ucap Ming Hui tepat di ambang pintu
Memblokir jalan pria putih itu agar tak bisa keluar, ia masih tak terima, pria sialan itu mengabaikannya, ia tak bisa diam, harga dirinya terluka saat ini
"Lalu?, kau sudah melecehkan ku dan mengabaikan ku, apakah kau tak akan meminta maaf"
"Tidak" Lagi dan lagi si pria hanya menjawab dengan nada dingin
Ia hanya berbaik hati membantu dan pria lainya malah memikirkan hal lain, sebenarnya ia sendiri tak tau, mereka tak pernah mengenal dan bahkan tanganya bergerak sendiri untuk membantu
ia seolah kehilangan kendali pada tubuhnya sendiri, ia yakin jika dirinya tidak dalam keadaan mabuk, ia sadar dan sangat sadar, namun tanganya seolah bergerak begitu saja untuk membantu pria berotak udang ini
Namun lihatlah apa yang terjadi, ia malah berteriak bawa ia telah di lecehkan, hal konyol seperti itu apakah ada di dunia ini, ia hanya membantu malah di teriaki sebagai pelecehan
"Kau kau, kau telah melakukan kesalahan pada ku dan kau tak mau meminta maaf, kau bahkan melecehkan ku apakah kau Tidka tau itu?"
__ADS_1
"Tu.." Lin berucap pelan, sang tuan sudah sangat lupa diri
Hanya sebuah kejadian yang tak di sengaja malah membuat sang tuan menjadi seperti ini, apakah ia tak menyadari identitas yang ia gunakan?,
"Lin kau membelanya" Ming Hui menatap lie dan Lin dengan tatapan tajam
"Abaikan dia" Di pria rumah bordir segera meninggalkan Ming Hui yang masih begitu kesal,
Ia tak bisa mengatakan apapun, ia tak tau kenapa ia membantu dan juga tak tau mengapa pria kecil ini memarahinya,
Melihat ini tentu saja Ming Hui menggembungkan pipinya kesal, di kerajaannya tak ada pria yang berani menolak pesona seorang Ming Hui , dan apa ini bahkan pria putih itu tak meliriknya sedikitpun,
Apakah pesonanya telah pudar?, Ah bagai mana mungkin seperti itu, ia adalah putri mahkota kerajaan Yifan, bagai mana mungkin bisa kehilangan pesonanya begitu saja
"Lihatlah, dia sungguh menyebalkan, selama ini bahkan tak pernah ada pria yang berani menolak ku, dan mengabaikan ku, pria itu?, Dengan begitu tak sopan mengacuhkan ku,
begitu saja lihat saja nanti akan ku buat ia menyesal, dasar mahluk kaku yang menyebalkan" Ucap Ming Hui sembari berdecak kesal karena telah di abaikan,
"Tuan sadarlah"
"Apa yang perlu ku sadari Lin, aku sadar dengan baik, dia melecehkan ku dan kau malah membelanya, apakah kau memihaknya"
"Tuan, ingat identitas mu, bagai mana mungkin kau meneriaki pria itu melecehkan mu saat kau bahkan berpenampilan seperti Seorang pria, dan pelecehan seperti apa yang bisa di lakukan oleh pria satu dan yang lainya" Bisik Lin pelan, hal ini seketika membuat Ming Hui sadar
Karena kepalang malu ia malah kehilangan otak dan akal pikirannya, ia berteriak jika dia telah di lecehkan, ia bahkan melupakan identitas yang ia gunakan saat ini, benar benar memalukan, ia telah kehilangan wajahnya di depan orang orang
"Mengapa kau tak mengatakannya dari awal, jika kau mengingatkan ku aku tak akan mengalami rasa malu ini"
"Kami sudah mengingatkan anda tuan, dan anda malah tak menggubrisnya"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya"
"Jika iya, maka ya sudahlah, ayo masuk dan makan, jangan di pikirkan lagi, hal yang sangat memalukan"