SAVANA

SAVANA
BAB 1


__ADS_3

BAB 1


"Mmhh... ".


"Kau suka?".


"Yesh.. Daddy".


"Ouhh... Teruskan lah".


"Nghh... Mmhh..".


"Yeah... Sedikit lagi".


"Daddyhh..."


BRAK!.


"Hey! Apa kau tidak akan beranjak dari tempat tidur mu itu?!".


Suara teriakan yang familiar menghentikan mimpi liar ku. Secara kaget aku terbangun dengan denyut jantung yang tak beraturan.


"Bisakah ibu membangunkan ku tanpa teriakan?!".


Aku menggerutu sambil memperhatikan langkah ibu yang mulai mendekat.


"Anak ini! Sejak kapan kau berani melawan ibu?!".


Peringatan nya itu disertai dengan tangannya yang mulai menjewer telinga kiri ku.


"Aw! Aw! Baiklah! Aku minta maaf".


Ucapku sambil meringis dan bergegas turun dari kasur empuk ini.


"Bergegaslah. Ini sudah jam setengah 8. Kau bisa terlambat, dan ibu juga!".


"Aku kan sudah bilang, bahwa ibu tak perlu mengantar ku. Lagi pula James akan datang menjemput. Kenapa ibu tidak mengerti?"

__ADS_1


Tutur ku yang kini mengikuti langkah ibu dari belakang.


Ibu berbalik, dan menatapku dengan tajam. Suasana kini menjadi hening dan tatapan beliau memperingati ku untuk tidak berkata-kata lagi, jika tidak, maka itu adalah kata-kata terkahir ku di dunia.


"Baiklah. Aku akan mandi".


Tanggap ku setelah sekian detik melawan keheningan yang terasa berjam-jam ini. Lalu, Ibu meninggalkan ku di depan pintu kamar yang terbuka lebar.


"Huh...".


Aku menghembuskan napas berat. Segera ku raih handphone dan mengirimkan beberapa pesan pada James yang mungkin saja sudah di depan rumah menunggu ku.


Tik. Tik. Tik...


Ting!.


Belum selesai aku mengetik pesan ini, sebuah pesan dari James masuk. Aku langsung membuka pesan darinya dan membaca nya.


Vana sayang, maaf.


Hari ini aku tidak bisa jemput, soalnya ibu menyuruhku untuk mengantar sisi ke sekolahnya.


Pesan yang cukup panjang itu membuatku menghela napas yang lebih berat dari sebelumnya.


FYI sisi ini adik James satu-satunya. Usia mereka terpaut 7 tahun, membuat James terlihat seperti 'Hot Daddy' ketika sedang berduaan dengan adiknya itu. OMG! Aku jadi memikirkan sesuatu yang tidak-tidak!.


Aku pun meletakkan handphone ku di atas meja belajar. Kemudian dengan langkah lunglai, ku tarik handuk yang menggantung di samping lemari baju dan berjalan menuju kamar mandi.


James adalah pacar pertama ku setelah 19 tahun hidup di dunia ini. Hubungan kami sudah berjalan 5 bulan. Akhir-akhir ini, aku meminta James untuk menjemput ku, agar kami bisa pergi ke sekolah bersama-sama. Lagi pula, sudah tidak lama kami berada di bangku sekolah. 3 bulan adalah waktu yang menurutku cukup singkat untuk kami habiskan bersama di sekolah, sebelum akhirnya kami lulus dan melanjutkan hidup masing-masing. James menceritakan padaku kalau dia akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Sedangkan aku, aku belum bisa menentukan langkah selanjutnya setelah aku lulus nanti. Ibu menyarankan aku untuk magang di sebuah perusahaan lokal yang berada di kota. Perusahaan itu cukup terkenal, dan mereka memberikan beasiswa untuk kuliah kepada pegawai magang yang berkompeten namun kurang mampu dalam ekonomi. Benar-benar sesuatu yang sangat di nanti-nantikan oleh banyak remaja seperti aku diluar sana. Namun, untuk penyeleksian agar bisa magang di perusahaan itu rumornya bahkan lebih ketat daripada ujian masuk di tingkat universitas. Itu yang membuatku berpikir ratusan kali untuk mendaftar dengan kemampuan otak ku yang di bawah rata-rata ini. Mungkin sudah takdirku untuk menjadi pengangguran dini. Mungkin.


"Habiskan sarapan mu, ibu akan memanas kan motor di garasi".


"Ibu tidak sarapan?".


Tanya ku dengan tatapan polos.


"Ibu sudah selesai, makanya kau mandi jangan terlalu lama". Ketus ibu.

__ADS_1


"Well..."


"Cepat habiskan sarapan mu! Ibu tunggu di luar".


Potong ibu pada ucapan ku dan beliau berjalan meninggalkan aku dengan meja makan yang berisi segelas susu dan setumpuk roti di atas piring.


Aku mengangkat bahu cuek, dan mulai menggigit roti berisikan selai coklat kesukaan ku. Aku paham betul kenapa pagi ini ibu sangat temperamen. Rupanya semalam ayah lagi-lagi tidak pulang ke rumah.


Bajingan itu!.


Kesal ku dalam hati.


*****


"Hey babe".


Sapa James ketika kini aku tiba di sekolah dan baru saja melangkah masuk ke dalam kelas.


"Hey! Kau membuat ku kaget!".


Balas ku dan langsung berlari kecil kearahnya.


"Maaf kan aku, tadi pagi ibu tiba-tiba menyuruhku untuk mengantar sisi ke sekolahnya".


Rengek James sambil meraih tanganku yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"It's ok babe. Tapi, kenapa kamu lebih dulu tiba dari aku?, bukannya sekolah sisi cukup jauh dari sini ya?".


"Well... Kau meragukan seorang pembalap F1 ya?"


Balas James dengan sikap arogan nya, sambil menunjukkan gaya nyetir yang ugal-ugalan. Bukannya menjawab pertanyaan, malah bertanya kembali. Dasar. Untuk aku sayang sama dia.


"Baiklah, aku tidak meragukan itu".


Aku menanggapinya malas dan mulai bersandar manja di pundaknya. James terkekeh pelan seolah dialah pemenangnya dan ia pun mulai memainkan rambut panjang ku yang ku tata membentuk gelombang.


Adegan mesra kami di pagi hari ini malah mengundang beberapa pasang mata menatap iri, ada pula yang melihat kami dengan tatapan sinis, dan ada juga beberapa dari mereka yang tidak peduli sama sekali dengan tingkah aku dan James.

__ADS_1


Selang beberapa menit, guru mata pelajaran matematika pun masuk, membuat kami satu kelas menghela napas panjang nan berat, kecuali beberapa siswa yang duduk di barisan paling depan. Well, aku bilang sih si para pencari perhatian!.


-Awne Cn


__ADS_2